
Pagi yang cerah, persis seperti hari kemarin. Nadira hanya duduk-duduk pada kursi panjang di lorong, dia sedang menunggu kedua sahabatnya, Farhan dan Tina. Sampai hari itu masih banyak siswa-siswi yang menyapanya kala berpapasan atau tanpa sengaja saling mengunci pandangan, jelas sangat menyenangkan, hanya saja terlambat di dapatkannya.
Tak jauh dari tempatnya duduk, Nadira dapat melihat sosok Farhan telah berjalan menghampirinya, lantas saja Nadira teringat akan sesuatu. Sebuah kecupan manis yang Farhan berikan kemarin saat sepulang sekolah, kenyataannya masih menjadi bayang-bayang yang mengganggu akan tetapi enggan untuk dilupakan. 'Perhatian Farhan tidak berlebihan, hanya kecupan manis sebagai tanda persahabatan' kalimat itu seolah senantiasa memenuhi otak Nadira, sebab dia sangat senang menerimanya.
"Pagi, Nadira." Bahkan tidak tercipta kecanggungan sedikit pun. Farhan masih sama, terlihat biasa saja, dan artinya Nadira yang merasakan keanehan itu sendirian, gadis itu merasa canggung sendirian, benar-benar tidak adil.
"Pagi, Farhan." Percayalah menjawab seperti itu sungguh membutuhkan usaha yang besar. Nadira mengendalikan dirinya dengan susah payah, dia sebisa mungkin memasang wajah yang biasa-biasa saja, seperti biasanya. "Aku menunggu Tina, sepertinya dia kesiangan."
Farhan mengangguk pelan, kemudian duduk di samping Nadira, dengan jarak sejengkal di antara keduanya. "Akan aku temani." Farhan sangat manis, sejak awal memang begitu. "Nadira maafkan aku soal kemarin. Kelihatannya terlalu berlebihan, ya?"
Tubuh Nadira sontak meremang, dia harus memberi jawaban apa? Berada di posisi ini sangat tidak nyaman. "Lupakan saja. Toh, katamu itu masih wajar dalam sebuah persahabatan."
"Kamu tidak mempermasalahkannya sama sekali?" tanya Farhan.
Nadira menggelengkan kepalanya. "Tidak, Farhan." Sebab aku juga menerimanya, walau setelah itu keadaannya menjadi tidak baik-baik saja.
"Kalau begitu, berarti aku boleh melakukannya lagi? Berkali-kali? Sesering mungkin?" Farhan antusias disertai tawa kecil yang mengudara, lelaki itu menggoda seorang gadis manis di sampingnya.
Sontak saja Nadira membelalakkan matanya. Bukan itu yang ia inginkan sebagai jawaban dari pemakluman yang ia berikan. Pagi itu Farhan begitu menyebalkan. "Bukan seperti itu, Farhan," protesnya.
"Maafkan aku, Nadira. Percayalah ini hanya gurauan, aku tidak bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya." Farhan mengelus lembut surai hitam kecokelatan milik Nadira, sangat lembut saat tersentuh kulit telapak tangannya.
Kenyamanan itu ada, jelas Farhan memberikannya secara cuma-cuma kepada Nadira, akan tetapi bukan kedermawanan seperti itu yang seharusnya Farhan berikan, karena sebenarnya lebih terlihat seperti bentuk lain, dan itu masih saru untuk dijelaskan. Nadira terlena, hanya sedikit, sedikit sekali, sebab Nadira masih handal dalam hal mengendalikan, dia masih mampu memegang setir pada dirinya sendiri agar respon yang ia berikan tetap patut didengar dan dilihatnya.
"Nadira, percayalah semuanya masih sama, apa yang aku lakukan kemarin tidak akan mengubah status kita." Tiba-tiba saja Farhan mengatakan hal itu. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, sebab yang aku lakukan kemarin sudah begitu kelewatan, dan aku tetap sadar walau kamu memberikan sebuah pemakluman."
"Farhan." Nadira tidak menyangka Farhan paham sekali dengan pikirannya. Kenyataannya dia tidak perlu menjelaskan dengan susah payah kedepannya, sebab Farhan sudah cukup dewasa untuk menalar semuanya sendirian, jadi tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, persis seperti sedia kala.