
Arif dan Kesya melewati lorong-lorong kelas seperti sepasang kekasih yang dilanda kasmaran. Keduanya tak sungkan saling memamerkan kemesraan, terutama dengan Arif yang saat itu tengah merangkul posesif gadis pujaannya. Berkenaan dengan hal tersebut, tak heran apabila timbul desas-desus dari siswa dan siswi lainnya yang telah membenci Kesya dari akar-akarnya.
"Lihatlah perempuan itu. Setelah tak berhasil mengejar Naufal, kini dengan mudahnya ia mencari lelaki pengganti."
"Terlihat murahan sekali."
"Aku curiga jika selama ini gadis itu haus belaian."
"Jangan-jangan karena saking gampangannya, dia sudah tak lagi perawan."
"Benar-benar kasihan."
Tak ada satupun yang berniat mendukung hubungan baru Kesya bersama Arif. Seluruhnya serempak mengatai Kesya yang buruk-buruk, menuduh yang tidak-tidak, hingga.
"Cukup!" Kesya menentang dengan cepat. Ia sontak berteriak hingga membuat masing-masing mulut yang semula menghinanya seketika bungkam kehilangan keberanian. "Kalian tidak perlu susah payah membangun prasangka dan pandangan tentangku, karena itu hanya akan melelahkan diri kalian saja. Entah itu karena aku yang tak akan peduli nanti, atau karena kekuasaan Ayahku yang bisa kapan saja menghentikan semua itu dengan paksa."
Siswa dan siswi di sekelilingnya tidak bisa untuk menganggap remeh ancamannya. Kesya dengan kejahatannya memang sebuah saudara kandung yang sulit untuk dipisahkan. Mau tidak mau para siswa dan siswi itu harus mengalah jika ingin selamat dan tetap bersekolah di sana.
"Tidak usah dirimu dengarkan mereka, Kesya. Secara tidak langsung, mereka itu menunjukkan bahwa diri mereka sedang iri dengan kita." Arif berusaha menenangkan kekasihnya. Ia takut akan ada keributan di sana karena Kesya yang tidak berhasil mengendalikan dirinya. "Kita lanjutkan saja perjalanan kita ke kelas. Yuk," ajaknya.
Nadira diantar sampai di kelasnya oleh Naufal. Mereka berdua pun lama-lama terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat cocok. Tak sedikit siswa dan siswi yang mengagumi kedekatan keduanya, meski nyatanya Naufal dan Nadira dekat tanpa ikatan seperti yang dibayangkan.
"Terima kasih untuk semuanya, dan sekali lagi aku minta maaf untuk persoalan semalam." Nadira masih mengulanginya, mengungkitnya, dan merasa bersalah.
Naufal sontak menggelengkan kepalanya. "Hentikan, Nadira. Aku benar-benar tidak ingin mendengar dirimu membahas hal itu lagi. Jadi, cukupkan ini sebagai yang terakhir saja, ya?"
Nadira tak langsung mengiakannya. Ia akan melupakan persoalan itu apabila otaknya berhasil bekerja untuk melupakannya, persis seperti yang Naufal perintahkan.
"Oh ya, Ra. Fauzan memintamu untuk datang ke rumah. Dia ingin minta maaf karena telah mengganggu aktivitasmu semalam," ucap Naufal yang baru saja teringat akan pesan Fauzan yang dititipkan kepadanya. "Nanti sepulang sekolah kita langsung menjemputnya dari tempat penitipan anak, kemudian bermain-main bersama di rumah. Apakah dirimu bersedia?"
Tanpa menunggu nanti dan tanpa melewati pertimbangan, Nadira lekas menyanggupinya. Ia pun akan meminta maaf kepada Fauzan atas kejadian semalam yang membuat bocah kecil itu menangis atau bahkan sampai tertekan.
"Ya sudah kalau begitu. Semangat belajarnya, Nadira!" Sesaat setelah menyampaikan kalimat penyemangat kepada Nadira, Naufal lekas pergi meninggalkan tempat. Meninggalkan Nadira dengan perasaan aneh yang didapatkannya.
"Terima kasih," jawab Nadira lirih seraya menatap punggung sang ketua osis yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
Tanpa sadar senyum merekah tersungging di bibir Nadira. Mungkin, gadis itu tengah terbawa perasaan dengan perkataan manis Naufal barusan. Padahal jika diingat-ingat, apa yang Naufal sampaikan adalah hal yang biasa-biasa saja, dan wajar dilakukan oleh siapa saja. Namun, keadaannya berbeda, Nadira tengah hanyut dalam rasa melenakan, sehingga membuatnya dilanda bahagia berlebihan.