Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 96



"Kalian berbicara tanpa aku? Apakah kalian menyembunyikan sesuatu?" Tina hadir di tengah-tengah Nadira dan Farhan. Ia datang dengan raut wajah tidak senang. "Memangnya mengapa jika aku tahu? Persahabatan yang ada selama ini memiliki tiga orang, bukan hanya kalian berdua saja," imbuhnya protes.


Nadira dan Farhan serempak mengembuskan napas dengan kasar. Mereka berdua seketika melupakan Tina, salah satu formasi dalam lingkaran mereka.


"Maafkan kami, Tina. Sungguh ini bukan bermaksud untuk menyembunyikan sesuatu darimu. Tepatnya adalah menyembunyikan dari anak-anak kelas." Farhan menyunggingkan senyumnya, kemudian ia menghampiri Tina untuk memberikan elusan lembut di puncak kepala gadis itu. "Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami berdua jika tanpamu juga tak berarti apa-apa."


Mendengar hal itu Tina merasa tenang. Ia percaya jika kedua sahabatnya sama sekali tidak berniat untuk mencurangi dirinya. Kini, ia sama sekali tidak berminat untuk mengungkit perbincangan Nadira dan Farhan barusan. Pun dirinya tak selera untuk berusaha menguliknya, dan memilih untuk membiarkannya.


***


Jam istirahat tiba, itulah waktu yang ditunggu-tunggu oleh para siswa dan siswi setelah hampir jenuh mendengarkan penjelasan guru. Sama halnya dengan Kesya, gadis itu mengaku pusing sekali memahami mata pelajaran fisika. Sialnya, guru yang memegang mata pelajaran itu pun ternyata sangat galak sehingga membuatnya tak dapat mempelajari betul-betul setiap materi yang disampaikan.


"Hai, kamu terlihat begitu lesu. Ada apa, Sayang?" Arif datang menghampiri meja Kesya di kantin setelah beberapa saat yang lalu ia berada di ruang fasilitas olahraga untuk membahas perihal pengaturan waktu latihan basket dengan sang pelatih. "Maaf aku baru datang. Pasti aku membuatmu menunggu lama."


"Justru kamu harus datang, Kesya. Sang kapten ini membutuhkan pujaannya agar tidak lumpuh di pertandingan." Arif menggombal. Namun, jujur saja ia sangat senang melakukan hal demikian kepada Kesya yang kini telah menjadi kekasih barunya.


"Tidak usah berlebihan. Baik dengan atau tanpa aku, dirimu harus memenangkan pertandingan itu. Kebanggaan sekolah telah bertengger di pundakmu sebagai penghargaan sekaligus harapan. Jadi, dirimu harus menang demi sekolah ini dan demi aku," jawab Kesya.


Tak lama setelah perbincangan itu, Kesya mendapati Nadira dan Naufal berjalan bersama lalu duduk bersama di salah satu meja kantin. Keduanya terlihat sedang bercengkrama serta sesekali bergurau ria, dan Kesya merasa sedikit terluka ketika menyaksikannya.


"Apa dirimu baik-baik saja?" Menyadari kekasihnya yang terpaku menatap ke arah meja Naufal dan Nadira, Arif menyempatkan diri untuk menanyakan tentang perasaan gadisnya yang jelas terganggu apabila diperhatikan dari raut wajahnya. "Atau perlu aku usir mereka agar kita dapat makan siang dengan tenang?"


Kesya lekas menggelengkan kepalanya. Ia terlihat sangat kejam dengan air muka yang dipasang datar serta sepasang mata yang menatap tajam. "Tidak perlu, Sayang. Kebahagiaan mereka hanya sebentar, sangat-sangat sebentar. Biarkan mereka bersama di waktu yang tidak akan lama, biarkan mereka meyakini bahwa tanpa satu sama lain mereka tidak akan bahagia. Lalu kemudian, jika sudah tiba waktu yang tepat aku akan datang dan menghancurkan mereka dengan membuat prahara di tengah-tengah mereka."