
"Di mana dirimu membeli semua bahan-bahan ini? Apakah ada pada satu toko yang sama?" tanya Tina basa-basi kepada Adiyasta.
"Tidak." Adiyasta menggelengkan kepalanya. "Aku harus mendatangi beberapa toko yang berbeda untuk mendapatkan barang-barang ini. Aku juga sempat kesal karena beberapa dari barang ini tidak dapat dibeli dalam jumlah satuan. Aku harus membelinya sekaligus satu kodi. Seperti benang-benang ini."
"Tidak apa. Semoga saja karya-karyamu lolos untuk dipamerkan, sehingga benang-benang itu dapat digunakan untuk membuat karya selanjutnya." Kali ini Tina mengatakannya dengan sungguh tanpa niat berbasa-basi. Ia menginginkan Adiyasta berhasil lolos dan mengikuti pameran seperti yang diimpikan lelaki itu. "Jangan lupa menghubungiku jika membutuhkan bantuan. Tentu, membuat karya dalam jumlah banyak tidak dapat dirimu lakukan berdua saja dengan Farhan."
"Sudahlah, Tina. Berhenti terlalu peduli dengannya, atau lambat laun dia akan menaruh hati sekaligus menaruh harapan kepadamu," sahut Farhan dengan cepat. "Dan itu akan menjadi urusan yang sangat-sangat rumit nantinya."
"Hei, aku tidak seperti yang dirimu katakan, ya! Mengapa dirimu rusuh sekali? Merusak kebahagiaan orang saja," protes Adiyasta sembari mengambil kepala Farhan untuk diapit pada ketiaknya. "Tetapi jika Tina mengizinkan, siapa yang tidak mau menaruh hati kepadanya?" imbuhnya cengengesan.
"Dasar, lelaki gemar modus!" Kini giliran Farhan yang mengapit kepala Adiyasta di ketiaknya. "Tidak akan aku biarkan Tina jatuh hati kepada lelaki maniak wanita sepertimu!"
"Hei, jangan asal menuduh seperti itu!"
Menyaksikan pergulatan antara Farhan dan Adiyasta agaknya menjadi hiburan tersendiri bagi Tina. Gadis itu tertawa senang, seolah menemukan mainan kesayangannya yang telah lama hilang. Kepenatan yang ia bawa dari rumah, berhasil lebur, binasa, dan hilang entah ke mana. Dia benar-benar bersyukur dapat menjadi bagian dari Farhan, atau mungkin sebentar lagi juga Adiyasta.
"Farhan, Tina."
"Boleh aku berbicara dengan kalian berdua?"
Seakan tanggap dengan situasi tersebut, Adiyasta lekas mengemasi barang-barangnya. "Rupanya kalian benar-benar sedang ada kepentingan. Kalau begitu aku pamit pulang terlebih dahulu. Nanti malam aku akan kembali ke sini, dan memintamu untuk membantuku lagi," ucapnya tertuju kepada Farhan.
"Maaf untuk saat ini, Adi. Aku berjanji, nanti malam akan membantu prakaryamu dengan sungguh-sungguh," jawab Farhan yang lebih memilih merespons ucapan Adiyasta, daripada seseorang yang sebelumnya telah lebih dulu mengajaknya bicara.
"Santai saja, Sob. Aku akan undur diri kali ini, tetapi nanti aku akan terus mendatangimu berkali-kali." Adiyasta tertawa. Ia merasakan adanya ketegangan di sekitarnya terutama setelah kedatangan seorang lelaki lain di sana. "Selesaikan urusan kalian dengan cepat. Aku memberikan tenggat sampai maksimal pukul tujuh malam tepat. Aku pergi dulu."
Farhan tak mengatakan apa pun sampai punggung Adiyasta benar-benar menghilang dari pandangan. Ia membiarkan tamunya yang baru saja datang berdiri mematung tak jauh dari posisinya. Ia pun tak lekas menjawab perkataan lelaki itu, meski ia tahu bahwa jawabannya sedang ditunggu.
"Aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf kepada kalian, atas perdebatan-"
"Penghinaan," potong Adiyasta dengan cepat. Ia menatap nyalang ke arah Naufal yang kehadirannya sama sekali tidak diinginkan. "Dirimu menghinaku dan Tina. Apakah dirimu lupa?"