
"Nadira, rumahmu ada di mana?" Naufal jelas tidak tahu di mana alamat rumah Nadira.
"Kamu lurus saja, rumahku ada di Perumahan Sekar Wangi di sisi kiri jalan," terang Nadira.
Naufal hanya mengangguk paham. Dia mengikuti ucapan Nadira, dan kembali fokus pada jalanan. Sampai tiba akhirnya di Perumahan Sekar Wangi yang Nadira ucapkan beberapa menit yang lalu, Naufal berhenti sebentar sebelum masuk ke dalam kawasan perumahan tersebut.
"Turunkan aku di sini saja. Kamu tidak perlu mengantarkan aku sampai rumah." Nadira tidak ingin merepotkan Naufal lebih banyak. Dia bisa meneruskan perjalanan sampai di rumahnya dengan jalan kaki. "Terima kasih, ya." Tanpa menunggu persetujuan dari Sang Ketua Osis, Nadira langsung turun dari motor Naufal, dan melepaskan helm yang dikenakannya, lantas memberikannya pada lelaki itu.
"Tidak seperti ini Nadira." Naufal tidak menerima helm yang Nadira berikan padanya. "Tidak sopan menurunkanmu di tengah perjalanan seperti ini." Naufal jelas tahu mana yang lebih pantas. Lelaki itu mendapatkan didikan yang sangat baik dari kedua orang tuanya, dan organisasi yang digelutinya.
"Tidak masalah, Naufal." Bukan seperti itu maksud Nadira. "Aku hanya ingin kamu lekas pulang. Rumahku sedikit jauh dari sini, jika kamu mengantarku sampai rumah, itu hanya membuang-buang waktumu saja." Nadira sedikit tahu watak Sang Ketua Osis. Naufal enggan membuang-buang waktu, itu sudah jelas sekali. Naufal sering mengatakannya kala terganggu, atau terusik. Persis seperti yang dikatakannya pada Kesya waktu itu.
"Tapi, Nadira." Naufal tidak diberi kesempatan untuk berbicara lagi, kala Nadira secara tiba-tiba menarik salah satu tangannya, dan menuntutnya untuk menerima helm yang gadis itu berikan.
"Sampai berjumpa besok, Naufal!" Nadira melambaikan tangannya untuk Naufal. Kemudian dirinya segera berlari, agar lekas sampai di rumahnya, tanpa memedulikan Naufal yang menatapnya dengan terkejut.
......................
Sampai di rumah, Nadira melihat ibunya telah menunggu kepulangannya dengan cemas. Yuliana duduk di teras, dengan secangkir teh hangat di tangannya. Wanita itu cantik sekali, hingga kemolekan itu menurun pada Nadira yang secara langsung telah menjadi sosok Yuliana dalam versi reinkarnasi.
"Bu, Nadira pulang." Tanpa memedulikan aroma keringat di tubuhnya, Nadira langsung memeluk Yuliana. Menggemaskan sekali. "Maaf membuat Ibu menunggu lama," imbuhnya seraya melerai pelukannya pada tubuh ibunya.
"Nadira membuat proposal tadi," jawab Nadira.
"Pulang sama siapa?" Yuliana melihat putrinya jalan kaki, dan ini sudah terlalu sore untuk waktu angkutan umum melintas, pasti ada yang mengantarnya.
"Naufal." Ibunya pasti bertanya lagi setelah ini.
"Siapa Naufal?" Sebab seingat Yuliana, hanya ada dua nama yang menjadi cerita Nadira akhir-akhir ini. Farhan, dan Tina. Lalu siapa Naufal?
"Dia Ketua Osis, Bu. Dia yang mengantarkan Nadira pulang, karena kami mengerjakan proposal bersama." Nadira menjelaskan dengan sederhana.
"Apa dia sahabatmu juga, seperti Farhan dan Tina?" Bagi Yuliana seorang lelaki yang mengantarkan seorang gadis pulang, tidak sesederhana yang Nadira pikirkan. Seperti yang Farhan lakukan waktu itu, lelaki tersebut ternyata sahabat Nadira, alasannya berarti sudah jelas.
"Tidak, Bu. Kami hanya rekan organisasi, dan dia orang yang baik." Nadira dan Naufal hanya rekan organisasi, bukan sahabat seperti yang mungkin Yuliana pikirkan. "Jadi dia berkenan mengantar Nadira pulang, karena kami terlibat dalam keperluan yang sama."
"Baiklah kalau begitu." Yuliana mengangguk. "Kamu lekas bersih-bersih, ya. Ini sudah sore."
"Baik, Bu. Nadira masuk dulu." Nadira segera menuruti perintah ibunya. Sebenarnya tubuhnya sudah terasa lengket sekali. Nadira ingin segera mandi, dan tubuhnya akan segar kembali.