Unconditional Love

Unconditional Love
Chapter 1



Tempat ini adalah tempat yang sangat disukai Viena. Padang ilalang menghampar luas di sekelilingnya. Bunga-bunga rumput bergerak indah seiring terpaan angin yang membelai perlahan. Matanya memandang kagum akan keindahan yang terlihat disekelilingnya. Semilir angin mulai memainkan helaian rambutnya, sungguh suasana yang begitu mengasyikkan bagi Viena.


'Hmmm..., andai aku bisa menikmati keindahan ini bersama Randy...tapi sayangnya dia terlalu sibuk dengan ekskul basketnya...huft!! memang bangga punya pacar seorang kapten tim basket, tapi setiap kali dibutuhin alasannya selalu ada latihan, harus rapat, yang bener saja...masa aku harus bersaing dengan basket?!'


Seperti siang tadi, saat sepulang sekolah, lagi-lagi Randy lebih mementingkan urusan basketnya. Sementara Viena telah menyusun rencana untuk menghabiskan malam minggu ini berdua. Jauh hari Viena mengatur semuanya, namun dalam sekejab Randy menghancurkannya. Viena benar-benar kecewa, basket lebih penting dari dirinya dan sekali lagi dia harus mengalah dan membiarkan Randy memilih basket tercintanya. Hal itu benar-benar membuat Viena sesak nafas! Bagai terhimpit batu yang begitu berat dan Viena tak berdaya untuk melepaskannya.


Bayangkan, disaat semua pasangan lain menghabiskan waktu berdua, ia hanya duduk terpaku sendirian di tengah padang ini..menyedihkan!!


Viena seperti setangkai bunga layu di musim semi, saat semua wanita seusianya tersenyum bahagia ia hanya bisa menikmatinya dari kejauhan tanpa bisa merasakan hal yang sama.


'Randy...Randy...bagaimana caranya aku bisa menggantikan basket dihatimu? Bagaimana caranya agar kamu bisa lebih mementingkan keberadaanku? Kapan aku benar-benar bisa masuk dalam hati dan pikiranmu agar kamu mengerti betapa terlukanya aku saat kau selalu menolak mengusir kesepianku?'


Viena menatap setangkai bunga rumput yang menari-nari indah dihadapannya. Sungguh ia merasa begitu iri dengan mereka. Dalam keadaan apapun, mereka selalu terlihat gembira,tak perduli panas ataupun hujan, walau jauh dari keramaian hingga tak ada yang akan memperhatikan..tapi lihatlah, mereka selalu menari dengan riang saat tertiup angin. Seakan deru angin adalah melodi yang begitu indah bagi mereka.


Viena meraih salah satu bunga itu dan memetiknya. Ia menatapnya dari dekat sambil sesekali memutar tangkainya. Ia benar-benar merasa sangat kesepian sekarang.


Tanpa Viena sadari, seorang pria mengamati apa yang ia lakukan. Tindakannya begitu menarik perhatian pria tersebut sehingga pria itu mendatangi Viena dan menyapanya,


"Hai..apa aku mengganggumu?" Sapa pria itu sambil tersenyum


"Maaf, apa aku mengenalmu?" Viena menatap ke arah datangnya suara itu.


"Kenalkan..aku Jhones. Kamu siapa?" Tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Sejenak tangan mereka bersentuhan, Viena buru-buru menarik tangannya kembali. Ia merasakan getaran aneh saat bersentuhan dengan pria itu. Sejenak Viena terdiam, getaran aneh itu seakan menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat jantungny berdebar sangat cepat. Viena bingung, 'perasaan apa ini?' Aku ngga pernah merasakan hal aneh ini sebelumnya..bahkan bersama Randy pun tidak pernah ada rasa seperti ini.'


Lama Viena terpaku menatap sosok pria didepannya hingga akhirnya pria itu beranjak dan duduk disamping Viena sambil tersenyum. Viena hanya terdiam mengamati gerakan pria itu.


"Vien, dari tadi aku memperhatikanmu dari kejauhan, sebelumnya aku minta maaf, tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja..apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Jhones simpatik.


Lagi-lagi Viena hanya diam, ia masih berusaha mengontrol gejolak aneh di dalam dadanya.


"Vien," Jhones kembali memanggilnya.


"Oh, maaf" Viena terbata. "Aku tidak ada masalah apapun, hanya menikmati suasana tempat ini. Tapi, kenapa kamu jadi perduli padaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Viena sambil berusaha mengingat-ingat.


"Tidak, baru kali ini aku melihatmu, dan entah kenapa kamu begitu menarik perhatianku," balas Jhones sambil tersenyum.


Jhones menatap Viena sesaat, tatapannya benar-benar membuat Viena terhanyut sehingga wajahnya bersemu merah.


Viena tidak pernah mendapatkan tatapan yang seperti itu dari Randy. Viena benar-benar terlena sampai ia tidak menyadari Jhones tersenyum melihat reaksinya.


"Vien, apa aku begitu tampan sampai kamu jadi seperti ini?" Jhones tertawa lepas. Viena tersentak dan menyadari ia sedang terpaku menatap Jhones. 'Ini gila...apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa terlihat begitu konyol dihadapannya?' Viena buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain dan minta maaf. Ia benar-benar malu dan wajahnya semakin memerah.


"Tenang Vien,ngga apa-apa kok..aku senang ada cewek yang begitu terpesona padaku sampai seperti itu."Jhones tertawa renyah. Viena semakin tak berkutik..ia benar-benar menyesali kekonyolannya.