
Lonceng pulang sekolah telah dibunyikan, satu-persatu para siswa meninggalkan kelas mereka.
"Bagaimana jika kita pulang bersama saja? Aku ingin mengajakmu berkunjung ke rumahku, dan kita dapat menghabiskan makan siang bersama," ucap Tina tertuju pada Nadira yang berada di sisinya dengan antusias.
"Aku sungguh tidak ingin merepotkan dirimu, Tina." Apa yang Nadira ucapkan merupakan kesungguhan. Ia merasa sungkan ketika teman baiknya tersebut selalu berusaha untuk menyenangkannya. "Tetapi di lain waktu aku berjanji akan berkunjung ke rumahmu setelah meminta izin pada Ibu," imbuhnya berusaha menenangkan.
"Apa yang sebenarnya dirimu katakan ini, Nadira? Sekalipun sungguh aku tidak pernah merasa keberatan ketika memintamu untuk turut serta bersamaku," terang Tina seraya merangkul bahu Nadira. "Lagi pula aku sudah menganggap dirimu seperti saudariku sendiri. Jadi tenang saja, dirimu dapat melakukan apa pun bersamaku tanpa perlu yang lain-lain."
"Aku mendukung Nadira untuk tidak ikut denganmu, Tina," sahut Naufal dari arah belakang tubuh dua gadis di hadapannya tersebut. "Hari ini Nadira hanya akan pulang bersamaku, sebab kita memiliki urusan yang harus diselesaikan bersama-sama. Jadi, pulanglah bersama Nadira di lain waktu saja, ya?" imbuh lelaki tersebut.
Sontak secara bersamaan Tina dan Nadira menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara. Keduanya melihat Naufal telah siap untuk pulang sekolah dengan ransel hitam yang berada dalam gendongannya.
"Setelah menandatangani berkas, kami harus pergi ke suatu tempat. Jadi, bisakah dirimu membiarkan aku dan Nadira pergi bersama?" tanya Naufal setelah mendapati dua gadis yang ia ajak bicara itu sepenuhnya menghadap ke arahnya.
"Oh, silakan saja, Naufal. Aku dapat pergi bersama Nadira di lain hari, dan untuk hari ini dia akan menjadi milikmu," jawab Tina dengan seulas senyum di bibirnya. "Tetapi aku mohon padamu untuk menjaganya dengan baik. Nadira merupakan berlian di sekolah kita, jadi akan sangat banyak yang mengkhawatirkannya apabila terjadi hal buruk dengannya," tambahnya berpesan.
Nadira sontak membelalakkan kedua matanya ketika mendengar apa yang baru saja Tina ucapkan kepada Naufal.
"Kalau begitu, ambillah gadis ini," ucap Tina seraya menuntun Nadira menuju ke arah Naufal. "Aku izin pulang terlebih dahulu kalau begitu, selamat berjumpa besok," pamitnya setelah menempatkan Nadira tepat di sisi Naufal.
Sejujurnya saat ini Nadira merasa canggung berada di sekitar Naufal. Gadis itu merasa berdebar-debar setiap jaraknya bersama pria itu berada kurang dari satu meter. Entah apa yang menyebabkan dirinya merasa seperti itu, intinya Nadira sungguh tidak nyaman ketika harus berada pada situasi tersebut.
"Setelah menandatangani berkas, aku ingin membawamu pergi ke kafe untuk menghabiskan makan siang bersama," ucap Naufal seraya perlahan-lahan menggerakkan tangannya meraih tangan Nadira untuk digenggamnya.
"A-apa?" tanya Nadira dengan kikuk. "Makan siang bersama?"
"Iya," jawab Naufal sembari menganggukkan kepalanya serta memperhatikan raut canggung Nadira dengan saksama. "Apakah dirimu merasa keberatan?"
Cepat-cepat Nadira memperbaiki raut wajahnya menjadi tenang, dan berusaha menanggapi segala perkataan Naufal dengan lancar. "Kita dapat melakukannya, tetapi sepertinya aku tidak dapat bersamamu terlalu lama," imbuhnya.
"Itu tidak masalah, Nadira. Setelah menandatangani berkas, dan kita usai menghabiskan makan siang bersama, aku akan segara mengantarmu pulang."