
"Bugh-Bugh" Arif memukul dinding kamar mandi demi meluapkan gejolak hebat dalam dirinya. Dia hanya kecewa, karena dirinya kalah, dia butuh sedikit waktu untuk merasa kesal, sebelum benar-benar berlapang dada. "Kenapa rasanya sakit sekali! Argh!" Arif memukul dadanya berulang kali. Sesaknya tak kunjung hilang, dan itu sungguh menyiksanya.
"Mengapa cinta begitu pahit?" Mengapa rasa yang berpihak padanya bukanlah yang manis? "Kenapa begitu sakit lukanya?" Kenapa cinta tak adil memberi derita, kenapa hanya pada Arif dan Kesya, kenapa yang lain tidak merasakannya.
Di dalam kamar mandi tersebut Arif benar-benar kacau. Dia terlihat lusuh dan menyedihkan. Tangannya berdarah, dan tak sedikit bercaknya yang menempel di dinding, seolah membuat sebuah bekas untuk menjadi tanda, suatu tanda untuk luka, bukan hanya di tangannya, tapi juga di hatinya. Kilas Balik Selesai.
......................
"Bapak, ayo kita ke rumah sakit." Farhan terus membujuk ayahnya agar berkenan mengikuti ajakannya. "Suhu tubuh Bapak semakin tinggi, kita butuh Dokter untuk menanganinya."
"Bapak tidak apa-apa, Farhan. Pergi ke rumah sakit juga memerlukan biaya yang banyak, biarkan uangnya untukmu bersekolah, Bapak ingin kamu menjadi orang yang sukses, bisa sekolah tinggi." Hamdan, menjelaskan alasannya menolak dibawa ke rumah sakit, karena dia memiliki harapan atas Farhan, putranya.
Di samping Farhan, Hawa yang tak lain adalah ibunya, telah menangis tersedu-sedu sebab begitu mengkhawatirkan kondisi suaminya. "Dengarkan apa kata putramu, Mas. Kamu harus dibawa ke rumah sakit."
"Bapak harus mau dibawa ke rumah sakit, atau nanti demamnya akan semakin parah, Farhan tidak mau." Masih membujuk, Farhan masih berusaha agar ayahnya berkenan dibawa ke rumah sakit. "Farhan mohon, Pak." Lelaki tersebut memohon di hadapan ayahnya seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Mari kami bantu." Adiyasta langsung memegangi tangan kiri Hamdani untuk membantu pria itu berdiri, sedangkan Farhan menyusul memegangi tangan kanan ayahnya tersebut. Farhan dan Adiyasta kompak memapah Hamdani sampai masuk ke dalam mobil yang telah ayah Adiyasta siapkan.
Perjalanan yang hening menuju rumah sakit. Semuanya diam, ayah Adiyasta yang fokus menyetir, Hamdani dan Hawa yang saling bungkam entah karena memikirkan apa, sedangkan diamnya Farhan dan Adiyasta hanya semata-mata karena sungkan.
Setibanya di rumah sakit, Hamdani langsung diangkut menggunakan brankar untuk menuju Unit Gawat Darurat agar dapat dilakukan peninjauan dan penanganan sebagai tindakan selanjutnya. Semuanya menunggu di luar, Farhan, Adiyasta, dan Hawa, hanya tersisa mereka bertiga, karena ayah Adiyasta terpaksa pergi terlebih dahulu setelah menerima telepon penting dari kantornya.
"Kamu harus sabar, Farhan. Ini ujian, berat memang, tapi kalau kamu tabah, balasan yang Tuhan berikan pasti setimpal." Adiyasta merasa iba terhadap Farhan, sebagai sahabat dia juga merasa menyesal karena tidak dapat membantu banyak.
"Terima kasih, Adi. Terima kasih karena kamu lagi-lagi membantu keluargaku, kamu dan orang tuamu sangat baik pada kami." Farhan bersyukur, sebab masih ada Adiyasta, sebuah perantara bala bantuan yang Tuhan berikan. Memang semuanya tidak bisa diklaim sebagai ujian, pasti ada hikmah dibaliknya, tinggal kita pandai-pandai berprasangka baik terhadap Sang Maha Kuasa, hanya itu saja.
"Kita sudah bersahabat sejak lama. Kita harus saling membantu, karena sejatinya sifat manusia adalah saling bergantung." Adiyasta menjeda ucapannya sejenak. "Memang saat ini keluargamu yang kami bantu, tapi kemungkinan di lain hari, keluargaku yang membutuhkan bantuanmu, kuharap kamu berkenan jika saat itu datang."
"Pasti, Adi. Keluargaku akan membantu sebisanya, dan semaksimal kemampuan yang kami punya." Farhan mengangguk.