Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 103



Pilihan Nadira jatuh pada bando mutiara, serta kalung titanium yang memiliki bandul huruf inisial N untuk namanya. Setelah mengelilingi setiap rak aksesoris, gadis itu hanya tertarik dengan dua benda yang kini ada di tangannya. Meski berulang kali Fauzan menawarkan benda-benda yang memiliki model lebih mewah dan harga yang relatif mahal, Nadira tetap bersikeras dengan dua aksesori pilihannya.


"Ini lebih indah, Kak. Cobalah untuk digunakan ke sekolah, pasti akan banyak yang memuji Kakak cantik." Ini kali berikutnya Fauzan menyodorkan benda yang ditemukannya kepada Nadira. Sepasang jepit rambut dengan aksen berlian imitasi berjajar lurus berwarna ungu.


Nadira segera mengambilnya, kemudian mengecek harganya. "Harganya murah, dan modelnya bagus," ucapannya yang seketika menerbitkan senyum pada bibir Fauzan. "Tetapi Kak Na cukup dengan dua ini saja, Sayang. Terima kasih, ya?"


Entah sejak kapan gadis itu membiasakan panggilan 'Sayang' untuk adik sang ketua osis. Kedengarannya begitu hangat hingga membuat Fauzan sendiri merasa senang ketika di panggil dengan panggilan demikian.


"Kak Na, ayolah tambah dua atau satu barang lagi." Fauzan tetap memaksa. Ia ingin Kak Na kesayangannya itu setuju untuk membeli beberapa barang lagi. Ia yakin uangnya akan sangat-sangat cukup meski Nadira berbelanja sepuluh atau lebih aksesori di sana.


Naufal yang hanya memantau di sofa ruang tunggu tampak kerasan menatap lama-lama interaksi antara Nadira dan adiknya. Seketika ia merasa menyesal sebab tak mengenal sekretarisnya itu sejak dulu, justru malah menemukan gadis antagonis yang menjadi kekasihnya pada saat itu.


Diam-diam Naufal pun memimpikan Nadira menjadi kekasihnya, menjadi teman sekaligus sahabatnya, dan juga sosok yang sangat disukai adiknya. Namun, ia sadar jika kedekatan antara dirinya dan Nadira masih sangat sebentar, ia takut jika ternyata penerimaannya terhadap Nadira hanya sebatas karena adiknya menyukai gadis itu saja. Lagi pula, ia pun tidak yakin jika Nadira dapat menerimanya menjadi kekasih. Gadis itu sangat ayu, ia mampu menggaet lelaki mana pun dengan tipe apapun untuk sekadar menjadi kekasihnya, dan Naufal merasa jika dirinya hanyalah segelintir orang yang memiliki rasa kagum berlebih terhadapnya.


Naufal gelagapan. Lelaki itu merasa malu sebab dipergoki melamun ditambah senyum-senyum tidak jelas. "Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya teringat dengan sesuatu yang lucu, jadi tidak sadar tersenyum."


***


Dania terduduk lemas di lantai. Di dalam pelukannya terdapat tubuh Tina yang terguncang oleh isak tangisnya. "Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Hadi bersalah besar dalam hal ini, Hadi membuat kita menderita seperti ini, untuk itu Hadi pantas mendapatkan kebencian dari kita."


Tina tidak dapat berkata apa-apa. Mungkin, barusan gadis itu terlihat sangat gagah karena begitu berani melawan ayahnya. Namun, sekarang semuanya merasa sangat berbeda. Otak dan batin Tina bergelut hebat membuat dirinya menjadi tidak karuan. Hatinya menyumpahinya sebagai anak yang durhaka, dan benaknya menyerukan bahwa segala yang telah dilakukan adalah patut dan tidak keliru.


"Jika Hadi tidak pergi, Bunda tidak akan memaksamu dewasa lebih cepat, Tina. Bunda tidak akan memandangmu kelak memiliki nasib buruk seperti yang Bunda alami. Bunda tidak akan mempersiapkanmu dengan sekeras ini. Mohon maafkan Bunda, tetapi tolong jangan tinggalkan Bunda sendiri di sini." Diana menangis semakin deras. Ia benar-benar takut kehilangan putri semata wayangnya.