
Pertandingan berakhir 4-2, kemenangan di pihak tuan rumah. Ya, tim Randy memenangkan pertandingan itu. Seluruh penonton dari sekolah mereka bersorak kegirangan karena mampu mengalahkan tim sekolah lain yang memang termasuk salah satu tim basket handal di kota itu.
“Selamat..pertandingan yang menyenangkan. Lo kapten yang hebat!” Seru Jhones sembari menyalami Randy.
“Trims...permainan lo dan tim juga bagus..gue senang dapat lawan yang sebanding.” Ucap Randy menyambut uluran tangan Jhones.
Sementara itu, Viena berjalan keluar dari lapangan. Seakan tak memperdulikan sekitarnya yang begitu ramai dipenuhi para pendukung pertandingan yang masih sibuk membicarakan jalannya pertandingan yang telah berakhir.
Ia berjalan menuju ruang ganti, Randy pasti sudah berada disana pikirnya.
Dalam perjalanan keluar, Jhones menghentikan Viena.
“Hai, selamat ya atas kemenangan tim sekolahmu. Tapi kenapa kamu kelihatan tidak senang? Tidakkah kamu bangga tim sekolahmu telah mengalahkan kami hari ini?”
Viena hanya menanggapi ucapan Jhones dengan tersenyum.
Pikirannya sama sekali tidak tertarik dengan pertandingan konyol itu. Ia berada disini hanya karena ingin menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Randy.
“Maaf, jika kamu tidak menyukai keberadaanku disini..aku hanya ingin menyapamu saja,”timpal Jhones tiba-tiba.
“Tidak, tidak ada masalah. Aku baik-baik saja. Hanya saja ada sesuatu yang begitu mengusik pikiranku sekarang.”
“Baiklah Vien, tidak masalah. Jika kamu butuh teman untuk bicara, aku siap mendengarkanmu.”
Balas Jhones cepat.
Viena hanya mengangguk pelan lalu perlahan berjalan menjauh meninggalkan Jhones.
Beberapa langkah lagi, Viena akan sampai di ruang ganti. Namun, Randy sudah berdiri tepat didepannya. Viena sedikit terkejut dengan kehadiran Randy yang tiba-tiba.
Sebelum Viena sempat melanjutkan, ia merasakan tangan Randy menyentuh pipinya perlahan. Hangat..sentuhan itu begitu hangat sehingga membuat Viena memberanikan diri menatap Randy.
“Ada apa sebenarnya Vien?” Apa yang terjadi padamu belakangan ini?”
Viena merasakan kekhawatiran dalam nada suara Randy.
“Aku...aku…,” sebelum Viena menyelesaikan kata-katanya, Randy meraih Viena dalam pelukannya. Dada Viena bergemuruh hebat. Sungguh ia merasa ingin menangis. Matanya terasa panas dan dadanya sesak. Ia begitu merindukan pelukan ini. Ia tidak tahu pelukan Randy bisa senyaman ini. Viena berusaha menahan air matanya, tapi ia tak sanggup. Ia pun menangis di pelukan Randy.
Randy semakin mempererat pelukannya,dan membelai lembut rambut Viena untuk menenangkannya.
“Vien, tolong jangan menangis. Aku tidak sanggup melihatmu sedih seperti ini. Tolong bicara padaku, sebenarnya ada apa?”
Randy melepaskan pelukannya, disekanya air mata Viena.
“Hei..sayang...tahu ga, kalau kamu nangis, kamu tuh jelek banget..”ucap Randy menggoda Viena.
Viena mulai bisa tersenyum.
“Udah, sekarang kita balik yuk. Nanti kita bicara lagi. Tapi janji, kamu jangan menangis lagi.”
Viena mengangguk pelan. Ia membiarkan saja saat Randy menggenggam tanggannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
Tidak jauh dari tempat mereka, Jhones menatap semuanya. Ia tidak suka melihat Randy memeluk Viena. Matanya mengikuti kepergian mereka dengan tatapan jengkel. Ia tidak tahu, entah sejak kapan ia menjadi terlalu peduli pada Viena. Apa karena belakangan mereka sering bertemu? Atau karena ia merasa kasihan padanya? Benarkah ini hanya sebatas rasa iba? Apa mungkin ia mulai memiliki rasa pada gadis itu?
Belakangan Viena selalu memenuhi pikirannya. Jhones terlalu penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi pada Viena. Ia menjadi sangat ingin tahu.