Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 36



"Aku sangat iri denganmu, Nadira. Kamu memiliki apa yang aku tidak miliki." Nyeri sekali, rasanya bak tersayat sembilu tanpa ampun kian mencabik sisa kulit yang masih bertahan. "Aku sangat ingin, sangat ingin merasa kehangatan itu barang sebentar saja."


Tina telah mengatakannya. Menguar lukanya tanpa peduli rambatan sakitnya yang ke mana-mana. Sungguh Tina sudah tidak kuat, setiap malamnya ia menangis sendirian, kesepian sendirian, menanggung nestapanya sendirian. Dan kini semuanya meledak, ia mengatakannya, bukan untuk mengemis bantuan atau tatapan iba, melainkan berusaha untuk merelakannya, walau sulit, ia akan mencoba ikhlas. Lanjut Kilas Balik.


"Bunda, bisa antar Tina berangkat sekolah hari ini?" Tina menghentikan aksi sarapannya. Dia menatap dengan penuh harap ke arah ibunya yang duduk di seberangnya. 


"Tina, kamu sudah besar, kamu harus mandiri." Dania masih fokus pada sarapannya, dia menjawab tanpa menatap ke arah putrinya.


"Selama ini Tina sudah mandiri, Bunda. Hanya sekali ini Tina meminta, meminta sedikit saja perhatian dari Bunda." Apa yang dikatakan Tina memang benar. Jika diadu soal kemandirian, maka Tina sudah menjadi juaranya. Tina senantiasa sendirian, sejak kecil, sejak pertengkaran ayah dan ibunya bermula, dan semakin diperkeruh setelah keduanya sah bercerai. Mentalnya sudah ditempa kuat-kuat sejak dini, dia berteman dengan air mata, dengan kesedihan, dan akhir-akhir ini menjadi luka. 


"Bunda ada urusan, kamu jangan manja, Bunda tidak suka." Setelah mengatakan itu Dania beranjak pergi, meninggalkan Tina sendirian, lagi-lagi sendirian, dengan mendekap sakit hati bersamanya. 


"Kamu harus kuat, Tina. Semua ada masanya, bahagia dan sedih akan hadir silih berganti. Tuhan telah menakar semuanya, kamu diberikan cobaan ini sudah atas pertimbangan Tuhan." Nadira berusaha membuat Tina legawa, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. "Seharusnya kamu bangga, lihatlah sisi positifnya, kamu tahu ini berat, dan Tuhan membebankannya padamu, itu berarti tandanya kamu mampu menghadapi semua ini."


Berbicara dengan Nadira memang jalan keluar yang tepat. Tina mendapat secercah cahaya harapan walau masih temaram, tapi setidaknya ada sedikit kesempatan. Nadira tidak menghakiminya, tidak menuntutnya untuk berjalan sesuai sarannya, Nadira hanya menguatkan, memujinya, dan memberinya semangat. Nadira lebih tahu cara memperbaiki hati yang patah, cara membangkitkan asa yang telah lama tergeletak tanpa daya, Nadira mampu mengatasinya.


"Semuanya akan baik-baik saja, Tina. Cobaanmu memang berat, bahkan untuk membayangkannya saja rasanya sangat sakit." Nadira menatap lembut netra Tina, menguncinya, lalu memperhatikan bayangannya di dalamnya. "Tapi kamu harus melihat darah yang telah kamu korbankan sebelumnya. Lihatlah langkahmu yang tertatih-tatih sejak awal mendekap luka-luka itu. Sejauh ini kamu sudah sangat kuat, lalu apakah pantas jika waktu panjang itu kamu gunakan untuk menyerah sekarang?"


"Tidak, aku tidak boleh lakukan itu. Aku harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya, aku harus senantiasa menengok ke belakang sebelum memutuskan untuk menyudahinya." Tina tersenyum, kini keadaannya telah baik-baik saja. Semua itu berkat Nadira.