Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 135



Bugh! 


Arif tak sanggup menahan lagi. Tanpa aba-aba ia melayangkan tinju pada wajah Naufal hingga membuat tubuh sang ketua osis itu terpelanting saking kerasnya pukulan yang didapatnya.


"Hentikan, Arif!" Kesya memekik menengahi. Gadis itu lekas menarik tubuh Arif yang paling dekat dengan jangkauannya. "Dengarkan aku, Naufal. Sesaat di perjalanan tadi, aku dan Arif mengalami kecelakaan hingga membuat kami memiliki luka-luka yang perlu ditangani." Kesya bergerak membuka jaketnya, dan menunjukkan adanya beberapa luka di kedua tangannya. "Ini buktinya, dan tunggu sebentar." Kemudian Kesya beralih membuka jaket Arif untuk menunjukkan luka-luka yang lebih parah di tubuh kekasihnya tersebut. "Arif pun memilikinya."


Naufal terpaku menatap luka-luka yang didapati oleh Kesya dan Arif. Keduanya sama-sama memiliki perban dan penutup luka di tangannya. Hanya saja, Arif yang terlihat lebih parah. Lelaki itu pun mempunyai lebam, serta banyak luka goresan di dadanya.


"Kami berusaha menyembunyikannya agar acara ini tidak bubar karena luka-luka ini berpotensi mengalihkan perhatian. Namun, melihatmu yang semakin menyudutkan kami hingga memberikan ancaman seperti tadi, terpaksa kami menunggu fakta ini." Kesya kembali mengenakan jaketnya, lalu berjalan menuju posisi Naufal yang hanya beberapa langkah di depannya. "Dan lagi. Apa yang dirimu katakan tentang fungsi kami di organisasi yang hampir tidak ada sama sekali, itu adalah sesuatu yang sekarang akan aku jelaskan di sini. Aku berharap semoga harga dirimu tidak akan terlukai, jika kenyataannya mencari produsen untuk menjadi sponsor dalam penyelenggaraan pameran bukanlah sumbangsih yang paling berarti."


"Jangan merasa paling berkontribusi jika hanya itu yang dapat dirimu tampakkan kepada kami, Naufal. Akhir-akhir ini dirimu ke mana? Apa yang telah dirimu lakukan untuk meningkatkan progres persiapan acara ini? Aku lihat-lihat, tidak ada aksi lagi setelah dirimu menyampaikan pencapaianmu bersama Nadira mengenai keberhasilan menggaet dua produsen untuk menjadi sponsor dalam kegiatan ini." Kini Arif yang bergiliran menghadapi Naufal. Ia terlihat sangat kesal karena telah dinilai begitu rendah. "Dirimu hanya membuang-buang waktu untuk bersenang-senang bersama Nadira. Sedangkan kami, berusaha memanfaatkan waktu untuk mengerjakan yang kami bisa demi memberikan yang terbaik untuk acara ini."


Ya, tanpa sepengetahuan Naufal, Arif telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pameran mendatang. Ia telah riset mengenai lokasi di mana diadakan pameran tersebut nantinya. Selain itu, ia juga sempat mengundang perwakilan dari masing-masing sekolah yang akan berpartisipasi untuk merapatkan segala aspek yang berkaitan dengan kegiatan pameran yang tak lama lagi akan diselenggarakan. Semua itu ia lakukan berdua dengan Kesya, sebab gadis itu berwenang memerintah para sie untuk mengerjakan tugas-tugas mereka secara cepat sesuai dengan bidang masing-masing.


"Dan barusan apa? Dirimu ingin aku dan Kesya didepak dari organisasi ini?" Arif menaikkan sebelah alisnya. Ia sengaja menunjukkan dirinya yang angkuh agar seimbang dengan sang ketua osis di hadapannya itu. "Coba dipertimbangkan lagi, ya? Sudah tujuh puluh lima persen persiapan acara ini diatasi olehku dan Kesya. Jadi, jangan sampai dirimu memaksa kami untuk menghinamu secara terang-terangan nanti."


Arif dan Kesya lekas melenggang pergi. Keduanya meninggalkan Naufal yang bergeming di tempat parkir itu sendiri. Mereka enggan berbaik hati untuk sedikit mengkhawatirkan perasaan sang ketua osis itu sebab telah dikata-katai.