
Rapat telah usai, dan Nadira dibebani oleh beberapa tugas yang perlu untuk dikerjakan bersama Wildan sebab tugas tersebut saling berkaitan dengan keduanya. Masih di ruang osis dan menduduki kursi yang sama seperti ketika rapat, Nadira tampak merinci perlengkapan-perlengkapan yang perlu dibeli dan Wildan mengira-ngira berapa besar dana yang harus dikeluarkan.
"Yang kita perlukan saat ini yaitu kertas folio dan perlengkapan name tag, apakah benar?" koreksi Nadira kepada Wildan yang masih sibuk dengan perhitungan anggarannya.
"Benar." Wildan lekas menutup bukunya setelah usai dengan catatannya. "Untuk kegiatan esok, seleksi wawancara maksudnya, kita tidak memerlukan banyak perlengkapan. Jadi, bisakah aku meminta tolong kepadamu agar sepulang sekolah nanti pergi bersamaku untuk membeli perlengkapan-perlengkapan ini?"
"Bisa." Nadira segera menyetujuinya tanpa ragu.
"Apakah aku tidak mengganggu aktivitasmu? Barangkali dirimu ada janji dengan seseorang sesaat sepulang sekolah nanti?" tanya Wildan memastikan. Baru kali ini ia berurusan dengan Nadira, hingga harus melibatkan gadis itu bersamanya.
Nadira menggeleng kepalanya. "Aku tidak ada janji dengan siapa-siapa. Kita bisa pergi bersama."
"Kalau begitu aku ucapkan terima kasih. Tolong nanti tunggu aku di halte depan sekolah. Aku akan menyusulmu di sana."
***
"Apakah dirimu akan berada di sana juga? Kami tidak tahu harus menemui siapa andai dirimu tidak ikut serta dalam kegiatan seleksi esok hari." Tina cemas. Agenda besok adalah pengalaman pertamanya mengikuti seleksi. Ia tidak berharap besar bahwa akan lolos meski telah mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkannya dari Nadira.
"Aku akan datang dan memberikan kartu identitas kepada kalian. Selain itu, aku juga akan mewakili kalian untuk mengisi daftar hadir, sehingga kalian tidak perlu susah payah menemui Kesya untuk melakukannya." Nadira tersenyum manis setelah mengatakannya. Kendati tidak mengatakan secara terang-terangan, sebetulnya ia mengharapkan Tina dan Farhan lolos pada seleksi tersebut. Ia ingin kedua sahabatnya berada di pameran dan bertugas bersamanya.
"Dirimu benar-benar mengusahakan kami, padahal belum tentu juga kami akan lolos, apalagi setelah." Sejenak Farhan menjeda ucapannya. Ia melihat air muka kedua temannya itu seketika berubah seolah paham betul dengan apa yang akan ia katakan. "Lelaki itu pasti menyimpan kesumat pada kami. Mana sudi ia meloloskan orang-orang yang jelas-jelas telah bermasalah dengannya?" Yang Farhan maksud adalah Naufal, serta permasalahannya dengan lelaki itu yang belum terselesaikan secara benar.
"Seharusnya dia tidak berwenang dalam keputusan hasil seleksi besok. Kegiatan ini berada di bawah kekuasaan Arif sebagai perencana sekaligus pengatur utama, dan Naufal hanya berperan sebagai penasihat saja. Aku pun sempat berpikir kecil seperti itu, tetapi kali ini aku yakin Arif akan bijak dan tidak menggubris pertentangan Naufal andai ia bersikeras mendiskualifikasi kalian berdua." Semoga saja. Nadira melanjutkannya di dalam hati, sebab dirinya pun tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya sendiri.
***
"Apakah dirimu telah menungguku lama? Mohon maafkan aku, ya? Parkiran begitu padat, sehingga aku harus berusaha keras untuk mengeluarkan motorku dari sana." Wildan dan motor matic-nya berhenti tepat di hadapan Nadira yang telah menghabiskan waktu sepuluh menit di halte tersebut.
"Itu tidak masalah, Wildan. Aku bahkan tidak keberatan andai diharuskan untuk menunggumu lebih lama lagi," jawab gadis itu seraya mengudarakan tawanya yang tidak dibuat-buat.