Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 111



"Aku minta maaf atas segalanya, Nadira. Lagi-lagi karena aku, dirimu harus berada di posisi yang sulit. Sungguh aku tidak bermaksud untuk mengacaukan acaramu dengan Naufal, dan aku pun tidak berniat untuk membuat kerusuhan di rumah ini. Aku telah berusaha menahan diriku sebaik mungkin. Namun-"


"Dirimu terlalu banyak bicara, Farhan," potong Nadira dengan cepat. Gadis itu menyunggingkan senyum simpul untuk menandakan keadaannya yang baik-baik saja meski setelah semua yang terjadi barusan. "Aku tidak menilai dirimu salah. Semua ini terjadi karena aku dan Naufal sama-sama tidak berhasil mengontrol diri."


Sebab faktanya Naufal dan Nadira lah yang baru saja berperang. Pertengkaran alot mereka berhasil menyisihkan Naufal serta pembelaannya terhadap Nadira. Kemudian, ibarat cinta yang bertepuk sebelah tangan, Nadira yang justru berpihak kepada kedua sahabatnya menjadi pemenang. 


"Lagi pula, Naufal memang tidak pantas mengatakan hal buruk kepadamu dan Tina. Kalian berdua tidak melakukan kesalahan apa-apa." Akan tetapi, Nadira tak dapat memungkiri bahwasanya saat ini ia tengah gelisah memikirkan keadaan Naufal dan Fauzan. Apakah keduanya tiba di rumah dalam keadaan baik-baik saja?


"Terima kasih karena telah berada di kubu kami," sahut Tina sembari mengambil duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang diduduki oleh Nadira dan Farhan. "Kami akan benar-benar kecewa andai dirimu membela ketua osis tak beradab itu."


"Aku tidak menyangka jika ternyata dia memiliki sifat yang buruk seperti itu. Melihat dia memegang pimpinan organisasi osis, aku sempat mengira jika selain bertanggung jawab dirinya pun memiliki kebijaksanaan dalam menghadapi macam-macam problematika. Namun, nyatanya dia sama saja dengan remaja seusia kita yang lainnya." Sejenak Farhan menjeda ucapannya. Dirinya dan Tina saling beradu pandang, kemudian. "Saat sedang marah mulutnya tak jauh berbeda dengan Kesya. Setiap kalimatnya begitu menyakiti hati orang yang ditujunya. Jadi, apakah dirimu yakin untuk terus melanjutkan rencana untuk memperalatnya?"


Nadira tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Dia sendiri tidak yakin bahwa hubungannya dengan sang ketua osis akan tetap baik-baik saja setelah apa yang terjadi. "Aku tidak tahu. Aku juga tidak yakin jika setelah yang terjadi barusan, lelaki itu tetap sudi menjadikan aku rekannya."


"Kak, apakah kita masih memiliki harapan untuk bisa bersama-sama lagi dengan Kak Na? Atau jangan-jangan setelah hari ini dia berniat memutus hubungan dengan kita?" Fauzan duduk di sisi ranjangnya dengan perasaan galau. Baru saja dia bersenang-senang dengan Nadira, sudah datang saja masalah yang kali ini terasa lebih mengerikan. 


Sejenak Naufal menghentikan gerak tangannya yang semula tengah mengeringkan rambut adiknya menggunakan handuk. Tatapannya menerawang ke arah cermin di hadapannya, lalu menjawab, "apakah dirimu ingin Kakak berusaha memperbaiki hubungan kita dengannya?"


"Aku berharap Kakak lakukan itu." Karena Fauzan kadung nyaman dengan kedekatannya bersama Nadira.


Naufal bergerak merendahkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah adiknya. Sejenak ia memandang lekat iras pelita hatinya itu sebelum akhirnya mewawas diri, dan menyadari bahwa dirinya telah sangat bersalah karena mengatakan banyak hal buruk yang sengaja ditujukannya kepada Farhan dan Tina. Mengingat sikapnya yang sudah sedemikian keterlaluan, ia tidak yakin bahwa Nadira akan dengan mudah memberikan maaf kepadanya.


"Apa Kakak akan berhasil?" tanya sang ketua osis tersebut lirih.


"Berusahalah dengan keras, Kak. Aku yakin hati Kak Na tidak sekeras batu, sampai-sampai ia akan sulit memaafkan Kakak," jawab Fauzan dengan optimis.