
"Kesya masuk, Nadira." Tina berbisik di telinga Nadira. Terlihat Arif menggandeng tangan Kesya hendak menuju lorong sebelum sampai di kelas mereka.
Nadira dan Kesya saling bertatapan, mengunci pandangan, dan mengikuti arah. Kesya terlihat benci sekali pada Nadira, netranya yang menyorot tajam, jelas menjadi buktinya. Sedangkan Nadira, gadis itu hanya sekadar membalas tatapan Kesya terhadapnya, tidak ada yang bermakna sama sekali, sebab Nadira menganggap Kesya bukanlah apa-apa.
Sampai Kesya di sisi Nadira, bahu mereka hampir bersentuhan, jika saja Nadira tidak mengambil jarak beberapa senti yang mengantarainya. "Aku kembali, Nadira. Kita akan kembali beraktivitas seperti dulu lagi, di mana di antara aku dan kamu, hanya ada kamu yang menderita." Itu ancaman yang jelas Kesya tujukan pada Nadira. "Setelah itu kita akan tahu, siapa di antara kita yang paling berkuasa di sini."
Nadira sama sekali tidak terperangah, ancaman itu tidak membuatnya gentar, dia biasa-biasa saja. "Kita tunjukkan saja." Nadira mencekal lengan Kesya tak begitu erat. "Siapa di antara kita, yang bisa melukai paling dalam, yang bisa menyasar benteng pertahanan paling tepat."
"Nikmati halusinasimu, Nadira. Masih ada waktu, untuk berkhayal tinggi, sebelum aku menjatuhkanmu nanti." Kesya tahu dirinya yang akan menang. Nadira bukanlah tantangan untuknya, Nadira hanyalah gadis cupu, yang kini sedang mengenakan topeng saja.
"Semoga berhasil mengambil hati lelaki yang telah membuangmu, Kesya." Nadira tahu, Kesya sedikit terperanjat, jarak mereka dekat, Nadira bisa mengetahuinya walau tak menatapnya dengan lekat. "Walau aku yakin, Sang Ketua Osis tidak akan mengotori tangannya dengan memungut sampah yang telah dibuangnya, tapi semoga saja, semoga dia berkenan mengambilnya lagi." Sebenarnya Nadira tidak ingin menabuhkan genderang perang sekeras ini. Akan tetapi, ada sesuatu yang perlu dipertahankannya, harga dirinya, hanya itu saja.
"Kamu memulainya, Nadira." Kesya tidak menyangka jika Nadira akan seberani ini, akan senekat ini dengan memulai pertarungan terlebih dahulu.
Perseteruan lirih Nadira dan Kesya sontak dibubarkan dengan suara nyaring lonceng tanda pelajaran akan segera dimulai. Nadira dan Kesya benar-benar kesal, pasalnya pembicaraan mereka belum usai.
"Oh god," gumam Kesya tak senang. "Ayo Arif, kita pergi dari sini," imbuhnya seraya memicingkan matanya di hadapan Nadira, sesaat sebelum menarik lengan Arif untuk dibawanya pergi.
Menatap punggung Kesya dan Arif yang semakin menjauh, dan akhirnya benar-benar menghilang ditelan anak-anak tangga yang membawa mereka ke lantai dua, di mana di sana adalah kelas mereka, deretan kelas ilmu pengetahuan alam. Kesya yang seperti itu, ternyata memilih jurusan ilmu pengetahuan alam sebagai studinya di sekolah menengah atas, sebenarnya itu tak sungguh-sungguh, dia hanya ingin terkenal, sebab kasta tertinggi jelas dipegang oleh siswa-siswi jurusan ilmu pengetahuan alam.
"Kamu memulainya, Nadira." Tina tidak menyangka dengan keputusan Nadira. Jelas Tina mendengar semuanya tadi, dia juga melihat Nadira begitu berani, hingga tidak ada getaran apa pun di tubuhnya.
"Iya, aku yang memulainya, dan mengakhirinya." Tentang risikonya biarkan diurus nanti saja.
Tapi hati Naufal? Bukankah lelaki itu yang akan Nadira gunakan sebagai media balas dendam? Apakah Nadira akan menyakiti lelaki itu hanya karena egonya untuk membasmi Kesya?