
"Aku harus ke toilet dulu, Nadira." Setelah membeli beberapa camilan, Naufal menyerahkan semua kudapan itu agar dibawa oleh Nadira. "Kamu bawa camilannya, dan kembalilah ke ruang osis terlebih dahulu. Tidak masalah, kan?"
Nadira menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin menemani Naufal di toilet. "Aku akan ke ruang osis terlebih dahulu."
"Baiklah, kita berpisah di sini." Naufal dan Nadira berjalan ke arah yang berbeda, Naufal yang menuju toilet, serta Nadira yang kembali ke ruang osis.
Sepuluh menit waktu yang dihabiskan Naufal untuk menuntaskan hajatnya, dan kini lelaki itu sedang membenahi seragamnya sebelum kembali ke ruang osis. Namun, perhatiannya mendadak teralihkan, tatkala di seberang sana terdengar derap langkah yang laju dari Kesya.
"Naufal." Napas Kesya terengah-engah, dia mengejar Naufal, dia ingin bicara, dan ingin dekat. "Aku ingin membantumu membuat proposal."
"Terima kasih." Air muka Naufal yang datar, seperti tak berkenan bicara dengan Kesya. "Tapi itu tidak perlu." Naufal hendak melanjutkan langkahnya. Namun, cepat-cepat Kesya mengadangnya.
"Beri tahu aku, Naufal. Aku harus bagaimana, apa yang harus aku ubah, demi dirimu, demi memilikimu." Kesya takut kehilangan Naufal, sebab Nadira telah hadir dan mempersulit usahanya untuk mendapatkan Sang Ketua Osis.
"Tidak ada." Naufal tidak menginginkan Kesya mendapatkan hatinya. Kesya bukanlah gadis yang Sang Ketua Osis inginkan, jadi seharusnya Kesya sadar diri dan melupakan ilusi yang terlalu tinggi itu.
"Kamu mau tahu?" Naufal tidak keberatan jika Kesya ingin dirinya membeberkan semuanya. "Kamu sungguh menginginkan aku menjelaskan bagaimana hebatnya Nadira menurut penilaianku?" Naufal tak segan membuat Kesya terluka saat itu juga. Naufal sudah tak memikirkan perasaan Kesya, serta derita gadis itu. "Nadira adalah gadis yang cerdas, Kesya. Dia gadis yang baik hati, dan kamu tidak akan pernah menyamai Nadira walau sebesar partikel debu yang paling kecil sekalipun."
Kesya merasakan hatinya hancur. Walau itu bukanlah kali pertama, tetap saja rasanya sakit, dan sialnya Kesya tidak dapat membagikan lukanya pada orang lain kecuali Arif. Kesya pikir, Naufal akan sedikit melunak setelah dirinya berusaha untuk menerima hukuman skors dua minggu.
"Kamu hanya membuang-buang waktu." Naufal kembali melanjutkan langkahnya, karena lelaki itu ingin segera kembali ke ruang osis dan meninggalkan gadis gila seperti Kesya.
"Sejijik itu ya, Naufal. Aku sangat buruk sekali ternyata, sampai-sampai kamu enggan memberikanku kesempatan." Kesya tidak mencekal lengan Naufal, dia tidak menghalangi Sang Ketua Osis untuk pergi. Kesya hanya bicara, menyatakan sesuatu yang menurut dirinya benar. "Andai kamu tahu, Naufal. Aku hanya meminta sedikit waktu, dan tetap saja kamu tak berkenan memberikannya. Padahal manusia bisa berubah, Naufal. Aku bisa berbenah."
Naufal tidak melanjutkan langkahnya. Dia memilih untuk mendengarkan semua yang diucapkan Kesya yang ditujukan untuknya. "Lebih baik sudahi saja semua perjuanganmu yang sia-sia itu, Kesya. Ada Arif di sana, lelaki itu mencintaimu dengan sangat tulus."
"Aku juga berharap jika kenyataannya dapat semudah itu. Melupakanmu dengan mudah, dan mencinta Arif dengan sama tulusnya, aku juga menginginkan itu." Kesya juga tidak menginginkan derita yang seperti ini. "Tapi faktanya tidaklah seperti itu, tidaklah seperti yang aku dan kamu inginkan, Naufal." Kesya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis, merasakan sesak kian menjalar memenuhi dadanya.