Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 72



"Pulang lah, Kesya. Dirimu tidak akan mendapatkan apa pun dengan kemari," bisik Arif sesaat tepat di telinga Kesya, kemudian setelahnya pria itu masuk ke dalam rumahnya sembari berusaha keras mengabaikan gadisnya di luar sana sedangkan hatinya meronta-ronta untuk mendekapnya.


Kesya merasa sedih mendapati Arif yang bersikap seperti itu. Dia memang berulang kali meminta lelaki tersebut untuk pergi, meminta lelaki tersebut untuk menjauh dan berhenti mencintainya. Namun, berbeda sekali dengan kali ini. Kesya justru tak ingin Arif pergi, dia ingin lelaki tersebut tetap bersamanya, untuk menjadi sahabatnya. Karena Kesya masih menjatuhkan hatinya kepada Naufal seorang.


"Hai, anak Ibu," ujar ibu kandung Arif yang mendapati putranya masuk ke dalam rumah. "Ada yang mencarimu, Nak. Apa dirimu telah menemuinya?"


Arif menatap ibunya dengan netra sendu. Ia yakin Kesya masih berada di teras, menyimak dengan baik percakapan ibunya barusan. "Arif sedang tidak enak badan, Bu. Lagi pula Arif telah berpamitan kepadanya untuk masuk lebih dulu. Jadi, tolong Ibu saja yang menyambutnya dan mengajaknya mengobrol." Arif tidak ingin mendengarkan jawaban apa pun dari ibunya. Ia lekas berlalu untuk menuju kamarnya. Ia tidak siap berbincang dengan Kesya dalam waktu dekat, sebab ia tahu hal itu akan membuat hatinya terluka.


Sedangkan di luar sana Kesya mendengar segalanya dengan baik. Ia mendengar bagaimana Arif benar-benar tidak ingin bertemu dan berbicara dengannya.


"Oh, Nak. Apakah Arif telah berpamitan denganmu?" tanya ibu kandung Arif kepada Kesya. "Dia memang begitu banyak kegiatan akhir-akhir ini. Mungkin itu membuat daya tahan tubuhnya benar-benar tidak baik untuk saat ini."


Kesya mengangguk paham untuk menanggapi pernyataan ibu kandung sahabatnya itu. Ia tahu jika Arif menghindarinya bukan karena sedang tidak enak badan. Namun, ia berusaha untuk menerima perlakuan itu untuk sementara waktu ini, sebelum esok ia akan kembali meminta maaf kepada sahabatnya tersebut.


Keesokan paginya, Farhan telah siap dengan seragam sekolahnya juga dengan senyum yang tersungging manis di bibirnya. Ia disambut oleh jajaran menu sarapan di meja makan, serta ibunya yang telah tampak segar duduk di kursi makan, menunggunya untuk menghabiskan sarapan bersama.


"Sini, Sayang," titah Hawa agar Farhan mengambil duduk di sisinya. "Mulai hari ini dan seterusnya, Ibu yang akan menyiapkan sarapan, Ibu yang akan menyiapkan makan siang dan makan malam. Ibu sudah selesai berduka."


Farhan sangat senang mendengar pernyataan ibunya barusan. Kalimat 'selesai berduka' sontak menjadi angin segar baginya. Biarkan Hamdani tenang di sisi Tuhan, dan biarkan segala kenangannya yang tersisa menjadi abadi sebagai cerita. Kini, Farhan dan Hawa hanya berkewajiban untuk mendoakannya serta meneruskan perjuangannya. Karena melestarikan sedih dan duka atas kepergiannya hanya akan menjadi derita yang tak berkesudahan.


"Terima kasih, Bu. Terima kasih karena telah mengakhiri itu demi Farhan." Farhan tak ingin menjelaskan 'itu' secara terang-terangan, sebab hal tersebut merupakan beberapa hari yang menyesakkan baginya serta ibunya. Biarkan segala yang menyedihkan berlalu dengan cepat, terlupakan dengan tenang, demi keberlangsungan hidup yang baik-baik saja kedepannya.


"Dirimu berhak mendapatkannya, Farhan." Meski tak sepenuhnya duka itu selesai, tetapi setidaknya usaha Hawa untuk menciptakan keadaan yang baik, lambat laun dapat membuatnya berhenti berduka secara utuh tak bersisa. Di mana jika saat itu ia teringat mendiang suaminya, bukan lagi kesedihan yang datang, melainkan kerinduan yang menentramkan hatinya. "Dirimu tidak boleh menderita hanya karena Ibu tak berhasil mengikhlaskan kepergian Bapak. Dirimu harus tetap berjuang atas hidupmu demi Ibu, dan juga Bapak meski dia sudah tiada."


Farhan melihat ibunya lebih tegar sekarang. Ia melihat ibunya telah jauh lebih bijak menghadapi musibah yang menimpanya. Entah apa alasan dibalik itu semua, yang jelas Farhan benar-benar bersyukur atas apa yang didapatinya hari ini.