
"Vien," Viena tersentak saat Randy memanggilnya.
"Ada apa sayang? Aku perhatikan dari tadi kamu sibuk dengan pikiranmu sendiri, apa ada yang mengganggumu?" Tanya Randy ingin tahu
"Oh, ngga ada apa-apa sayang, semuanya baik-baik saja." Jawab Viena sambil tersenyum.
"Kamu yakin?" Viena mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, kalau ada apa-apa kamu cerita ke aku ya sayang. Jangan diam saja." Ucap Randy dengan lembut.
Viena mengangguk sekali lagi. Namun sesuatu berkecamuk di dalam hatinya. Viena berusaha menutupinya dari Randy.
Tidak lama pesanan mereka datang, Randy memesan Spaghety Bologneise dan Sweet Juicy Love yang merupakan menu favorit Cafe itu.
Viena melirik sekilas hidangan tersebut, ini makanan kesukaannya. Tapi entah kenapa Viena tidak berselera melihatnya. Sebisa mungkin Viena bersikap biasa agar Randy tidak curiga padanya.
"Oh ya, Vien..minggu depan akan ada pertandingan melawan SMU Karya Bhakti. Kamu tahu kan mereka termasuk salah satu unggulan dalam setiap pertandingan, kami harus berlatih keras untuk menghadapi mereka. Aku sangat berharap kamu bisa menyemangatiku hari itu Vien," ucap Randy penuh harap.
Viena tidak sepenuhnya mendengarkan Randy. Ia hanya menatap Randy sekilas lalu kembali sibuk dengan garpu di tangannya.
"Kenapa kamu diam saja, sayang? Apa kamu terganggu dengan pembicaraan kita barusan?"
"Kapan kamu bisa berhenti membicarakan basket dengan ku?" Jawab Viena ketus.
"Ada apa denganmu Vien? Sebagai pacarku, seharusnya kamu bisa mengerti dan mendukung semua yang aku lakukan. Kenapa tiba-tiba kamu jadi seperti ini?"
"Maafkan aku Randy, aku ke toilet sebentar." Viena bergegas melangkah meninggalkan Randy yang menatapnya dengan bingung.
Dadanya terasa begitu sesak. Ingin rasanya ia berteriak dihadapan Randy melepaskan semua kegundahannya selama ini.
'Apa dia tidak perduli lagi padaku?'Apa semua rasa yang dia miliki untukku hanya sedangkal itu? Kenapa tidak sedikitpun ia berusaha mengerti aku? Pernahkah ia memikirkan apa yang aku inginkan? Pernahkah ia mengingat bahwa ia masih memiliki aku yang juga butuh dierhatikan?!'
Tatapan matanya mulai kabur karena air mata. Viena mempercepat langkahnya, tapi karena ia terburu-buru kakinya tersandung gulungan kabel yang ada disana. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tidak ada sepasang tangan yang dengan sigap menangkap tubuhnya. Viena benar-benar malu. Ia mengucapkan terima kasih tanpa berani menatap wajah orang yang menolongnya.
"Vien..., kamu Viena kan?"
Viena mengenali suara itu. "Jhones!" Ia menatap pria itu sambil tergugu.
"Aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu disini, Vien." Jhones tersenyum hangat. Senyum yang sama ketika di padang itu..senyum yang membuat jantung Viena bergemuruh hebat.
"Ada apa cantik? Kenapa setiap kali aku bertemu denganmu, kamu selalu terlihat murung?"
"Tidak apa-apa, Jhones. Terima kasih sudah membantuku. Maaf karena aku jadi merepotkanmu." Ucap Viena tergesa-gesa.
Sungguh, ia ingin segera menghilang dari tempat itu. Semuanya berjalan buruk baginya malam ini. Tapi hatinya seakan menghalanginya untuk beranjak dari sana.
"Tidak masalah," Jhones menanggapi Viena sambil tertawa. "Apa kamu sendirian, Vien?"
"Tidak, aku bersama teman..," dusta Viena.
"Teman pria?" Selidik Jhones sambil tersenyum simpul.
Viena tidak mampu menjawab, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Jhones.
Jhones menatap Viena, tatapannya begitu menghangatkan hati Viena. Untuk sekejap Viena seakan melupakan kegundahannya pada Randy.
"Vien," Jhones kembali menyapanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kelihatannya ada yang begitu mengganggumu ya?" Tanya Jhones ingin tahu