
"Naufal, maaf." Nadira mendaratkan jari telunjuknya tepat di sudut bibir Naufal. Ada remah roti yang tersisa di sana, jadi Nadira berinisiatif untuk membersihkannya.
Masih di bangku yang sama seperti sebelumnya, Kesya menatap nyalang ke arah Nadira. Kesya merasa dirinya kalah saat melihat kedekatan Nadira dan Naufal, dia sangat iri, sebab tak pernah mendapat momen sedekat itu dengan Sang Ketua Osis.
"Terima kasih, Nadira." Naufal menyusul tangan Nadira yang salah satu jarinya telah mendarat pada bibirnya, tangan lelaki itu memegang tangan Nadira, mereka berdua membuat amarah Kesya memuncak di seberang sana.
"Sama-sama." Nadira melemparkan senyum jemawa untuk Kesya yang telah merah padam. Nadira tidak menyangka jika Naufal mau menerima perhatiannya dengan kehangatan yang sama. Nadira merasa usahanya membuat Kesya sakit hati, berjalan lancar sekali. "Ya sudah, aku dan Tina telah selesai makan, begitu pula dengan dirimu, Naufal. Kita langsung menemui Bu Iis saja, ya." Nadira mendapatkan anggukan kepala Naufal sebagai jawabannya.
"Aku di sini saja, Nadira. Aku mau pesan bakso, aku masih lapar. Kalian berdua saja, ya?" Tina sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia tidak berdusta, dia benar-benar ingin makan bakso.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu ya, Tina." Nadira bangkit dari pendaratan bokongnya di atas kursi, begitu pula dengan Naufal yang melakukan hal serupa.
"Iya." Tina menganggukkan kepalanya.
......................
"Ibu, ayo kita makan dulu." Farhan tidak menyangka jika kesedihan ibunya dapat separah ini. Mau tidak mau, dirinya harus menjadi yang paling kuat, sebab ibunya kini butuh penopang, dan hanya dirinya yang dapat diandalkan. "Sejak pagi Ibu belum makan." Farhan baru saja selesai memasak nasi goreng untuk dirinya dan ibunya. Akan tetapi, Hawa perlu dibujuk agar berkenan memasukkan makanan dalam mulutnya.
"Ibu tidak lapar, Farhan." Hawa meringkuk di atas ranjang. Mata dan wajahnya yang sembab ia sembunyikan. Lukanya belum sembuh sampai sekarang, dan kesedihannya masih betah berlama-lama di sana. "Kamu saja yang makan."
"Bu, dengarkan Farhan." Farhan menangkup wajah Hawa, mengarahkannya agar dapat menatap netranya. "Bapak tidak suka Ibu menyerah seperti ini. Seharusnya Ibu bangkit, demi Farhan. Andai Ibu tahu, Farhan juga melakukan hal yang sama, Farhan bangkit demi Ibu, dan harapan-harapan Bapak."
Hawa sadar, sesuatu yang terjadi padanya akhir-akhir ini sepenuhnya salah. Hawa hanya terus berlarut-larut dalam kesedihan atas kepergian Hamdani. Hawa melupakan Farhan, putra satu-satunya, yang jelas menjadi alasannya untuk bertahan saat ini. Hawa ingin bangkit, tapi dia tidak kuat dengan kenyataan bahwa itu sangat sulit.
"Kita bersama-sama, Bu. Kita merasakan luka yang sama, karena kita kehilangan orang yang sama. Tapi kita, Farhan dan Ibu, masih bisa bertahan, jika tidak untuk satu sama lain, setidaknya untuk diri sendiri." Farhan tidak ingin kondisi ibunya memburuk sewaktu-waktu. Hanya Hawa yang tersisa sekarang ini, Farhan ingin menjaganya baik-baik. "Jika Ibu tidak mau bangkit dan bertahan untuk Farhan, setidaknya Ibu bisa lakukan itu demi diri Ibu sendiri."