Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 65



Sore itu Arif meminta Kesya untuk menemaninya berlatih basket di lapangan taman kota. Pria itu ingin sedikit memberikan hiburan kepada Kesya, sebab ia tahu bahwa gadis itu sedang dirundung kesal.


"Kesya! Kalau bola ini masuk, aku mau kamu berteriak kencang memberiku apresiasi!" pinta lelaki itu memekik.


Kesya lantas menganggukkan kepalanya. Baginya, melakukan hal itu bukanlah suatu yang sulit menurutnya. "Maka jadikan skor itu sebagai persembahan untukku, Arif!" pekik gadis itu tak kalah kencangnya.


Arif menyanggupinya dengan cepat. Ia menggiring bola basket itu dengan sangat piawai hingga dapat mencetak skor satu dengan mudah. "Untukmu, Kesya!"


Sontak Kesya bertepuk tangan dengan kencang serta memekik, "terima kasih, Arif!"


Pemandangan yang sangat indah, bukan? Andaikan mereka berdua adalah sepasang kekasih, maka dapat dipastikan momen yang baru saja berlalu akan menjadi hal manis yang mereka lalui. Namun, lagi-lagi kenyataan yang mereka tampik bersama sejenak mampir memberi denyut nyeri berarti.


"Minum?" Kesya menyodorkan sebotol air mineral ketika Arif berlari menghampirinya.


"Apa kamu lapar? Kita hanya melewatkan makan siang dengan roti, dan saat ini aku merasa sangat membutuhkan nasi untuk mengisi perut," jawab Arif seraya menerima sebotol air mineral yang baru saja Kesya berikan kepadanya.


"Kita akan makan nasi setelah ini," ucap Kesya dengan tangan kanannya yang terangkat, menyeka bulir-bulir keringat pada dahi Arif. "Maafkan aku karena membuatmu kelaparan," imbuhnya.


Arif merasakan sekujur tubuhnya membeku. Perhatian Kesya tadi membuatnya seketika terlena dan tak ingin cepat-cepat menyudahinya. Lantas ia segera menjemput keberadaan tangan Kesya tersebut untuk menggenggamnya. "Dirimu membuat tangan lembut ini kotor," ucapnya sembari mengusap-usap tangan Kesya untuk menghapus noda keringatnya di sana.


Kesya segera mengambil tangannya sembari menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Bahkan dengan cara ini pun aku tak berhasil membuat hati ini mencintaimu," sesalnya.


Arif sama sekali tidak mengira bahwa Kesya akan berkata demikian. Ia telah tertipu dengan prasangkanya yang mengaku jika Kesya telah sedikit jatuh hati kepadanya. Hanya sedikit saja padahal, tetapi itu pun tidak terwujud.


Arif menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Seharusnya kita tidak perlu membahas ini, Kesya. Aku telah sepakat dengan cinta ataupun tidak darimu, aku akan tetap membersamaimu. Jadi, kumohon jangan berusaha membuatku menyesal karena bertahan bersamamu sampai saat ini."


Justru Kesya yang amat mengharapkan hal itu. Ia ingin Arif membencinya, tidak menyukainya, dan berakhir pergi meninggalkannya. Namun, nyatanya lelaki itu amat kuat berpegang teguh pada pendiriannya, dan Kesya sangat menyayangkan fakta tersebut.


***


Sampai di Tempat Penitipan Anak yang di mana Fauzan berada. Naufal terlihat berbincang ramah dengan seorang pemilik yayasan tersebut sebelum menanyakan keberadaan adiknya untuk ia bawa pulang.


"Semakin hari Fauzan semakin pintar. Ia dapat melalui seluruh kegiatan pembelajaran dengan baik, ditambah ia pun begitu berjiwa sosial sekarang ini." Pemilik yayasan itu berujar dengan bangga. "Tadi, ada salah satu temannya yang terjatuh dan mengalami memar di lututnya, dan dengan sigap Fauzan membantunya dengan meminta kotak P3K pada kami untuk mengobati luka temannya itu. Aksi tersebut benar-benar membuat kami kagum, dan saya harap Anda dapat memberikannya apresiasi setelah ini," imbuhnya.


Naufal tidak dapat menyembunyikan perasaan bangganya terhadap apa yang telah Fauzan lakukan. Ia semakin tidak sabar untuk menemuinya dan mengajaknya untuk makan es krim banyak-banyak.


"Namun, saya perlu menyampaikan bahwa hari ini keadaan tubuhnya sedang tidak baik. Dia demam dan tidak kunjung turun meski kami tadi telah membawanya ke klinik," ucap pemilik yayasan itu dengan raut wajah yang berubah. "Kami berharap Anda berkenan merawatnya untuk beberapa hari sampai tubuhnya benar-benar sehat, sebab Dokter mendiagnosa Fauzan mengalami dehidrasi dan daya tahan tubuhnya sedang tidak baik."


Naufal cepat-cepat mengurungkan niatnya untuk membawa Fauzan membeli es krim. Ia menyesal sebab telah beramah-tamah cukup lama dengan pemilik yayasan hingga mengabaikan keadaan adiknya. "Kalau begitu saya ingin segera bertemu dengan adik saya, Bu," ucapnya.


"Baik, mari ikut saya. Ia sedang dirawat di dalam sembari menunggu Anda menjemputnya." Pemilik yayasan itu bergegas masuk ke dalam ruangan di mana Fauzan berada.


Naufal pun segera mengikutinya sembari menggandeng tangan Nadira agar mengekor di belakangnya. Ia sangat mengkhawatirkan adiknya sekarang. Ia akan kehilangan berisiknya ocehan tak bermutu Fauzan dalam beberapa waktu. Ia pun akan kehilangan aksi jahil lelaki cilik itu, dan tunggu saja bagaimana Naufal akan merengek merindu akan kebiasaan-kebiasaan jagoannya tersebut.