
"Non Tina," sapa seorang asisten rumah tangga, dengan kelembutan suaranya. "Makan siang sudah siap, Non," sambungnya.
Sebuah buku antologi puisi yang dibaca oleh Tina, tampaknya harus tergeletak tertinggal sejenak, sesaat sang empunya pergi melahap makan siang. Seorang asisten rumah tangga, sekaligus seorang 'Ibu Bayaran' yang telah mengasuh Tina sejak kecil, demi mendapatkan sebuah upah, agaknya tak pernah mengurangi perhatiannya pada Tina walau gadis tersebut telah beranjak remaja.
"Bunda belum pulang, Bi?" Tina mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang selalu meninggalkan rumah sepanjang waktu. Walau sudah tahu begitu, tetap saja Tina menanyakan keberadaannya, entah untuk formalitas atau sungguh-sungguh karena perasaannya.
"Nyonya besar baru saja pergi keluar beberapa menit yang lalu, Non." Asisten rumah tangga tersebut menghidangkan bermacam lauk pauk hingga meja makan tersebut hampir penuh dengan sajian yang belum tentu dihabiskan.
Tina mengembuskan napasnya dengan kasar. Mengingat keluarganya yang tidak pernah lengkap, hingga setiap momen hanya dilaluinya dengan kesepian. Sungguh Tina merasa nelangsa setiap waktu.
Tiba-tiba saja gawai Tina bergetar. Langsung saja gadis tersebut meraih Sony Ericsson F100i (Jalou) yang berada tak jauh di sekitarnya. Dia melihat kontak ayahnya melakukan panggilan padanya. Terbesit beberapa rasa yang bercampur aduk, hingga tidak ada satupun yang dapat mewakilinya. Kerinduan, kebencian, rasa berharap, dan kekecewaan, menjadi satu di sana, sampai-sampai netra Tina berkaca-kaca dibuatnya.
"Halo, Ayah." Tina menyapa ayahnya, dia dekatkan gawai tersebut pada telinga kanannya, dan suara di seberang sana tampak riang langsung menyahutnya.
"Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu, Nak?" Seorang pria di jauh sana tampak antusias kala mendengar suara putrinya. Menyenangkan dan melegakan, mungkin perasaan itu yang dialami pria tersebut.
"Tina tidak pernah baik, Ayah. Sejak dulu hingga sekarang," batin Tina seperti itu, yang sebenarnya seperti itu, akan tetapi Tina tidak menjawabnya seperti itu. "Baik, Ayah. Bagaimana dengan Ayah?" Itulah jawaban yang keluar dari mulutnya, penuh dusta, dan itu yang sering dia lakukan untuk menutupi perasaan yang mungkin tidak akan ada yang memahaminya.
"Terakhir kita menelepon adalah dua bulan yang lalu. Maafkan Ayah yang sangat sibuk sekali, sekarang," jawab pria tersebut.
Dua bulan yang lalu. Suatu panggilan yang memberikan kekecewaan pada Tina, sebab harapannya berakhir tidak sesuai keinginannya. Walau begitu, Tina tetap terus berharap pada ayahnya, tanpa peduli jika dia akan jatuh kecewa kembali, karena dia tahu bahwa hal tersebut adalah risiko yang akan dia dapatkan jika berharap berulang kali.
"Sayang," ucap pria tersebut memanggil Tina sebab gadis itu diam saja dalam teleponnya.
"Iya, Ayah." Lamunan Tina buyar, gadis tersebut kembali pada kenyataan. Kenyataan yang hampir tidak ada bedanya dengan jalan pikirannya barusan.
"Apa kamu menginginkan sesuatu, Sayang? Ayah akan mengirimkan uang saku untuk bulan ini dan bulan kemarin ke rekening kamu, ya," ucap pria tersebut membuat keputusan sendiri.
"Katakan, Sayang," pinta pria tersebut.
"Kembalilah bersama Bunda, Yah. Pulanglah ke rumah, dan kita bersama-sama lagi," jawab Tina dengan suara yang terdengar lemah. Sesaat setelah mengatakan permintaannya, secara langsung dadanya terasa sesak, hingga tanpa disadari olehnya jika pipinya telah basah sebab air matanya.
Permintaan yang sederhana. Tina hanya meminta itu kepada kedua orang tuanya. Namun mengapa rasanya begitu sulit untuk dipenuhi? Mengapa permintaan tersebut menyandang nominasi permintaan tersulit di dunia? Tina ingin harapannya terwujud, dia berhak merasakan kebahagiaan keluarga yang utuh, dan dengan itu Tina akan benar-benar bersyukur.
"Sayang." Suara pria tersebut juga melemah, sepertinya sesak juga menekan ulu hatinya.
Apakah hal tersebut telah impas bagi Tina? Sungguh hal tersebut belum impas, kala mengingat masa kecilnya yang diiringi pertengkaran kedua orang tuanya. Lalu masa-masa yang seharusnya menyenangkan baginya, serta mendapatkan kasih sayang yang berlimpah tak bersyarat dan tak menuntut imbalan dari kedua orang tuanya, naasnya Tina tidak mendapatkan hal tersebut. Tina ingat jelas bahwa Hadi, ayahnya, dan Wulan, ibunya, telah resmi berpisah saat dirinya berusia tujuh tahun. Saat itu Tina cukup mampu memahami keadaan. Kenyataan yang menyakitkan untuk dipahami oleh gadis kecil berusia tujuh tahun, apakah itu adil?
"Tina hanya inginkan itu, Yah." Ada jeda pada ucapan Tina. "Sungguh hanya itu," imbuhnya.
"Sayang, kamu tahu jika Ayah dan Bunda sudah masing-masing sekarang. Kita sudah bahas tentang ini berulang kali, dan seharusnya kamu dapat memahaminya." Hadi berusaha mencoba memberikan pengertian untuk Tina, akan tetapi apakah hal tersebut dapat diterima oleh Tina? Apakah seorang gadis dengan lingkup keluarga yang berbeda dengan temannya, sanggup menerima ketidakadilan ini?
"Apa Tina terlalu egois untuk menuntut hak Tina, Yah? Apakah salah jika Tina meminta apa yang sudah seharusnya dimiliki anak-anak di dunia?" Tina terisak, suaranya terdengar parau, akan tetapi dia akan berusaha mengatakan semuanya dengan jelas.
"Sayang." Hadi hendak menyangkalnya, akan tetapi alasan apa yang mampu ia katakan dengan kondisi sebenarnya sekarang?
"Iya Tina egois, Yah. Perpisahan kalian berdua adalah kebahagiaan kalian berdua." Sedikit kelegaan terasa saat Tina berhasil mengucapkan apa yang dipendam olehnya. "Tina tidak boleh egois untuk meminta hak Tina dan kewajiban kalian berdua. Tina tidak boleh egois untuk semua itu," ucapnya mengakhiri seraya memutuskan sambungan teleponnya.
Tina menangisi banyak hal. Menangis karena tak kunjung ikhlas atas perpisahan kedua orang tuanya. Menangis karena tidak berhenti berharap atas suatu hal yang sangat sukar untuk didapatkannya. Seharusnya dirinya dapat memahami keadaan, bahwa dirinya berbeda. Haknya dan kewajiban orang tuanya, tidak akan menjadi hiasan rumah megah bak istana tempatnya tinggal. Tina harus paham jika bukan hanya kedua orang tuanya yang hidup secara masing-masing, akan tetapi dirinya juga. Ibunya yang kerap kali meninggalkan rumah, dan ayahnya yang tak mungkin menginjakkan kaki di rumah tersebut, secara tidak langsung telah menggambarkan kenyataan bahwa Tina juga hidup sendiri sekarang.
Apakah menyakitkan? Jika Tina kuat menjelaskannya, maka dia akan jabarkan bagaimana rasa sakitnya. Saat sarapan bersama di rumah Nadira, dia mendapatkan sesuatu yang sangat ingin dia rasakan sejak dulu, dan Tina sangat bersyukur, karena setidaknya dia dapat merasakan kehangatan keluarga walau bukan dengan keluarganya sendiri. Katakan saja Tina itu miskin, hingga dia mendapatkan kebahagiaannya dari orang lain, sebab orang-orang yang menjadi bagian hidupnya tak mampu memberikan kebahagiaan tersebut padanya.
"Bahkan aku tidak pernah egois selama ini. Aku hanya meminta sesuatu yang telah menjadi hak untukku sejak dulu, akan tetapi kenyataannya tidak selalu aku dapatkan." Tina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membiarkan kulit halus telapaknya menjadi basah karena air matanya. Tina membutuhkan ketenangan batin, dan menangis adalah salah satu caranya.