Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 20



"Apa Bapak tahu jika kebiasaan yang barusan Bapak katakan, kita dapat menyebutnya dengan lebih ringkas lagi?" Naufal melemparkan pertanyaan, entah untuk apa tujuannya.


"Kasih sayang, betul begitu, bukan?" Anggapan Tama seperti itu, lalu bagaimana dengan tanggapan Naufal?


"Sangat tidak tepat! Lebih tepatnya adalah memanjakan. Dan hal tersebut kini berimbas buruk terhadap perilaku Kesya, apa Bapak sadar?" Naufal mengatakannya, dan Tama terperangah dibuatnya. 


Bugh! Pukulan keras mendarat pada wajah Naufal. Tama kehilangan kesabarannya, karena semua ucapan Naufal begitu menohok dan secara tidak langsung telah mencelanya. 


"Kamu begitu banyak bicara!"  Tama murka, dia sungguh tidak terima jika ada yang menilainya dengan buruk.


"Hentikan, Pak. Kita akan batalkan hukuman untuk Kesya sekarang, akan tetapi jangan sakiti siswa kami." Bapak Kepala Sekolah panik, hingga tercetus ide bodoh dengan menyetujui permintaan Tama. 


"Persis seperti ini, Tuan Direktur. Ternyata sifat temperamental dan kasar yang dimiliki Kesya menurun dari Ayahnya. Sangat serasi sekali." Naufal tampak biasa-biasa saja walau kenyataannya bibirnya berdarah. 


"Sudah, Naufal. Kita turuti saja daripada kamu babak belur seperti ini." Bapak Kepala Sekolah begitu mengkhawatirkan Naufal. Namun, Naufal sama sekali tidak menyetujui ucapan Bapak Kepala Sekolah.


"Tidak bisa seperti itu, Pak. Kita harus tetap memberikan hukuman untuk Kesya." Naufal yang tidak pernah goyah, selalu teguh memegang pendiriannya, memilih untuk menegakkan keadilan di tangannya. 


"Bapak ingin memukul saya lagi? Saya sama sekali tidak keberatan." Naufal menawarkan diri untuk menjadi sasaran pukulan Tama yang berikutnya. "Tetapi setidaknya setelah ini Bapak bisa berkaca di rumah, dan membenahi semua yang telah berantakan." Sebenarnya Naufal berusaha menyadarkan Tama, hanya saja Direktur Utama tersebut begitu sulit menangkap maksud dari perkataan Naufal. 


"Apa yang berantakan? Apa yang saya lakukan selalu benar dan tepat!" Sangat angkuh! Tama benar-benar congkak dengan membanggakan dirinya secara berlebihan. 


"Anda seharusnya bisa melihat bagaimana buruknya cara Anda mendidik Kesya. Hal tersebut perlu diperbaiki, atau akan banyak siswa lain yang dirugikan karena ulahnya yang tidak bermoral." Naufal sudah kehilangan tutur kata sopan nan lembut karena sifat keras kepala Tama. Biarkan untuk kali ini sarkasme yang dikeluarkannya agar setidaknya dapat seimbang dengan lawan yang dia ajak berdebat. 


"Hentikan Bapak Tama. Kita selesaikan ini dengan cara kekeluargaan saja. Apa yang Bapak inginkan maka itu yang akan Bapak dapatkan," tutur Bapak Kepala Sekolah memberikan jalan keluar yang sama seperti sebelumnya. 


"Rendah sekali. Persis seperti anak kecil yang merengek saat meminta sesuatu. Silakan Anda terima jika Anda merasa tidak malu." Lagi-lagi mulut Naufal yang tajam menciptakan kubangan amarah yang kian meluas dalam diri Tama. Andaikan saja Naufal mau mengalah, maka pertarungan yang sangat menyakitinya pasti akan berakhir.


Bugh! Bugh! Bugh! Perut, perut lagi, dan berakhir pada wajah Naufal. Tama benar-benar tidak terima dengan nistaan yang Naufal lemparkan padanya. Sangat mencoreng nama baiknya, bukan-bukan seperti itu tepatnya, yang benar adalah menjatuhkan harga dirinya. 


"Apa Anda benar-benar akan berbenah setelah ini?" Entah tercipta dari apa tubuh Naufal. Lelaki tersebut bertindak seolah tidak ada pukulan yang diberikan padanya. 


"Iya. Namun bukan diriku yang akan dibenahi. Melainkan mulutmu yang sangat menjijikkan itu!" Tama mengancam. Bugh! Bugh! Bugh! Perut Naufal ditinju berulang kali oleh Tama. 


"Berhenti, Pa!" pekik Kesya seraya tergopoh-gopoh memasuki ruangan Kepala Sekolah. "Jangan sakiti Naufal, Pa." Kesya berdiri membelakangi Naufal, seolah sedang melindunginya dari pukulan yang mungkin akan kembali Tama berikan.


"Kamu membela laki-laki itu? Bahkan dia yang telah membuatmu mendapatkan hukuman ini." Tama tidak menyangka jika putrinya akan membela Naufal. 


"Iya Kesya tahu, dan Kesya tidak peduli dengan semua itu." Kesya hampir meneteskan air matanya, mungkin karena baru saja menyaksikan aksi ayahnya yang beringas. 


"Bahkan laki-laki itu telah berulang kali mencelamu, Sayang. Untuk apa kamu membelanya?" Tersirat kekecewaan dari netra Tama. Pria tersebut tidak rela putrinya membela lelaki lain selain dirinya.


"Kesya tidak peduli, Pa. Biarkan Naufal melakukan segala hal sesuka hatinya. Papa jangan memukulnya lagi, atau Kesya akan sedih." Yang dikatakan Kesya adalah cinta, dan kesungguhannya terlihat jelas di matanya kala memohon pada ayahnya. 


Tama mendengus kesal, ia tidak habis pikir dengan pembelaan Kesya terhadap Naufal. Hingga akhirnya Tama memilih untuk kembali ke kantornya, akan tetapi sebelum itu dia berpesan sesuatu kepada Bapak Kepala Sekolah, "Tadi saya telah memohon agar hukuman putri saya dicabut. Namun sekarang yang akan terjadi adalah sebaliknya, saya akan membuat pihak sekolah memohon pada saya." Setelah mengucapkan itu, Tama pergi.