
Melanjutkan rencana untuk belajar bersama di rumah Nadira, kini Tina telah berada di kediaman Farhan, dan berniat untuk menyita sedikit waktu untuk singgah di sana. Kedatangan Tina, disambut baik dan hangat oleh Hawa, sebab wanita itu ingat bahwa sebelum kali ini, Tina pernah mengunjungi rumahnya di saat masa berkabung waktu itu.
"Ibu senang ada teman Farhan yang berkunjung kemari. Kamu tahu sendiri kalau anak lelaki itu lebih banyak diam dan terlalu memperketat ruang pergaulannya. Sejauh ini pun, baru dirimu dan satu lagi temannya Ibu lupa namanya, yang dikenalkan kepada Ibu sebagai sahabat. Sebelumnya, hanya Adiyasta yang membersamainya ke mana-mana, dan dalam beragam keadaan."
Tina tersenyum merekah mendengar penuturan Hawa. Ia merasa mendapatkan penghargaan dengan posisinya yang eksklusif sebagai sahabat Farhan. Meski terdengar berlebihan, tetapi itu sungguh bukan dusta bagi perasaannya.
"Ibu berharap persahabatan kalian awet. Kalaupun sewaktu-waktu akan ada perselisihan, Ibu menilai kalian mampu menghadapi itu dengan bijak dan dewasa." Hawa menambahkan ucapannya, kali ini sembari menarik tangan Tina ke dalam genggamannya. "Karena selain Ibu, Farhan sekarang memiliki kalian, dan Ibu berharap Farhan tidak akan pernah kehilangan apa yang sedang dia miliki sekarang."
Baru kali ini Tina merasa dirinya berarti, dan itu karena Hawa yang memberikannya ruang khusus untuk berada di lingkaran putra semata wayangnya. Hal tersebut sontak membuatnya bangga, membuatnya merasa dimiliki dan diinginkan. Berbeda posisi jika ia berada di lingkaran keluarganya yang telah hancur tak ada harapan. Ia hanya digelontorkan uang untuk terus hidup dan bersyukur. Ia dibolehkan pergi apabila tidak cukup dengan harta yang telah diberi.
"Farhan pernah secara tegas mengatakan bahwa ia malu untuk memiliki banyak teman sedangkan ia sendiri berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia bercerita bahwa sekolahnya di huni oleh orang-orang berada, orang-orang golongan menengah keatas, dan Farhan tidak termasuk dalam golongan itu." Hawa tersenyum ketika putranya - Farhan datang setelah dari dapur menyiapkan teh hangat karena sore itu turun hujan lebat.
"Kalian mengobrol apa? Mengapa tidak menungguku, dan kita mengobrol bersama?" tanya Farhan dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Hei, Farhan! Tidak usah iri seperti itu! Ibumu sudah menjadi milikmu berhari-hari, jadi tidak usah kamu cemburu denganku yang membersamai Ibumu beberapa menit saja," protes Tina.
Hawa melepaskan genggamannya pada tangan Tina. Kemudian berucap, "kalian berdua mengobrol saja. Ibu harus ke dapur untuk mencuci piring." Setelah itu Hawa bangkit dan berlalu meninggalkan Tina beserta Farhan berdua.
"Keadaan kalian benar-benar baik," ucap Tina memecah hening di antara dirinya dan Farhan. "Kalian bisa setegar ini setelah hari-hari itu. Kalian sangat hebat," imbuhnya.
Farhan tahu apa maksud Tina berkata seperti itu. Ia tahu kondisi keluarga sahabatnya itu ternyata sangat rumit dan selama ini berangsur menyakiti sang putri. Farhan ingin berduka untuk luka memilukan itu. Namun, ia tidak ingin menempatkan Tina pada posisi yang patut untuk dikasihani.
"Kamu lebih hebat, Tina. Kamu bertahan selama ini. Lebih lama dari aku dan Ibuku yang hanya dalam hitungan hari." Karena bisa saja Farhan telah berakhir bunuh diri apabila ia meminjam posisi Tina dalam beberapa hari. "Kamu selalu terlihat baik-baik saja. Ya, walaupun itu hanya pura-pura, tetapi aku pun belum tentu dapat melakukannya."
"Kita seharusnya tidak membahas ini." Tina tertawa. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengadu nasib dengan Farhan. Ia murni merasa kagum dengan ketegaran sepasang ibu dan putranya itu.
***
Hujan telah reda sempurna. Satu-persatu orang-orang yang meneduh pada pelataran minimarket itu berangsur pergi, meneruskan perjalanan mereka masing-masing. Sedangkan Nadira dan Naufal masih bergeming di sana, entah menunggu apa.
Aroma petrikor menyeruak, menyebar secara alami dan melenakan bagi yang menggemarinya, dan Nadira menjadi salah satunya. Ia termangu di tempatnya, tak membuka suara, seolah-olah tengah menikmati apa yang Tuhan suguhkan kepadanya. Termasuk kebersamaannya yang tak lama bersama Naufal.
"Nadira!"