
Kelas telah dimulai, dan Arif tampak gelisah di mejanya sebab Kesya tak kunjung datang. Ia telah menanyai Mora dan Yustin mengapa Kesya tak terlihat batang hidungnya sampai saat ini. Namun, jawaban dua gadis itu justru menyesakkan. "Bukankah biasanya Kesya pulang dan pergi bersamamu? Bahkan, sebagian besar waktunya habis untuk bersamamu. Jadi, seharusnya kami yang bertanya kepadamu, Arif."
Arif berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setelah bertemu Kesya nanti ia akan menerima maaf gadis itu, sekaligus meminta maaf atas diamnya sore hari kemarin. Ia mungkin kesal dengan perlakuan gadis itu yang melibatkan Jihan di kafe kemarin. Namun, jujur saja ia jauh lebih merasa tidak enak apabila tidak membersamai gadis itu berang sebentar saja.
"Maaf, Bu. Saya terlambat."
Kerisauan Arif berakhir di detik itu. Di mana, Kesya tergopoh-gopoh dengan keringat membanjiri pelipisnya tiba di kelas meski terlambat.
"Kesya, apa yang membuatmu terlambat?" tanya guru biologi yang terpaksa menghentikan menghentikan aksinya mencatat beberapa materi di papan tulis. Ia tampak tidak marah ataupun sampai murka, meski terganggu dengan keterlambatan siswinya itu.
Kesya tak langsung menjawab pertanyaan guru tersebut. Ia justru mencari-cari keberadaan Arif dengan mengedarkan pandangannya. Kemudian, setelah mendapati apa yang ia cari-cari, kini dirinya dengan Arif saling bertatapan. Kesya melihat bagaimana lelaki itu tampak risau meski ia tak tahu pasti disebabkan oleh hal apa.
"Kesya? Apa kamu mendengar pertanyaan saya?" tanya guru biologi itu lagi.
"Maafkan saya karena terlambat, Bu. Awalnya saya menunggu seseorang yang biasanya datang untuk menjemput saya ke sekolah, tetapi sialnya dia tak sampai-sampai. Akhirnya saya terpaksa meminta Papa untuk mengantar, dan seperti biasa jalanan terkadang macet, alhasil saya harus terlambat seperti ini," jawab Kesya dengan jujur, dan itu membuat perasaan bersalah semakin bercokol dalam batin Arif. "Sekali lagi maafkan saya, Bu. Saya tidak berjanji ini akan menjadi keterlambatan yang terakhir, tetapi saya akan berusaha untuk selalu datang tepat waktu."
Guru perempuan yang mengajar mata pelajaran biologi itu tak banyak mempermasalahkan keterlambatan Kesya. Ia hanya tersenyum simpul kemudian mempersilakan Kesya untuk duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Entah karena keberuntungannya atau bagaimana, kesalahan Kesya kali ini tak berbuntut panjang. Tak akan membuat Tama meraung-raung seperti sanksi yang sebelumnya.
***
Waktu istirahat tiba, Nadira, Tina, beserta Farhan telah mengambil tempat duduk di kantin meski mereka hanya sekadar menghabiskan bekal masing-masing. Mereka bertiga terlihat saling bertukar lauk, berbagi gurauan, dan sesekali membahas pelajaran serta tugas rumah. Pertemanan mereka tak banyak drama, tak banyak aksi ekstrem seperti aktivitas kebanyakan anak remaja yang gemar mencicipi hal-hal baru di sekitarnya. Mereka sederhana, tetapi terlihat bahagia dengan apa yang mereka punya. Mungkin itulah gunanya mencari teman satu frekuensi, satu kebiasaan, dan memiliki satu tujuan.
"Bagaimana jika hari ini kami berkunjung ke rumahmu untuk mengerjakan tugas?" tanya Farhan yang sontak mendapatkan gelengan kepala dari Nadira.
"Kalau tepat pulang sekolah, aku rasa aku tidak bisa. Akan ada perkumpulan anggota osis untuk membahas proker pameran. Kami telah mendapatkan dua mitra untuk menjadi sponsor, dan kami harus menyusun strategi promosi produk mereka," terang Nadira. "Namun, jika petang nanti, sekitar pukul enam, mungkin tidak masalah," imbuhnya.
"Ha! Itu ide yang bagus," sorak Tina kegirangan.
"Tetapi aku bermasalah dengan itu. Aku tidak mungkin pulang malam-malam seorang diri. Ya, walaupun aku laki-laki, tetapi kalian tahu bagaimana kejahatan di jalanan apalagi aku sendirian. Jika ada sekumpulan gangster yang menyerangku, bukan hal yang mustahil aku tiada di tangan mereka," ucap Farhan dramatis.
"Tenanglah, Farhan. Aku akan mengantarmu pulang. Oh, ralat. Tepatnya sopirku yang akan mengantar kita pulang," sahut Tina menenangkan, dan lekas mendapat balasan anggukan kepala dari Nadira.