
Nadira telah menunggu kedatangan Naufal di teras rumah. Ia tampil sangat cantik pada hari ini, rambutnya diikat ekor kuda dengan serta anak rambut yang ia sisakan tergerai di pelipisnya. Ia merias wajahnya dengan natural, tetapi terlihat begitu manis.
Persis seperti perjanjian sore hari kemarin bahwa Naufal akan menjemputnya, kini sang ketua osis itu telah memarkirkan motornya di hadapan Nadira. "Kita berangkat sekarang?"
Nadira mengangguk. "Sekarang saja. Aku telah berpamitan dengan orang tuaku," jawab gadis itu.
"Kalau begitu, ini." Naufal memberikan helm lain selain yang dikenakannya kepada Nadira. "Demi keselamatan, walaupun dengan itu tatanan rambutmu akan sedikit berantakan," imbuhnya.
Nadira hanya menyunggingkan senyumnya untuk menjawab perkataan Naufal. Ia lekas menerima helm tersebut dan mengenakannya. "Sudah."
"Ayo naik!"
***
Waktu masuk sekolah kurang dari dua puluh menit, dan bodohnya Kesya masih menanti Arif untuk menjemputnya. Otaknya terus berkoar bahwa Arif tidak akan datang untuknya seperti biasa, akan tetapi nalurinya tetap bersikeras memerintah untuk tetap berada di sana, menunggu Arif seperti biasa.
"Sayang, kamu akan terlambat jika tidak segera berangkat sekarang," tutur Tama sembari merangkul pundak Kesya serta memberikan usapan lembut di bahunya.
Kesya menggelengkan kepalanya. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak beranjak dari sana. "Kesya yakin Arif akan datang tak lama lagi, Pa. Tolong tunggu sebentar lagi."
Tama sebenarnya khawatir Kesya akan terlambat sekolah, dan dirinya juga pasti akan terlambat ke kantor. Namun, ia tak ingin memaksa kehendak putrinya itu, dan memilih untuk menemaninya sampai lelaki yang dinantikannya benar-benar datang.
"Kalian berdua sebenarnya memiliki hubungan apa? Jika sama seperti perkataanmu tadi bahwa rumah Arif tidak searah dengan rumah kita, mengapa ia ingin repot-repot menjemput serta mengantarmu pulang setiap hari?" Sebelum ini Tama tak pernah ingin tahu banyak dengan kehidupan putrinya kecuali urusan sekolah. Hanya saja pada kali ini ia kehabisan topik pembicaraan, jadi rasanya tidak ada salahnya bagi Tama untuk menanyakan hal demikian.
"Namun, Papa yakin temanmu tidak sesederhana itu menganggapmu. Dia pasti memiliki perasaan lebih terhadapmu."
Kesya tahu, dan Kesya menyesal sebab sampai pada detik ini ia tak dapat memberikan perasaan yang sama terhadap Arif. Kendati saat ini hatinya tengah meraung-raung menginginkan lelaki itu kembali di sisinya, tetapi cintanya terhadap Naufal belum dapat berpindah kepada Arif. Rasa inginnya terhadap kedua lelaki itu berbeda, meski memiliki kadar yang sama. Entah bagaimana cara menjelaskannya.
"Apa Papa menyukainya? Maksudku apabila kita bersama, apakah Papa setuju?" tanya Kesya.
"Mengapa tidak? Dia lelaki baik dan terlihat begitu peduli kepadamu. Daripada ketua osis sialan itu, bukankah lebih baik dirimu bersama dengan sahabatmu itu?"
Ya, memang lebih baik bersama Arif. Namun, cinta serta obsesi Kesya masih lah terhadap Naufal, mau sejahat apa pun perlakuan lelaki itu kepadanya. Bukannya Kesya tak pernah berusaha untuk berhenti menginginkannya, hanya saja hasrat untuk memilikinya tetap menggebu-gebu walaupun Kesya telah berupaya kuat melupakannya dan membencinya dengan mengingat-ingat segala perbuatannya.
Sepuluh menit berlalu, dan Arif yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, hingga membuat Kesya merasa semakin gelisah. Apakah lelaki itu masih bertahan dengan kemarahannya? Apakah ia tak akan memaafkan Kesya apabila gadis itu mengulang permintaan maafnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan serta prasangka yang bergelayut dalam benaknya.
"Apakah dirimu masih ingin menunggunya? Jika dirimu masih menanti-nanti, pasti dirimu akan terlambat masuk sekolah." Tama pun resah. Ia takut putrinya terlambat dan mendapat sanksi dari sekolah. Ia bahkan belum selesai dari perasaan kesalnya terhadap hukuman 'skors dua minggu' kala itu, dan ia tak ingin memupuk kesalnya dengan hukuman lain-lainnya.
***
Arif telah tiba di sekolah dengan perasaan tidak enak sebab ia tak bersama Kesya. Ia berharap gadis itu tak menunggu untuk dijemput olehnya, tetapi sialnya justru dia tak mendapati keberadaan gadis itu di mana pun bahkan setelah mengelilingi hampir setiap sudut sekolah.
"Seharusnya aku tidak memedulikannya. Aku masih kesal dengan perbuatannya. Namun, mengapa aku merisaukannya seperti ini sekarang."
Niat hati ingin menghukum Kesya, Arif justru merasa terhukum dengan sikapnya yang menjauhi gadis itu. Arif mengkhawatirkan Kesya yang akan terlambat dan mendapat sanksi, yang lebih parahnya lagi gadis itu justru tak masuk sekolah karena jatuh sakit.