
"Bagaimana? Apakah Kakak berhasil membujuk Kak Na? Mengapa dia tidak bersama Kakak sekarang?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Naufal hampir berteriak andai di tempat tersebut tidak dihuni oleh manusia lain selain dirinya. Ia tidak ingin dikira gila di usia muda, jadi ia berusaha keras untuk menahan hasrat yang demikian.
"Dia ada urusan, jadi tidak bisa pergi bersama Kakak. Ayo kita pulang, dan beli es krim," ajak Naufal dengan harapan besar adiknya itu dapat sejenak melupakan Nadira, agar ia tak semakin sesak mendapati kenyataan bahwa hubungannya dengan gadis itu semakin dingin saja.
"Aku memang menyukai es krim, tetapi bisakah kita berkunjung ke rumah Kak Na malam nanti? Aku harus membuktikan sendiri apakah Kak Na benar-benar sudah tidak marah dengan kita." Tak biasanya Fauzan bersikeras hingga betul-betul mengusahakan waktunya. Anak tersebut cenderung tidak memikirkan sesuatu hal dengan sangat berat, tetapi entah mengapa ketika bersangkutan dengan Nadira ia melakukan yang sebaliknya. Jelas fakta tersebut sangat mencolok dan membuat Naufal harus memaksakan otaknya untuk memikirkan solusinya dengan cepat.
"Akan ada banyak hari yang kita lalui. Besok, lusa, kemudian hari-hari setelahnya. Jadi, untuk apa dirimu begitu memaksa keadaan agar kita bertemu Nadira malam ini juga? Dia jelas tidak begitu penting dalam hidup kita." Naufal lekas mengangkat tubuh Fauzan agar duduk di atas motornya. Ia ingin segera pulang dan mengunci adiknya itu di dalam kamar.
"Mengapa Kakak berkata seperti itu? Kak Na jelas penting bagi Fauzan," jawab anak itu tidak terima.
"Bahkan kita baru mengenalnya beberapa hari, Fauzan. Orang-orang asing sepertinya sudah biasa datang dan pergi dengan mudah. Maka dari itu kita tidak perlu mengistimewakan kehadirannya, apalagi sampai merasa khawatir akan kehilangannya." Naufal pun menyugesti dirinya dengan menggaungkan kata-kata itu dalam hatinya. Ia tidak ingin menganggap Nadira begitu berarti di hidupnya, karena gadis itu pun telah memutuskan agar hubungan di antara mereka biasa-biasa saja meski tak mengatakannya secara gamblang.
"Kakak mungkin merasa seperti itu, tetapi tidak denganku," tegas Fauzan dengan air mukanya yang menegang. "Kak Na tidak akan pergi dari kita, jika Kakak dapat bersikap baik kepadanya dan juga teman-temannya."
***
"Aku ingin meminta tolong lagi kepadamu," jawab Adiyasta dengan malu-malu. "Dirimu tahu? Prakarya yang aku buat bersamamu kemarin berhasil meloloskan aku dalam seleksi tim karya yang akan mengikuti pameran. Kemudian, aku ditugaskan untuk membuat beberapa kerajinan untuk diseleksi kembali esok lusa. Jadi, aku minta bantuanmu, ya?"
"Lagi? Dan beberapa?" Farhan lelah. Adiyasta senantiasa memilih kerajinan prakarya yang rumit hingga membuat Farhan pusing sendiri. "Itu artinya dirimu akan membuat lebih dari satu kerajinan?"
"Iya." Dengan ringannya Adiyasta menganggukkan kepala serta menyunggingkan senyum lebarnya. "Ada waktu siang ini sampai malam, lalu besok seharian penuh. Aku rasa itu cukup."
"Besok aku harus datang ke sekolah," keluh Farhan mengingat ia pun akan mengikuti seleksi esok hari.
"Jangan mengada-ada, Farhan. Besok itu hari Minggu. Sekolah mana yang meminta siswanya masuk di hari Minggu?" tawa Adiyasta mengudara. Ia merasa bangga sebab mengira telah berhasil membongkar kebohongan yang hendak dibuat karibnya tersebut.
"Aku akan mengikuti seleksi esok hari. Acaranya memang dilaksanakan pada hari Minggu sebab peserta yang akan mengikutinya cukup banyak," jawab Farhan.
"Kalau begitu, sebagai bayarannya aku akan mengantarmu ke sekolah, menunggumu di sana, kemudian kita pulang bersama-sama." Adiyasta mengatakannya dengan antusias. Ia berharap dapat berhasil membujuk lelaki di hadapannya itu agar berkenan membantunya lagi. "Terus sesampainya di rumah, dirimu membantuku mengerjakan prakarya lagi."