Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 133



Agenda mengisi daftar hadir itu berjalan dengan baik hingga sampai barisan terakhir. Di waktu yang bersamaan, Naufal dan Wildan baru saja tiba di tempat dengan air muka penuh tanda tanya. Mereka melihat Nadira dibalik meja itu kelimpungan mengurus setumpuk kertas absensi.


"Nadira, di mana Kesya dan Arif? Seharusnya mereka datang lebih dulu karena ini adalah tugas mereka." Naufal buka suara. Keterlambatannya itu memang karena ada urusan penting mengenai adiknya di tempat penitipan anak. "Mereka berdua yang bertugas menangani kegiatan hari ini. Sesuai kesepakatan kemarin, aku, dirimu, dan Wildan hanya mengawasi saja. Namun, mengapa aku tidak melihat mereka berdua sekarang?"


Apa yang Naufal katakan memang benar. Agenda hari itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Arif dan Kesya yang telah unjuk gigi menyanggupinya. Kesya sebagai koordinator umum seluruh jajaran sie, mengaku akan memerintah sie pemasaran untuk turun tangan membantu kegiatan penyeleksian kandidat tim promosi. Namun, fakta yang didapat hari itu justru mematahkan kepercayaan sang ketua osis terhadap Kesya dan tak luput juga terhadap Arif.


"Aku sengaja datang terlambat, karena aku harus mengantar Kakekku mengambil obat di puskesmas. Aku berpikir, hari ini tugasku tidak banyak," ucap Wildan menyampaikan urgensinya.


"Jika tahu Kesya dan Arif akan datang sangat-sangat terlambat seperti ini, aku tidak akan biarkan dirimu melakukan semua ini sendiri." Tiba-tiba saja Naufal merasa bersalah sekali. Belum benar-benar selesai permasalahannya dengan gadis itu, datang lagi perkara yang satu ini. "Dua orang itu harus dihukum atas kelalaiannya, karena ulahnya dirimu benar-benar dirugikan."


"Naufal, sudah." Nadira baru saja mendapatkan kesempatan untuk membuka suara, setelah mendengar omelan Naufal yang berkemungkinan tidak ada habisnya. "Aku melakukan semua ini tidak sendirian. Ada Tina dan Farhan yang membantuku. Jadi, berikan imbalan kepada mereka atas apa yang telah dilakukannya." Sesaat setelah mengatakan itu Nadira lekas pergi. 


Percakapan Naufal dan Wildan itu tidak berlangsung lama. Perhatiannya keduanya seketika terpusat pada kedatangan Arif dan Kesya yang menaiki kuda besi berboncengan. Melihat itu rasanya amarah Naufal digodok, mendidih, hingga memberikan letupan-letupan. Tanpa pikir panjang, lelaki itu lekas menghampiri Arif dan Kesya di tempat parkir.


"Bagus! Bagus sekali kalian datang dua jam setelah waktu kesepakatan! Itu adalah keterlambatan yang perlu untuk diberi tindakan. Jadi, kalian meminta hukuman apa?" Tidak ingin bertele-tele. Naufal langsung menyampaikan maksudnya tanpa aling-aling.


Mendapati penyerangan itu, spontan Arif menyembunyikan Kesya di balik tubuhnya untuk melindunginya. "Kami ada urusan yang benar-benar mendadak dan ini sifatnya sangat penting sampai-sampai kami melupakan adanya agenda pada hari ini."


Mendengar itu Naufal sontak tertawa. "Lupa katamu? Bukankah segala alur kegiatan ini adalah gagasanmu? Bagaimana bisa dirimu lupa dengan semudah itu?" Naufal bergerak mendekat pada posisi Arif dan Kesya. Ia ingin sekali mencabik-cabik wajah dua orang pendusta itu saking kesalnya.