
"Yeay Kak Wildan akhirnya datang juga!!"
Riuh pekik anak-anak kecil sontak menggema, menyambut kedatangan Wildan yang bahkan urung genap turun dari motornya.
"Tunggu ya, Anak-anak. Kak Wildan minta sedikit waktu lagi untuk bersih-bersih." Setelah memarkir kuda besinya dengan benar, Wildan lekas menghampiri anak-anak itu seraya menyaliminya bergantian. "Kalian tidak apa-apa kan jika menunggu sebentar lagi?"
"Tidak apa-apa, Kak!" jawab mereka serempak.
Mendengar itu Wildan merasa tenang. Ia lekas meninggalkan anak-anak kecil menggemaskan tersebut di teras rumahnya untuk mempersiapkan dirinya yang bersih. Namun, belum sampai langkahnya di ambang pintu kamarnya, seorang gadis kecil dengan sebuah kruk di tangan kirinya datang menghampiri. Senyum manisnya tampak tersungging sempurna, seolah dirinya tengah menjadi manusia paling bahagia.
"Kami menunggu Kakak dari satu jam yang lalu. Aku pikir, Kakak tidak akan pulang terlambat." Gadis kecil itu berusaha merapatkan jaraknya dengan sang kakak kendati ia harus tertatih-tatih untuk melakukannya. "Tetapi tidak apa-apa. Aku dan teman-temanku bisa lebih banyak bermain sebelum memulai pelajarannya."
Wildan bergerak merendahkan tubuhnya. Ia berlutut di hadapan gadis kecil itu, kemudian mendaratkan kecupan singkat pada keningnya. "Maaf, ya?"
"Bukankah sudah aku bilang tidak apa-apa? Aku senang Kakak dapat sampai di rumah dalam keadaan selamat, lalu kita bisa kembali bersama-sama." Gadis kecil tersebut masih mempertahankan senyumnya. Ia terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Tidak ada bosannya aku berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan Kakak setiap hari. Meski ini akan terdengar berlebihan, tetapi aku benar-benar merasa sangat khawatir jika Kakak tidak pulang tepat waktu seperti hari ini. Aku selalu berpikir yang tidak-tidak, dan karena itu aku harus susah payah menyangkalnya. Aku takut Kakak-"
Di ruang tamu itu, Wildan bersama adik perempuannya, Hyrana, saling menunjukkan keadaan diri mereka kepada satu sama lain. Kekhawatiran acap kali bertandang, menyesakkan dada gadis kecil berusia delapan tahun itu ketika mendapati kakaknya, Wildan, tak kunjung sampai di rumah ketika sampai waktu usainya kegiatan persekolahan. Ia mengaku berteman dengan trauma atas ketiadaan kedua orang tuanya dua tahun silam sebab kecelakaan yang berjaya merenggut nyawa keduanya. Oleh karena itu, Hyrana ingin menjaga satu-satunya pelita hidupnya yang tersisa, di mana darah yang sama dengannya mengalir pada sosok itu sebagai saudara kandungnya yakni Wildan. Setiap detik yang dilaluinya habis digunakannya untuk berdoa, mengemis kepada Tuhan atas perlindungan untuk lelaki yang amat disayanginya itu. Hyrana hanya ingin Wildan-nya dapat kembali membersamainya seusai berkegiatan di luar sana.
"Belilah ponsel untuk memberi kabar jika akan pulang terlambat. Kita memiliki telepon rumah, tetapi terlihat sangat tidak berguna. Jadi, ayo gunakan itu untuk saling berkabar. Aku perlu mengetahui keadaan Kakak." Hyrana melepas pelukan Wildan dengan perlahan-lahan.
"Dari mana kita memiliki uang untuk membelinya? Harga ponsel tidaklah semurah jajanan pasar, Hyra." Jika mampu, sudah sejak lama Wildan ingin membeli benda itu. Tujuannya sama sekali tidak muluk-muluk, ia hanya ingin menggunakannya untuk berkabar dengan sang adik. "Kakak tidak ingin merepotkan Kakek Gani, beliau sudah sangat banyak membantu kita sampai saat ini."
Sepasang saudara itu menjadi anak asuh Kakek Gani yang merupakan tetangga mereka, tepat setelah tujuh hari kematian kedua orang tua mereka. Melihat Wildan dan Hyrana yang seolah kehilangan arah sekaligus kehilangan asa, Kakek Gani tak kuasa membiarkannya. Semasa hidupnya, pria baya itu tidak memiliki siapa-siapa, ia merasa kesepian, serta kesedihan setiap saat, hingga akhirnya keputusan untuk menjadikan Wildan dan Hyrana bagian dari hidupnya dipilihnya tanpa pikir panjang.
"Gunakan uang tabunganku. Kita beli jenis ponsel dengan harga yang paling murah. Kita pentingkan fungsinya. Tidak perlu yang mahal." Hyrana bersikeras.
"Jangan gunakan uangmu untuk hal itu, Hyra. Kakek punya uang, dan itu akan cukup kalian gunakan untuk membeli ponsel," sahut Kakek Gani setelah puas mendengar percakapan kakak beradik itu.