
Naufal tiba di rumahnya setelah menjemput Farhan dari tempat penitipan anak. Sepanjang perjalanan, Naufal diusik oleh Fauzan yang uring-uringan sebab Nadira tak lagi mampir ke kediaman mereka. Berulang kali Naufal menjelaskan bahwasanya Nadira ada keperluan, tetapi bocah lelaki itu keras kepala sekali.
"Ayo kita ke rumahnya saja! Kakak pasti tahu kan alamatnya? Ayo kita ke sana dan membawa buah tangan!"
Entah kali ke berapa Naufal menggeleng menolak usulan adiknya yang tak mudah untuk ia terima. Naufal bukan tak ingin bertemu dengan Nadira. Ia hanya tidak ingin mengganggu belajar gadis itu.
"Lain waktu, ya? Kita akan bertemu dengan Kak Na lain waktu." Naufal tahu adiknya kesepian sekali. Ia memang berada di rumah, bersama bocah kecil itu. Namun ia tidak memiliki waktu untuk bermain bersama, karena ia memiliki banyak sekali tugas yang harus dikerjakan sehari-harinya. "Sekarang Kakak minta untuk jangan memaksa, ya? Semua ada waktunya, dan mungkin untuk sekarang sangat tidak memungkinkan."
Fauzan luluh melihat raut wajah memelas Naufal. Ia begitu menggebu-gebu ingin bertemu dengan Nadira, karena gadis itu sangat piawai mengajaknya bermain dan bercerita. Namun, saat ini tiba-tiba ia melihat bagaimana kakak lelakinya itu amat lelah. Kantung matanya tampak jelas menghitam. Maka dari itu ia memutuskan untuk berhenti memaksa. Ia yakin, entah esok atau lusa, ia akan bertemu dengan Nadira. Sebab bukankah gadis itu telah berjanji untuk berkunjung tanpa undangan?
***
Yuliana menyambut kedatangan putrinya dengan dua orang lain yang menyertainya. Farhan dan Tina serempak menyunggingkan senyum manis mereka, dan Yuliana pun sontak membalasnya dengan senyum keramahannya.
"Mari masuk semuanya," ajak Yuliana dengan lembut setelah menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada Nadira, Tina, dan Farhan untuk masuk ke dalam rumah. "Kalian berencana untuk belajar bersama, ya? Kalau begitu Tante harus persiapkan kudapan untuk kalian."
Tina lantas mencegah Yuliana yang hendak melenggang dengan meraih tangan wanita itu. "Tidak usah repot-repot, Tante. Kami jadi tidak enak," ucapnya.
Farhan tersenyum kikuk, kemudian sedikit membungkuk sembari berucap, "Farhan, Tante."
Yuliana mengangguk-angguk, berusaha mengingat sesuatu. "Kamu pernah mengantar Nadira, bukan? Nadira pernah menceritakan tentang dirimu kepada Tante," ucapnya.
Farhan bingung, tepatnya ia tidak tahu jika Nadira sempat menceritakan tentang dirinya kepada ibunya.
"Iya, Bu. Dia Farhan, yang waktu itu Nadira ceritakan kepada Ibu," sahut Nadira mewakili.
"Nadira pernah menjanjikan makan siang bersamamu di rumah ini. Namun, belum terlaksana juga." Yuliana mengetuk-ngetuk dagunya sejenak. "Dan bagaimana jika sekalian kita atur untuk makan siang bersama di lain waktu? Tina pun harus bergabung! Bagaimana?" Yuliana tampak antusias. Ia senang sekali putrinya kini memiliki teman-teman yang baik. Oleh karenanya ia ingin membantu anak gadisnya tersebut untuk mempertahankan ikatan persahabatan itu dengan menciptakan momen-momen sederhana.
Tina mengangguk kepalanya sejenak, lalu menunjukkan senyumnya yang merekah sempurna. "Kita akan atur itu, Tante. Terima kasih banyak atas kesempatannya. Kami benar-benar merasa sangat senang."
"Kalau begitu ya sudah. Kalian segera pergi ke ruang belajar Nadira. Tante mau ke dapur dulu," pamit Yuliana kemudian. Wanita itu lekas menuju ruang kebesarannya, yang menjadi kekuasaannya sepenuhnya.