
"Dia harus mandiri, Hadi! Dia sudah besar, dan dia tidak boleh menjadi anak manja seperti didikanmu!" Dania memekik tak ingin kalah. "Lagi pula dia berada di rumahku. Jadi, sudah seharusnya ia tunduk patuh dan berbakti kepadaku, ibu kandungnya," tegasnya.
"Kalau begitu aku akan membawanya bersamaku," ucap Hadi yang seketika membuat Dania panik. "Seorang anak tidak hanya dididik untuk tunduk dan patuh kepada orang tuanya. Dia juga harus mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya sebagai haknya."
Sebenarnya telah sejak lama Hadi menginginkan Tina ikut bersamanya, tinggal dengan istri barunya serta anaknya yang lain. Namun, Dania selalu menentang, tidak pernah mengizinkan. Wanita itu hanya memiliki Tina yang tersisa di hidupnya, tetapi tak dapat memelihara putrinya itu layaknya anak-anak pada umumnya.
"Dia akan bersama ibu tirinya, di sana. Dia tidak akan pernah setuju," jawab Dania.
"Dia akan lebih bahagia bersamaku, Dania. Ibu tirinya adalah wanita yang baik dan lembut. Dia akan memperlakukan Tina layaknya putri kandungnya sendiri," terang Hadi.
Dania kembali menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan membiarkan Tina meninggalkannya meski bersama ayah kandungnya sendiri. Tina adalah miliknya, putri semata wayangnya, dan kesayangannya. Hanya saja selama ini Dania terlalu gengsi. Wanita itu tidak secara terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya, tetapi fasilitas yang diberikannya menjamin kehidupan anak gadisnya sejahtera dan aman.
"Seburuk-buruknya aku, akulah ibu kandungnya, dan sebaik-baiknya wanita itu, dia adalah ibu tirinya. Tina akan tetap memilihku, Hadi. Tidak akan ada yang bisa lebih mengerti Tina kecuali aku."
Dania melangkah menghampiri Hadi. Wanita itu mengikis jarak yang awalnya ia ciptakan sendiri. "Tahu apa dirimu tentang kasih sayang? Dirimu hanya memberinya uang saku setiap bulan, dan sisanya akulah yang berperan. Aku menjamin hidupnya aman, aku menjamin segala kebutuhan serta keinginannya terpenuhi, dan aku hanya menuntutnya untuk mandiri, bukannya tak memberikannya hak kasih sayang seperti teman-temannya." Kemudian Dania berbalik badan seraya bersedekap. "Dia harus menjadi perempuan yang berdaya, perempuan yang berdikari, dan tidak akan tumbang ketika orang disayanginya pergi meninggalkannya."
Hadi tertampar mendengar penuturan Dania yang demikian. Wanita yang sempat dipersuntingnya itu bukanlah sosok yang biasa. Dia begitu mandiri, tangguh, dan sangat tegas. Berbeda dengan istrinya yang sekarang, seorang yang lembut, dan kerap bermanja-manja dengannya. Namun, meski dengan segala kualitas yang Dania junjung itu nyatanya tak membuat Hadi menetap. Pria itu menceraikan ibu kandung Tina setelah isu perselingkuhannya hingga menghamili wanita yang kini menjadi istrinya diketahui oleh Dania beserta keluarga besarnya.
"Jika di luar sana seorang ayah adalah cinta pertama putrinya, maka dirimu adalah patah hati pertama bagi Tina. Dirimu meninggalkan aku dan Tina meski nafkahmu tak pernah terputus hingga saat ini." Dania kembali menghadap Hadi. Wajahnya yang semula merah padam karena amarah, kini berubah sendu. "Aku hanya mempersiapkannya andai di masa depannya ia mendapatkan sosok suami seperti ayahnya. Suami yang lebih memilih dan membela selingkuhannya dibandingkan keluarga kecilnya sendiri. Aku hanya ingin Tina mampu membangun benteng untuk dirinya sendiri apabila kelak Tuhan menurunkan karma atas perbuatan ayahnya kepada dirinya. Aku ingin mencetak diriku dalam diri Tina."
"Dirimu akan membuatnya menjadi wanita egois," ucap Hadi.
"Apabila menurutmu itu adalah egois, maka bagiku itu adalah bentuk dari kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Memangnya siapa yang dapat ia andalkan untuk membahagiakan dirinya sendiri? Apakah dirimu? Apa pasangannya nanti?" Dania menantang, dan Hadi hanya bergeming tak mampu menjawab. "Andai dirimu tahu jika orang-orang itu hanya berpotensi menyakiti putriku saja, dan aku tidak ingin putriku bergantung kepada mereka, baik ayahnya maupun suaminya."
Tina yang telah berderai air mata di luar sana masih setia mendengar perdebatan antara ayah dan ibunya. Hatinya terasa remuk ketika satu-persatu kesalahan Hadi dibongkar oleh ibunya, dan ia pun tak dapat berhenti merasa kagum atas tujuan dibalik cara didik Dania terhadapnya. Semula ia mengira jika ibunya sudah tak lagi peduli kepadanya, dan hanya Hadi satu-satunya tempat yang tersisa untuknya bersandar dan berkeluh kesah. Namun, siang itu berhasil membuka pandangannya, berhasil membuatnya memilih tempat berpulang yang sebenarnya.