Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 48



Cakrawala kelabu, menurunkan tetes air hujan yang mulanya satu-satu, hingga lambat laun derasnya tampak beradu. Farhan telah membawa Nadira ke rumahnya setelah para pelayat sepakat untuk membubarkan diri masing-masing dari tanah persemayaman terakhir. Tina telah pulang lebih dulu, gadis itu telah dijemput oleh sopir pribadinya beberapa waktu yang lalu. 


Duduk bersila seraya bersandar pada dinding di rumah Farhan yang sederhana, Nadira bersedia memangku kepala Farhan di pundaknya untuk waktu beberapa lama. Setelah menjamu para guru dari sekolah mereka yang melayat, kini rumah Farhan sudah menjadi sepi, sebab tak ada pelayat yang berkunjung lagi. 


Hawa terdiam di kamarnya dan mendiang suaminya. Wanita itu berkabung, keadaannya buruk sekali, hingga terlihat tak berselera memasukkan makanan ke dalam mulutnya walau belum makan apa pun dari pagi hingga sore hari ini. Hawa tidak bisa menjadi penguat untuk putranya, dia juga sama lemahnya, jadi keputusan agar memberi waktu untuk menata diri masing-masing jelas tidak ada salahnya. 


"Aku masih belum ikhlas, Nadira." Farhan terus bergumam seperti itu. 


"Tidak apa-apa, kamu bisa mencobanya lagi." Walau begitu, Nadira juga tidak masalah jika harus memberi semangat pada lelaki itu lagi dan lagi. 


"Aku mau berduka dulu, Nadira." Terus-menerus memberi sugesti pada diri sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini, dan dirinya hanya perlu ikhlas serta menerima semuanya dengan lapang dada, akhirnya Farhan lelah dengan sendirinya. Menyadari bahwa sugesti itu hanya menyakitinya, sebab sulitnya yang tak terkira. Farhan harus menepi sejenak, untuk merenungi dukanya, meratapi dukanya, hanya beberapa waktu saja, pasti kata Nadira tidak apa-apa. 


"Tidak apa-apa. Selagi itu membuatmu sedikit lega, lakukan saja." Nadira tidak pernah menentang. Gadis itu tahu bagaimana sulitnya ikhlas jika saja posisinya sepadan dengan Farhan. 


"Terima kasih, Nadira." Terima kasih untuk pengertiannya, dukungannya, serta kekuatan yang telah diberikannya. Farhan tidak tahu harus membalas dengan apa, kehadiran Nadira benar-benar membantunya untuk lari dari kemungkinan mengalami depresi. 


"Sama-sama." Nadira memberikan penguatan itu secara cuma-cuma. Dia sayang, dan peduli pada Farhan, sebab lelaki itu sahabatnya. 


Naufal dan Wildan tiba di rumah Farhan, mereka berdua hendak ikut berkabung, akan tetapi telah lebih dulu dikejutkan dengan kehadiran Nadira di sana. Bukan kehadiran Nadira tepatnya, tapi bagaimana gadis itu memberikan ruang sandaran untuk Farhan, yang secara tak langsung membuat beberapa prasangka dalam benak dua orang tamu yang baru saja datang. 


"Permisi." Naufal membuka suara, walau rasanya tidak nyaman, seperti sedang mengganggu dua orang yang sedang berpacaran. Namun, pikiran itu segera ditepis oleh Naufal, dia ingat Farhan dan Nadira bersahabat, dan suasana duka seperti ini wajar saja membuat mereka lebih dekat, ini hanya tentang bagaimana Nadira membantu Farhan untuk kuat. 


"Silakan masuk, Naufal, Wildan." Farhan menyambut mereka berdua dengan senyum semu di wajahnya.


Naufal hanya menganggukkan kepalanya pelan, kemudian masuk ke dalam rumah Farhan, di susul dengan Wildan yang sedang menenteng buah tangan. 


"Aku turut berduka, Farhan." Naufal menepuk pundak Farhan, seraya menyunggingkan senyumnya. 


"Terima kasih." Farhan mengangguk. Dia tahu jika hanya ucapan-ucapan seperti itu yang bisa orang-orang berikan untuknya.


"Cepatlah kembali bersekolah, Farhan. Kami menunggu kehadiranmu di sana." Wildan bahkan hanya sekadar mengerti nama Farhan, tidak benar-benar mengenalnya, atau bahkan berteman dengannya. Ucapannya barusan hanya formalitas, dan Farhan tahu itu.