
"Apakah begitu sulit, Naufal? Melihat hati kecil ini, hati yang telah mendambakan dirimu sejak lama. Apakah sangat sulit?" Kesya tidak keras kepala! Gadis itu hanya menginginkan sedikit balasan, hanya sedikit saja. Jika dibandingkan dengan hati yang telah ia berikan pada Sang Ketua Osis, maka sedikit pun tidak seimbang.
"Keluar dari ruanganku, Kesya. Kumohon jangan memperpanjang urusan yang sama sekali tidak penting seperti ini." Lagi-lagi seperti itu. Sikap tak acuh Naufal, seolah akan abadi mengiringi rasa di hati Kesya.
"Baiklah. Aku akan keluar, Naufal." Kesya yang setia dengan derai air mata, senantiasa menatap wajah lelaki yang tak pernah menganggapnya. "Tapi kamu harus ingat satu, Naufal. Di sini, aku akan berdiri di tempat yang sama, dengan hati dan tujuan yang sama, dan itu masih tentang kamu." Kesya pergi, meninggalkan ruang Osis, dan meninggalkan Naufal sendirian.
Lorong yang sepi, senyap dan hanya meninggalkan suara lembut hembusan angin hampa. Luka di hati Kesya terlihat jelas dari derasnya air mata yang luruh dari netranya. Sangat berdusta jika Kesya nanti tidak akan terpuruk. Sebuah rasa sederhana, rasa yang muncul karena memang sifatnya manusiawi, rasa yang sangat lumrah dimiliki oleh insan di dunia ini, rasa itu telah dipendam sangat lama oleh Kesya, akan tetapi kenyataan detik itu berakhir naas, karena mendapatkan suatu penolakan.
"Bahkan kamu tidak bisa menghargai kata 'Sedikit' yang aku minta padamu." Kesya duduk bersimpuh di taman sekolah yang sepi tanpa ada salah satu siswa yang berlalu lalang. "Hanya sedikit, Naufal. Sungguh hanya sedikit. Setidaknya kamu bisa rasakan bagaimana ketulusanku ini." Kesya masih bergumam sendirian bersama tangis yang tak ada hentinya.
Apa yang dirasakan Kesya benar-benar tulus. Cintanya pada Naufal telah hadir jauh sebelum Naufal berada pada posisi yang paling istimewa saat ini. Kesya mengagumi Naufal saat lelaki tersebut masih menjadi siswa sekolah menengah pertama. Waktu yang cukup lama untuk memendam rasa yang sangat menyakitkan untuk terus ditahan. Namun, faktanya Kesya mampu! Kesya setia mempertahankan hatinya untuk Naufal walaupun dia tahu akhirnya akan seperti ini, akan berakhir penolakan yang memilukan.
......................
"Kenyataannya aku tidak pernah ada di hatinya. Selama ini Kesya hanya mencintai Naufal, hanya Naufal." Arif telah mendengar semuanya. Lelaki tersebut hanya berdiri mematung di depan pintu ruang Osis seraya mendengarkan pernyataan cinta Kesya pada Naufal.
Keadaannya menjadi sulit. Cinta segitiga yang membuat dua hati patah dalam waktu yang bersamaan. Semua itu hanya tentang ketulusan yang tak terbalas, sebab hati mereka telah berlabuh di tempat yang salah. Memang kenyataannya tempat hati Kesya dan Arif berlabuh adalah salah, karena dalam masalah seperti ini cinta tidak mungkin salah.
"Aku kira kamu bisa melihatku sebagai lelaki yang sangat mencintaimu." Arif tetap bergeming di tempat, walau setelah menyaksikan kepergian Kesya dari ruang Osis dengan keadaan yang kacau. "Akan tetapi bukankah ini belum menjadi akhir dari semuanya? Aku masih memiliki banyak waktu untuk mendapatkan hatimu, Kesya. Masih ada banyak waktu." Ada secercah harapan yang belum tampak bekasnya, telah bernaung dalam kalbu yang kesepian. Setidaknya saat itu Arif telah berusaha, bukan? Berusaha untuk berprasangka baik terhadap hati yang kenyataan pahitnya telah ia saksikan sendiri.