
Nadira dan Kesya saling melemparkan tatapan tajam penuh kebencian. Mereka sedang berada di kantin, dan duduk pada kursi pelanggan yang berbeda, serta berjauhan. Nadira bersama Tina berada di meja pelanggan bagian sudut selatan, dan Kesya bersama kedua sahabatnya, Yustin dan Mora, berada di sisi yang berlawanan.
"Nadira!" Dari kejauhan Naufal telah tergopoh-gopoh hendak menghampiri Nadira. Sontak saja netra Kesya tertuju pada gerak Sang Ketua Osis yang semakin mendekat ke arah rivalnya. Hati Kesya panas, dia tidak terima, jika Naufal memberikan posisi spesial untuk Nadira.
"Naufal, kemari!" Nadira memancing amarah Kesya dengan melambaikan tangannya disertai senyum manis di wajahnya untuk menyambut kedatangan Naufal. Nadira cantik sekali, dan Kesya menyadari jika kini Nadira sungguh-sungguh menjadi saingannya. "Ada apa, Naufal?" Nadira mendongakkan kepalanya seraya sedikit memiringkannya untuk menyasar wajah Naufal yang jauh lebih tinggi di sampingnya. Gadis itu benar-benar memberikan perhatian khusus untuk Naufal, dia sungguh-sungguh menunjukkan kebolehannya memikat hati Sang Ketua Osis.
"Kita harus menyetorkan proposal pada Bu Iis." Naufal dan Nadira tidak jadi menyetorkan proposalnya kemarin, karena ada berita duka dari Farhan, pengajuan proposal itu diundur menjadi hari ini.
"Proposal kemarin kutaruh di tas. Sekarang aku sedang menunggu pesananku." Nadira melirik ke arah Kesya, dia melihat rivalnya itu semakin menatapnya dengan tajam, Kesya sedang cemburu, dan itu memberikan Nadira skor satu. "Kita makan dulu, Naufal. Mau kupesankan?" Nadira memegang tangan Naufal, menuntun lelaki itu agar duduk tepat di hadapannya.
"Terima kasih, Nadira. Biar aku memesannya sendiri." Kemarin Nadira tidak seperti ini, Naufal masih ingat. Akan tetapi, Naufal juga senang jika dirinya bisa sedekat ini dengan Nadira, gadis yang sangat disukai adiknya.
"Oh, baiklah." Setidaknya Nadira sudah lebih unggul sekarang. Membawa Naufal duduk di hadapannya, dekat dengannya, sudah cukup membuat Kesya memanas.
Tina yang sejak tadi memperhatikan, kini memberanikan diri untuk menyikut lengan Nadira, kemudian berbisik. "Kamu menjalankan saranku?" Tina terkejut, ternyata Nadira bisa berubah sangat drastis seperti yang sekarang ini. Nadira, sahabatnya, kini secara perlahan memiliki sisi antagonis, sesuai dengan saran yang diberikannya waktu itu.
"Berhasil, Naufal jauh lebih menerima dirimu, daripada Kesya." Masih dengan berbisik, Tina mengatakan apa yang ada di penglihatannya.
"Mas!" Naufal melihat seorang lelaki muda yang menjadi pelayan di kantin tersebut, datang menghampirinya, untuk memenuhi panggilannya. "Saya pesan dua roti bakar rasa cokelat, sama minumnya kopi hitam."
"Baik, silakan ditunggu." Setelah mencatat pesanan Naufal, pelayan tersebut segera kembali ke gerai untuk menyiapkan menu yang diinginkan Sang Ketua Osis.
"Oh, ya. Kalian berdua pesan apa?" Naufal beralih menata Nadira dan Tina secara bergantian. Duduk bersama seperti itu, jelas mewajibkannya untuk melakukan perbincangan ringan.
"Kami pesan roti isi dengan susu kedelai." Nadira yang menjawabnya, mewakili Tina juga.
"Apa Farhan masuk sekolah hari ini?" Naufal ingat, saat dirinya pamit dari rumah Farhan kemarin, ternyata Nadira memutuskan untuk tetap tinggal beberapa waktu di rumah lelaki tersebut, dan berniat untuk lebih lama lagi menemani Farhan yang sedang berduka itu.
"Tidak. Kurasa dia masih berduka, dia masih membutuhkan waktu untuk ikhlas, hari kemarin tidak mudah untuk diterimanya begitu saja." Nadira sangat mengerti rasa itu. Dia memang tidak pernah mengalaminya, hanya saja dia sudah cukup tau bahwa kesedihan itu, memiliki sumber yang sangat memilukan, dan mengikhlaskan duka sesakit itu, sungguh tidak mudah.