
"Aku sudah melupakan kejadian waktu itu. Tapi terima kasih karena sudah meminta maaf." Naufal menyunggingkan senyum kepada rekannya. "Aku juga meminta hal yang sama. Maafkan aku."
Arif mengangguk saja. Ada hal yang lebih penting menurutnya. "Kesya." Arif hanya menggantungkan ucapannya.
Sangat mudah ditebak. Tidak mungkin Arif akan sangat kacau seperti itu jika masalahnya hanya karena Naufal. Tapi apa maksudnya yang sebenarnya? Bukankah Kesya gadisnya? Lalu apa hubungannya dengan Naufal?
"Beri dia kesempatan. Sedikit waktu saja." Apa Arif sudah menyerah? "Itu artinya hanya sebentar," imbuhnya.
"Untuk apa?" Naufal tidak suka. Topik tentang Kesya sungguh membuatnya muak. 'Gadis manja, dan jahat' itulah cara Naufal menggambarkan Kesya.
"Kamu tahu jika dia sudah menyatakan cintanya padamu." Arif menjeda ucapannya sebentar. Sebenarnya rasanya sangat sakit untuk melanjutkannya, tapi dia harus kuat, demi kebahagiaan gadis yang disayanginya. "Aku tidak memintamu untuk menerimanya, sungguh bukan itu. Tapi setidaknya beri dia ruang, untuk membuatmu jatuh cinta padanya dengan sendirinya."
Sungguh Naufal tidak sudi untuk melakukan hal itu. Sangat rumit baginya, tidak ada untungnya, dan hanya membuang-buang waktu berharganya. Sebenarnya apa yang dipikir oleh Naufal memang realistis. Tapi ini tentang urusan hati, tidak mudah mendapatkan persetujuan atas pemikiran sederhana Naufal.
"Aku yakin kamu tahu apa jawabanku." Naufal tahu, Arif adalah sosok lelaki yang tulus dan setia. Buktinya saat ini, dia rela berusaha mendapatkan hati yang diinginkan oleh gadis yang dicintainya. Walau nanti, hatinya yang akan sakit, raganya yang akan menderita, dan warna hidupnya yang akan kelabu. Arif rela, demi satu tujuan saja, yakni kebahagiaan Kesya. "Tetap mau mendengarkan jawabannya dari mulutku?"
"Katakan saja." Arif bukanlah Kesya. Walaupun nanti jawabannya adalah penolakan, maka hati Arif tidak akan sesakit hati Kesya.
"Kesya sangat kacau karena dirimu, Naufal. Apakah kamu tidak merasa iba?" Arif kira hati Naufal akan sedikit lembut.
"Untuk apa? Iba kepada Kesya?" Naufal tertawa dalam hati, sebab yang dikatakan Arif terdengar konyol di pendengarannya. "Aku tidak iba dengan Kesya, bukankah itu sama sepertimu yang tidak iba terhadap Nadira?"
"Aku tahu. Kumohon maafkan diriku karena hal itu juga." Arif tersadar. "Tapi terlepas dari masalah Nadira waktu itu, apakah kamu bisa memberi kesempatan Kesya untuk berbenah? Dia adalah gadis yang baik, aku yakin dengan itu," imbuhnya meyakinkan Naufal.
"Kalau kamu berniat bersikeras meminta hal aneh itu, maka kamu hanya akan membuang-buang waktu. Aku tidak akan pernah setuju dengan dalih apa pun." Naufal dengan tegas menjelaskan kembali penolakannya.
Arif merasakan senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. Senang karena artinya kesempatannya mendapatkan Kesya masih luas. Namun dia juga merasa sedih sebab yang sesungguhnya Kesya inginkan adalah Naufal, dan Arif tidak berhasil membawa hati Sang Ketua Osis untuk gadis yang amat dicintainya. Arif serba salah, tetapi dia juga sadar bahwa kebahagiaan Kesya adalah yang utama, jadi dirinya harus lebih keras membantu gadisnya mendapatkan Naufal.
"Aku tahu, Naufal. Kamu tidak hanya enggan, tapi kamu lebih tidak sudi membersamai gadis seperti Kesya." Arif rela mengemis. "Pandangan kita jauh berbeda jika perihal Kesya. Tapi cobalah mencari sudut pandang lain, atau setidaknya berpakulah pada satu kebaikan yang pernah Kesya lakukan. Satu saja, pasti kamu mengingatnya." Apakah setelah ini akan berhasil?
"Kamu hanya memikirkan hati Kesya, Arif. Kamu selalu seperti itu hingga mengesampingkan hati orang lain. Apa yang kamu minta itu bukanlah berbentuk benda. Namun, berbentuk perasaan yang jelas tidak kasat mata, akan tetapi kamu harus tahu jika itu lebih sulit, bahkan dapat aku tegaskan lagi jika itu sangat sulit." Naufal berusaha memberikan pemahaman kepada Arif. "Akan ada hatiku yang terlibat nantinya, dan aku tidak mau, tidak akan pernah mau. Karena itu rumit, aku juga-" Naufal tidak melanjutkan ucapannya. Terlihat sulit untuk mengatakannya. Jadi dia memilih diam.