
"Ada apa denganmu?" Arif tengah menemani Kesya menghabiskan makan siang di kantin, akan tetapi tanpa sengaja dirinya mendapati wajah gadisnya itu tampak kesal dari rautnya yang tak bersahabat. "Ada yang berani mengganggumu?"
"Dirimu ingat Nadira, kan?"
"Ingat."
"Gadis cupu itu menjebakku pagi tadi. Ia membuat sandiwara dengan pura-pura menangis dan menempatkan aku sebagai tersangka atas apa yang terjadi padanya."
Arif tak dapat menahan keterkejutannya. Dirinya pun merasa kesal dengan apa yang telah diperbuat oleh Nadira. Bagaimana bisa gadis itu menjadi sepemberani ini? Alasan apa yang membuatnya melakukan hal-hal yang jelas akan berimbas buruk padanya? Kesya bukanlah lawannya, Kesya jelas jauh lebih berkuasa daripada Nadira yang jelas bukan siapa-siapa.
"Minta Om Tama untuk mengeluarkannya dari sekolah," celetuk Arif dengan entengnya.
"Aku tidak sebaik itu, Arif. Mengeluarkannya sama saja dengan membalasnya secara halus dan itu tak berarti apa-apa untukku." Seringai mengerikan keluar dari sudut bibir Kesya. Gadis itu tampak merencanakan sesuatu tuk menghancurkan rival sejatinya yang semakin ganas akhir-akhir ini. "Aku hanya akan melakukan apa yang membuatku puas."
"Aku akan mendukungmu."
***
"Proposal sponsor telah disetujui. Beberapa waktu yang lalu pihak sana datang kemari untuk memintamu menandatangani surat ini," Bu Iis memanggil Naufal agar datang ke ruangan untuk memberikan kabar baik.
"Sungguh, Bu? Pihak mana yang menyetujui proposal yang kami buat?"
"Kamu harus bangga dengan usahamu, Naufal. Ada dua produsen yang tertarik pada proposal yang dirimu ajukan. Yang pertama berasal dari perusahaan sepatu lokal, lalu selanjutnya berasal dari produsen kain batik ternama." Bu Iis bangga dengan anak didiknya yang memiliki langkah cemerlang serta otak yang cerdas. "Dan jangan lupa, dirimu pun wajib berterima kasih pada sekretarismu itu."
***
"Aku benar-benar mencemaskan keadaan Farhan saat ini. Dirinya sudah sangat terpukul atas kepergian ayahnya dan sekarang ditambah kondisi ibunya yang semakin memburuk. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana menderitanya Farhan akhir-akhir ini." Nadira meminta Tina agar ikut bersamanya untuk menjauh dari Farhan sebentar. Nadira tidak mungkin menunjukkan rasa ibanya di hadapan lelaki itu secara langsung sebab Nadira tidak ingin Farhan semakin merasa sedih nantinya.
"Tapi aku yakin Farhan merupakan lelaki yang sangat kuat." Tina kembali mematutkan diri di hadapan cermin besar pada toilet siswa. Sesungguhnya hatinya pun semakin terasa sakit jika terus berada di dekat Farhan. Jadi, gadis itu berinisiatif untuk menyertai Nadira untuk pergi sejenak. "Sudah, ayo kita segera keluar."
"Ayo." Nadira menjadi yang lebih dulu keluar dari toilet siswa, dan sesaat setelah itu tiba-tiba saja terdapat sebuah pelukan yang menyambut tubuhnya.
"Nadira, aku sangat bahagia sekarang." Naufal merupakan sosok yang dengan senang hati memberikan pelukannya kepada Nadira. Lelaki itu telah menunggu sekretarisnya sejak beberapa menit yang lalu di luar pintu kamar kecil siswa putri. Dan sekarang penantiannya berakhir dengan kehadiran Nadira yang saat ini telah berada dalam dekapannya. "Aku bahagia karena dirimu, sungguh karena dirimu."
Detik itu juga, jantung Nadira terasa berdetak dengan kencang. Kedua tangannya yang semula hampa, perlahan-lahan mulai naik dan hendak membalas pelukan Sang Ketua Osis yang terasa hangat di tubuhnya. Naufal memberikan Nadira perasaan aneh yang kian menjalar membuat gadis itu tak paham. Semoga bukan berarti apa-apa.
"Karena dirimu, Nadira. Proposal sponsor kita disetujui oleh dua produsen langsung," tuturnya seraya melerai pelukannya pada tubuh Nadira, kemudian memegang kedua bahu gadis itu dan mulai menjelaskan sebab kebahagiaannya saat ini. "Mereka meminta kita untuk memasukkan produk mereka ke dalam pameran, dan kita hanya perlu menandatangani surat perjanjiannya sebelum semuanya menjadi sah."
"Sungguh? Wah, ini benar-benar kabar yang baik."
Sedangkan di sisi lain, Kesya tengah menatap tajam ke arah Naufal dan Nadira. Kekesalannya semakin memuncak, memantik api amarah dalam dirinya yang semula belum apa-apa. Dan kini dirinya bersumpah jika pemandangan di depan matanya itu tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. "Akan aku pastikan ini yang terakhir."
"Jadikan ini yang terakhir untuknya bersenang-senang. Setelah menjebakmu, kemudian mendapat perhatian serta pelukan dari Naufal, dirimu harus memberikan balasan yang setimpa untuk gadis itu dengan segera," imbuh Mora.
"Pasti."