Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 93



Nadira menyelesaikan persiapan dirinya sebelum berangkat ke sekolah tepat pukul setengah tujuh. Rencananya ia akan menaiki angkutan umum sebab ayahnya telah berangkat kerja lebih dulu pada lima belas menit yang lalu. Pagi ini, ia yakin jika Naufal tidak akan datang untuk menjemputnya. Namun, ketika ia melihat ke arah ruang tamu, di sana ibunya telah duduk membersamai sang ketua osis yang entah sejak kapan lelaki itu datang.


"Nadira, kamu berdandan sangat lama sekali. Tadinya, Ibu ingin memanggilmu, tetapi Naufal melarang, dia tidak ingin membuatmu terburu-buru," ucap Yuliana.


"Jadi, dia sudah lama menunggu Nadira, Bu?" tanya Nadira tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya pada sang ketua osis.


Yuliana mengangguk-angguk. "Sekarang kalian cepatlah berangkat, atau nanti akan terlambat," pesannya.


Naufal yang awalnya terpaku membalas tatapan Nadira, kini pandangannya telah beralih berganti kepada Yuliana. "Ya sudah, Tante. Terima kasih banyak atas sambutannya, serta secangkir teh hangatnya. Saya dan Nadira pamit berangkat ke sekolah dulu," ucapannya seraya mencium punggung tangan Yuliana. "Ayo, Ra," imbuhnya mengajak.


Nadira lekas menyusul mencium punggung tangan Yuliana dan segera menyusul langkah Naufal yang telah sampai di pekarangan rumahnya.


"Pakai helmnya dulu, Ra," titah Naufal sembari mengulurkan sebuah helm kepada Nadira.


"Naufal, aku minta maaf soal kemarin." Nadira tak dapat menganggap sepele perdebatan yang terjadi di rumahnya semalam. Rasa bersalahnya terhadap sang ketua osis masih bercokol dan sangat mengganggu sekali. Ditambah kesediaan lelaki itu untuk tetap menjemputnya seperti saat ini justru semakin menyiksa perasaan Nadira yang sejak awal sudah tidak dalam keadaan baik. "Mau bagaimanapun juga, perselisihan kemarin terjadi di rumahku, di hadapanku, dan melibatkan Farhan sahabatku."


"Dirimu sama sekali tidak bersalah, Nadira. Dirimu tidak boleh meminta maaf atas apa yang terjadi tanpa kesalahanmu sendiri. Lupakan saja soal semalam, dan kita fokus pada tujuan kita sekarang. Memikirkan hal yang tidak penting seperti itu jelas hanya akan merugikan waktu kita yang jauh lebih berharga," terang sang ketua osis dengan lugas. "Lebih baik kita berangkat sekolah sekarang. Tidak perlu kita ungkit kembali tentang itu."


***


Di bangkunya, Farhan hanya meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Benak lelaki itu masih membayang pada kejadian semalam, kejadian yang secara sadar mengerahkan hampir seluruh emosinya untuk menguasai keadaan. Lelaki itu tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kemarahannya tak hanya tentang waktu belajar kelompoknya yang terganggu oleh kedatangan Naufal, melainkan juga ada hal lainnya, sesuatu hal yang justru menjadi pemicu besar dari kekesalannya terhadap sang ketua osis.


"Pagi, Farhan." Tina datang dan lekas mengambil duduk di bangku sebelah Farhan. Gadis itu menyempatkan diri untuk menyapa sekaligus menepuk bahu bidang sahabatnya tersebut. "Apa keadaanmu baik?"


Farhan langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Tina. "Keadaanku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku merasa tubuhku cukup pegal dan lelah sekali. Karena kita pulang terlalu larut semalam," keluh gadis itu.


Kemarin malam Farhan dan Tina bertahan di kediaman Nadira hingga pukul sebelas malam tepat. Banyak sekali tugas yang mereka selesaikan bersama dengan bertukar pikiran serta membaca materi dari buku. Kegiatan belajar kelompok kemarin berlangsung dengan kebisuan yang lebih mendominasi meski sesekali mereka berdiskusi. Mereka bertiga hanya mengeluarkan suara jika benar-benar diperlukan saja.