
"Pena milikmu terbawa olehku, Ra. Aku kemari untuk mengembalikannya." Naufal mengeluarkan pena berwarna putih milik Nadira dari dalam sakunya, lalu memberikannya kepada gadis itu. "Maaf jika membuatmu mencarinya," imbuhnya.
Nadira lekas menerimanya. "Terima kasih, Naufal. Seharusnya dirimu tidak perlu repot-repot seperti ini. Kamu bisa mengembalikannya besok saat kita bertemu di sekolah." Nadira menjadi merasa tidak enak. Hanya karena pena miliknya yang tanpa sengaja terbawa, Naufal harus mendatangi rumahnya di saat hari mulai gelap. "Aku mengkhawatirkan keadaan Fauzan, mengingat ia sakit kemarin, udara dingin selepas hujan seperti ini pasti tidak baik untuk tubuhnya," imbuhnya.
"Ayolah, Kak. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu Kakak khawatirkan," sahut Fauzan dengan cepat. Ia begitu betah berada di atas pangkuan Nadira dengan segelas susu hangat di tangannya. "Lagi pula, aku lah yang ingin bertemu Kakak. Jadi, aku memaksa Kak Naufal untuk mengembalikan pena milik Kakak saat ini juga."
"Hai, Fauzan. Perkenalkan aku Kak Farhan." Farhan mengambil alih. Lelaki itu lekas berlutut di hadapan Nadira dengan Farhan yang dipangkunya.
"Hai, Kak Farhan," jawab Fauzan ramah. Tak lupa ia pun turut mempersembahkan senyum yang sangat manis kepada lelaki tampan di hadapannya.
"Kakak tahu kamu pasti sangat pintar. Kakak senang berkenalan denganmu, Fauzan." Farhan menyediakan dirinya untuk menggendong Fauzan, dan itu lekas bersambut baik dengan bocah kecil itu yang berkenan digendong olehnya. "Anak yang pintar tentu tahu bagaimana kondisi imunitas tubuhnya, bukan? Dan meski dirimu merasa sudah dalam keadaan yang sangat baik, tentu dirimu tetap memerlukan beberapa hari untuk pemulihan. Lantas jika seperti ini, dirimu memaksakan diri untuk datang kemari, bisa saja dirimu kembali sakit. Menahan sebentar saja untuk bertemu dengan Kak Na, akan membuatmu benar-benar sehat, dan memiliki waktu yang lebih panjang untuk bersama Kak Na meski tidak sekarang."
Air muka Farhan terlihat kesal. Sejak awal kedatangan Naufal di sana, dirinya sudah merasa tidak senang sekaligus terusik. Acara belajar kelompok mereka harus bubar sebab mau tidak mau Nadira kudu menemani tamunya.
"Sekarang urusanmu telah selesai, bukan? Mengapa dirimu tidak cepat pergi?" tanya Farhan yang sontak mengundang keterkejutan Nadira dan Tina. "Dirimu pasti tahu keperluan kami bersama saat ini? Apakah dirimu tidak merasa jika berlama-lama di sini sama saja dengan mengganggu kegiatan kami?"
"Farhan, apa yang dirimu katakan?" Tina lekas mengambil alih suasana. Ia merasa keanehan pada diri Farhan semakin menjadi-jadi saja. "Kita bisa ikut sertakan Naufal pada kegiatan belajar kelompok kita, kan? Ini sama sekali tidak masalah. Kedatangannya sama sekali tidak menggangu kita."
Cepat-cepat Farhan menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak setuju dengan apa yang baru saja Tiba katakan. "Mungkin kamu tidak benar-benar merasa tidak terganggu, kamu mengatakan ini karena tidak enak dengannya saja, bukan? Dan asal dirimu tahu, Tina. Aku datang kemari untuk mengerjakan tugas yang setumpuk, dan dengan kedatangan ketua osis itu, banyak waktu kita yang terbuang, padahal jika kita memanfaatkannya mungkin akan ada beberapa tugas yang berhasil diselesaikan," tegas Farhan panjang lebar.