Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 56



"Kesya." Arif melihat gadisnya hanya bergeming seraya menatap punggung sepasang muda-mudi yang perlahan menjauh. "Kenapa?" 


Kesya menoleh, mendapati Arif telah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan lekat. Kesya seharusnya merasa beruntung, sebab Arif selalu datang di saat yang tepat, saat hatinya sedang terluka, karena Naufal. 


"Mereka semakin dekat." Wajah Kesya yang pasi sejak pagi, kini tampak berkeringat. "Nadira akan mengikis sedikit kesempatan yang aku punya." Naas sekali.


"Mereka hanya kebetulan sedang terlibat dalam garapan program kerja yang kita bahas kemarin. Ide pameran yang Nadira usulkan, mendapati persetujuan dari Bu Iis, dan mungkin saja sekarang ini mereka berdua sedang membuat proposal." Arif tahu jika kenyataannya tidak sesederhana yang diucapkannya. Arif mengenal Naufal dengan sangat baik, Sang Ketua Osis tersebut tidak mungkin semudah itu dekat dengan seorang gadis. Ucapannya barusan, sekadar untuk memperbaiki suasana hati Kesya. "Setelah program kerja ini terlaksana, maka semuanya akan kembali seperti semula, Naufal dan Nadira tidak akan dekat lagi, percayalah."


"Arif, apa yang Nadira miliki, dan aku tidak mempunyainya?" Nurani, otak yang cerdas, dan sifat baik hati. Seharusnya Kesya tahu, jika Nadira memiliki banyak sisi positif, sedangkan dirinya hanya memiliki sisi sebaliknya. 


"Pertanyaan macam apa itu, Kesya?" Arif tahu, Kesya tidak akan pernah baik-baik saja sesaat setelah melihat sesuatu yang menyakiti hatinya. "Jangan bandingkan dirimu dengan diri orang lain." Arif memegang kedua bahu Kesya, lantas memutarnya agar menghadap ke arahnya. 


"Naufal jelas tertarik dengan Nadira, Arif! Aku tidak bodoh, dan aku juga bukan anak kecil, yang bisa kamu tipu seperti tadi." Kesya rasa Arif telah lupa pada satu hal. Kesya adalah gadis yang sangat menginginkan Naufal, pengagum rahasia Sang Ketua Osis itu, jadi jelas saja Kesya akan berusaha mengenal Naufal dengan baik, apa pun caranya. "Aku mengenal Naufal dengan sangat baik."


"Tidak masalah, Arif." Cepat-cepat Kesya memeluk tubuh Arif. Kesya tahu, kemungkinan dirinya untuk kehilangan Naufal sangatlah besar, dan sisanya hanya Arif yang ada, jadi Kesya harus mempertahankan kehadiran Arif di hidupnya. "Aku juga minta maaf." Kesya selalu menarik ulur perasaan Arif, tanpa memedulikan bagaimana kerasnya lelaki itu menahan kehancuran yang menghantam hatinya berkali-kali. 


Kehangatan itu senantiasa Arif rindukan setiap waktu, hanya saja untuk mendekap pemiliknya hanyalah angan-angan yang terlalu tinggi untuk diraih. Keinginannya akan terdengar muluk-muluk dan berlebihan, jika memang benar-benar mengharapkan Kesya menjadi miliknya. Jadi, cukup seperti ini saja, hadir di kala gadisnya terluka, mengobatinya, dan melakukannya secara berkala. 


"Jika Naufal tidak menerimamu, di sini masih ada aku, Kesya. Arif masih menunggumu, dengan rasa yang sama setiap waktu." Arif meneteskan air matanya di balik bahu Kesya yang dipeluknya.


Terkadang Arif mengharapkan kenyataan jika Kesya hanya sedang bertualang sekarang-sekarang ini, dan dirinya akan menjadi tempat Kesya berpulang, untuk saat ini, besok, hingga batas waktu yang Tuhan tentukan. 


"Kamu sahabat yang baik, Arif." Kesya menegaskan kembali anggapannya terhadap Arif, dan itu benar-benar melukai hati lelaki tersebut.