Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 70



Selepas mengantar Kesya, Arif tak langsung bertolak ke rumahnya. Suasana hatinya benar-benar buruk kala itu, dan ia memutuskan untuk kembali mendatangi taman kota. Di sana, Arif tak melakukan banyak hal, ia hanya mengambil ruang untuk duduk dan termenung hingga puas.


Entah mengapa ia merasa begitu terhina ketika Kesya menyodorkannya kepada Jihan. Harga dirinya terlukai, tetapi ia tak kuasa untuk memarahi. Kesya begitu ia sayangi, hingga pergi menjadi satu-satunya solusi yang dia sanggupi.


Sejenak Arif mentertawakan dirinya, kemudian setelahnya ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya tanpa disadari. "Entah bodoh atau terlalu cinta, aku merasa kedua itu tidak ada bedanya. Faktanya aku selalu terasing mau sebesar apa pun upayaku untuk membahagiakanmu. Aku hanya menginginkan sedikit pengakuan darimu bahwa aku pantas menjadi bagian dari hidupmu meski hanya sebagai sahabat sekalipun. Namun, semakin lama tingkahmu semakin menjadi-jadi, Kesya. Aku tidak menyangka dirimu sungguh-sungguh menginginkan aku pergi."


Arif tak apa jika Kesya tergila-gila dengan lelaki lain selain dirinya. Arif tak apa jika Kesya tak bersedia menerimanya sebagai kekasih atau apa pun yang sejenisnya. Arif tak apa jika Kesya enggan menerima cintanya dalam bentuk komitmen berkepanjangan. Namun, jika Kesya terang-terangan beraksi untuk menyingkirkannya, maka Arif tak lagi mendapati nilai dirinya dalam pandangan gadis pujaannya itu. Lelaki itu merasa rendah dan tak berarti.


Sore itu sendu menyerang lelaki tangguh yang selama ini berusaha menopang lunglai dan tak berdayanya dengan senyum serta kepeduliannya terhadap gadis pujaan hatinya. Saat ini ia terluka hebat, tampak parah, dan menyiksanya tanpa terlihat kentara. Ia sendirian, sekarang. Tak memiliki satu pun sosok yang dapat menjadi temannya bercerita, menunjukkan rasa dari deritanya.


Arif tak ingin lekas pulang dan menunjukkan raut tak bersemangatnya kepada orang-orang rumah. Ia rela menyita banyak waktu hanya demi melukis air muka yang biasa-biasa saja, tak menyimpan duka, maupun menahan luka. Ia membebaskan tangisnya berderai ke mana-mana, membasahi seluruh wajahnya hingga sebagian depan jersey yang dikenakannya.


Ketiganya menikmati makan sore mereka di kamar si kecil tampan, yakni Fauzan. Masing-masing dari mereka tengah menyangga mangkuk berisi sup telur dengan tambahan ayam dan sayur demi menemani Fauzan melahap makanan bergizi tersebut.


"Aku tidak menyangka jika selama ini dirimu begitu mahir memasak. Aku sangat menyukai sup buatanmu ini, Naufal," puji Nadira selepas menghabiskan beberapa suap sup buatan Naufal. Gadis itu tak dapat berhenti mengagumi cita rasa masakan sederhana Naufal. Ia begitu menyukainya, dan jika masih ada mungkin ia tak sungkan untuk menambah.


"Aku sangat senang mengetahui dirimu menyukainya, Nadira." Naufal tersenyum simpul. Sejujurnya ia tak begitu menikmati masakannya sendiri. Ia lebih menikmati kebersamaannya dengan Nadira, meski secara spesifik ia tak dapat menjelaskan perasaan apa yang membuatnya sangat betah berlama-lama di sisi gadis itu.


"Kak Na, terima kasih karena telah menemaniku makan hari ini," tutur Fauzan menyela, sekaligus mengalihkan perhatian dua orang di hadapannya. "Jujur saja Fauzan merasa sangat kesepian karena tinggal berdua saja dengan Kak Naufal. Fauzan menginginkan sosok lain yang bersedia menemani Fauzan, seperti Kak Na saat ini." Fauzan memberikan tatapannya yang teduh dan penuh pengertian kepada Nadira. Lelaki kecil itu sungguh menawan meski pucat hampir mendominasi wajahnya. Dan Nadira tak bisa untuk tidak terpesona ketika disuguhkan penampakan indah yang demikian. "Sering-sering datang kemari ya, Kak? Jangan menungguku mengundang Kakak terlebih dahulu," pintanya.


Nadira mengangguk singkat tanda menyanggupi permintaan Fauzan. Ia tak memiliki pilihan lain selain menurutinya, sebab anak itu sangat pendai memikat, menjerat, dan Nadira telah terjebak. Fauzan adalah anak biasa, dia sederhana, dan tampak mudah bahagia. Tak banyak ketentuan untuknya mengklaim sesuatu sebagai hal yang disukainya, ia akan suka apabila nalurinya berkata bahwa hal yang bersangkutan adalah sesuatu yang baik dan tidak mendatangkan bahaya. Fauzan hampir tidak pernah merengek kecuali ia begitu menginginkan es krim. Dan kini, apakah ia akan merengek jika begitu menginginkan Nadira?