
Kesya menyandarkan kepalanya di punggung Arif. Ternyata nyaman sekali berada di sana, sebuah ruang nan lapang, yang Arif berikan untuknya. Ada sebuah kesepakatan kemarin, Arif meminta satu hal, dia ingin menjadi sahabat Kesya, dan segala hal yang wajar dilakukan oleh seorang sahabat, maka Arif juga akan melakukannya. Mendengar kesepakatan yang seperti itu, jelas Kesya sama sekali tidak keberatan, dia setuju bersahabat dengan Arif, dan dia terima jika perlakuan Arif akan lebih istimewa dari sebelumnya.
"Kesya." Arif mengusik ketenangan gadis yang duduk di belakangnya. "Bagaimana kondisimu sekarang?"
"Sudah membaik, Arif. Terima kasih, ya." Kesya terlalu banyak berutang pada Arif. Ketulusan lelaki itu sungguh tidak ada duanya. Arif memiliki kesetiaan, dan kesabaran untuk Kesya, yang telah melebihi kadar sewajarnya. "Semua ini karena kamu, Arif."
Perjalanan yang manis sekali. Arif sangat senang dapat bersama Kesya, walau dia harus menerbangkan kenyataan bahwa Kesya hanya menganggapnya sebagai sahabat, dan hati Kesya masih utuh hanya untuk Sang Ketua Osis seorang. Sekali lagi hal itu bukan masalah bagi Arif, tidak apa tidak mendapatkan hati Kesya, asalkan dirinya masih diberi kesempatan untuk memandang raganya, menjaga raganya, dan membersamai raganya. Sesederhana itu kebahagiaan Arif, sama sekali tidak sebanding dengan besarnya borok yang tertanam dalam hatinya.
Bukankah semua itu disebut perjuangan? Arif hanya sedang melakukan itu, hanya sedang berjuang, untuk mendapatkan hati gadis yang telah lama disayanginya. Walau setelah mendapatkan beberapa penolakan secara halus, setelah mendengar sendiri untuk siapa hati gadis itu sebenarnya, setelah jelas-jelas diperlihatkan bahwa posisinya tidak pernah menduduki tempat istimewa, kenyataannya Arif tetap bertahan, di tempat yang sama sejak awal penantiannya, masih di sana, masih di zona yang penuh dengan darah.
Cinta Arif memang buta. Dia terlalu baik dengan memegang alasan satu saja, untuk tetap bersikeras mendeklarasikan bahwa Kesya adalah gadis yang sempurna. Anggapan Arif memang berlebihan, perasaan yang mengendalikan dirinya, menuntut dirinya untuk menjadi budak cinta gadis seperti Kesya. Dan Arif masih menganggap semuanya wajar, masih menganggap semua itu lumrah terjadi pada orang banyak, tidak dirinya saja. Selama ini Arif hanya mencari pembenaran, atas sesuatu yang sudah jelas salah, atas sesuatu yang sudah jelas menyiksanya, Arif sudah terjun terlalu dalam, dia dalam kegelapan, mencintai Kesya tanpa memiliki lagi sebuah kadar.
"Aku hanya mencintai, Kesya. Rasa ini sudah hadir sejak lama, dan aku tidak meminta hatiku untuk menuju pada gadis sepertinya." Berulang kali Arif menggunakan kalimat itu. "Cinta datang dengan sendirinya, memilih tempat untuk berlabuh dengan sendirinya, dan akhirnya dia juga akan menetap dengan sendirinya. Aku yakin ini wajar, banyak yang seperti ini di luar sana."
Sejauh ini Arif tidak pernah sadar, bahwa langkahnya keliru, dan merugikan dirinya sendiri. Kesya dan Arif adalah bentuk simbiosis parasitisme, hanya saja kasusnya sedikit berbeda, Arif yang menjadi inangnya, menawarkan diri untuk dirugikan.
"Kita bersahabat sekarang, Kesya. Jadi wajar jika aku memperlakukanmu lebih istimewa, dengan begitu saja aku sudah senang." Arif tersenyum sangat manis saat mengucapkan itu. "Hatimu bukan untukku itu tidak masalah. Kamu tetap bersikeras memberikannya untuk Naufal, aku juga tidak apa-apa. Asalkan jangan memintaku untuk pergi, aku akan tetap baik-baik saja, Kesya." Apakah lambat laun waktu tidak akan mengikis kekuatan yang sebesar itu dalam diri Arif?