Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 46



"Mengapa sampai sekarang Farhan belum datang juga, ya," gumam Nadira dengan resah. Jam tangannya telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, dan lelaki yang sejak tadi dinantikannya tak kunjung datang. "Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" Nadira langsung menoleh ke arah Tina. Sahabatnya itu juga ikut gelisah sama seperti dirinya. 


"Jangan berpikir seperti itu, Nadira. Tidak baik." Sebenarnya Tina juga memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia berulang kali menepisnya, tidak ingin bayangan buruknya menjadi kenyataan. 


Tak lama setelah itu, lonceng dibunyikan tanda diharuskannya masuk ke dalam kelas, sebab pelajaran akan segera dimulai tak lama lagi. Dengan langkah berat Nadira memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam kelas, dan langkahnya itu langsung disusul oleh Tina. 


"Farhan ke mana sebenarnya? Ada apa dengannya?" Perasaan Nadira tidak enak. Farhan tidak biasanya begini.


Bu Yani, adalah guru yang akan mengajar di kelas Nadira hari ini. Terlihat sekali wajahnya muram, tidak berseri seperti biasanya. Ada apa dengan Bu Yani sebenarnya? 


"Hari ini sekolah kita sedang berduka." Terdengar berat sekali, Bu Yani seperti enggan melanjutkan ucapannya kali ini. "Ayah dari teman kalian, Farhan. Telah meninggal dunia."


Nadira terperangah, dia tahu sekarang. Farhan, sahabatnya, sedang tidak baik-baik saja. Duka sedang merundung lelaki itu, dan saat ini kesedihan sedang berpihak pada Farhan. Nadira harus berada di sisi lelaki itu sekarang, Nadira harus menguatkan lelaki itu dengan segera, dia sahabatnya, dia berhak untuk semua itu.


"Nanti kita ke sana, Nadira." Tina yang sudah banjir air mata, memilih untuk menjadi yang paling kuat. Gadis itu menggenggam tangan Nadira dengan erat, sebab dia melihat kegelisahan yang jelas sekali pada raut wajah Nadira. "Kita tidak sedang baik-baik saja sekarang ini. Tapi kita harus tenang, Nadira. Kita tidak boleh menangis di hadapan Farhan nanti."


......................


Nadira dan Tina telah berada di pemakaman sekarang ini. Mereka melihat kerumunan mengitari pusara yang masih basah. Tak jauh dari tempat berdirinya, Nadira dapat melihat Farhan, lelaki itu berbeda sekali. Farhan berdiri tegak, tapi hatinya sedang rapuh, itu jelas sekali. 


"Kita ke sana. Tapi ingat jangan menangis." Tina menyunggingkan senyumnya untuk Nadira. Dia juga menggenggam tangan Nadira dan sedikit menariknya agar mengikuti jalannya. Tina membawa Nadira mendekat pada Farhan, sahabat mereka berdua. 


Kini Nadira dapat melihat jelas gundukan butala yang telah memendam seseorang di dalamnya. Tanahnya merah, dan basah. Ada bunga yang ditabur di atasnya, dan walau sudah begitu tetap saja tampilannya tidak berubah indah. Memang hari yang berduka, ada yang pergi, dan membuat sekitarnya merasa kehilangan. 


"Farhan." Nadira sudah berada di sisi Farhan, tepat di samping lelaki itu. "Aku turut berduka cita." Nadira mengusap lembut bahu Farhan, saat lelaki itu telah menoleh padanya.


"Aku kehilangan Bapak, Nadira." Farhan langsung bersemayam pada pundak Nadira. Farhan sedang tak berdaya sekarang, dia butuh seseorang, yang jauh lebih kuat untuk dijadikannya penopang. Dan Farhan menemukan Nadira di saat yang tepat. "Bapak pergi meninggalkan kami." Farhan juga melingkarkan tangannya di pinggang Nadira. Farhan tak peduli posisinya yang sangat tidak nyaman, sebab tubuh Nadira yang lebih rendah dari tubuhnya.