
"Bapakmu meninggal, Farhan." Isak tangis Hawa terdengar sangat pilu. Wanita itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan putranya. Suaminya telah meninggal, tidak lama lagi raganya akan dipendam. "Bapakmu, Farhan." Rasanya masih baru, dukanya masih baru, jadi lumrah saja jika tangisnya kian semakin deras.
Farhan sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Semuanya terlalu terburu-buru, ayahnya baru saja dilarikan ke rumah sakit kemarin, dan petang ini dirinya baru saja tiba di rumah sakit, untuk melihat kondisi ayahnya, untuk mendengar kabar baik tentang kesehatan ayahnya, atau membawa pulang kembali ayahnya. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain, Tuhan mengambil ayahnya, memulangkan ayahnya ke rumah yang sebenarnya, menyedihkan sekali, Farhan sudah menjadi yatim.
Tetesan air mata meluncur dari sudut mata Farhan, lelaki itu menangis. Tidak apa-apa, sebab sejatinya kehilangan tidak pernah menyenangkan, dan kini Farhan sedang berada di posisi itu. "Kita kehilangan Bapak, Bu." Farhan kehilangan pahlawan masa kecilnya, Farhan kehilangan salah satu harapan hidupnya. "Bapak meninggalkan kita, Bapak tega sekali."
Hawa semakin terisak. Mendapati tatapan kosong putranya, hatinya terasa pedih sekali. Sebelumnya Farhan tidak pernah begini, wajahnya tidak pernah sepucat sekarang ini, atau memang dia tidak pernah mendapatkan luka yang sesakit ini. Kenapa harus sekarang? Kenapa kehilangan itu datang sekarang? Hawa dan Farhan belum siap, dan tidak akan pernah siap.
"Farhan, yang sabar, yang ikhlas, yang tabah. Semoga Bapakmu husnul khotimah." Adiyasta tidak tahu bagaimana sulitnya untuk sabar, ikhlas, dan tabah seperti yang diucapkannya. Adiyasta tidak ada di posisi Farhan, maka mengucapkan hal seperti itu rasanya mudah sekali, berbanding terbalik dengan susahnya Farhan melakukannya.
Hawa melerai pelukannya pada tubuh Farhan. Dia harus tahu jika putranya sedang bersedih, Hawa tidak berkabung sendiri. "Yang sabar, Nak." Hanya itu yang bisa Hawa katakan pada putranya.
"Bapak belum boleh pulang sekarang. Bapak belum lihat Farhan jadi sarjana. Bapak seharusnya menunggu lebih lama lagi." Farhan menggenggam tangan Hamdani dengan erat. Akan ada lara yang membersamainya mulai detik ini. "Bu, minta sama Tuhan sekarang. Minta sama Tuhan untuk kembalikan Bapak! Hanya Ibu yang bisa, hanya doa Ibu yang didengar Tuhan. Ayo, Bu!" Farhan memeluk tubuh ibunya, meminta Hawa untuk menuruti permintaannya, Farhan ingin ayahnya kembali.
"Yang sabar, Nak." Hawa mengelus lembut punggung putranya. Farhan akan sulit ditenangkan jika keadaannya seperti ini.
"Tidak bisa, Bu." Farhan menggelengkan kepalanya. "Hei-hei, mau dibawa ke mana Bapakku!" Farhan menarik kembali brankar yang digunakan untuk mengangkut tubuh Hamdani, saat dua orang perawat hendak membawanya pergi.
"Jangan seperti ini, Farhan. Ibu mohon kamu yang sabar, kamu harus ikhlas." Ini sudah takdir, tidak ada siapa pun yang sanggup mengubahnya, kecuali jika Tuhan berkehendak.
"Dua orang itu mau membawa Bapak pergi, Bu." Farhan tidak terkendali, dan hal ini adalah yang pertama kali. "Ayo kita bawa Bapak pulang, sekarang. Kita rawat di rumah saja, di rumah sakit ini tidak ada yang bisa diandalkan." Farhan telah merengkuh tubuh Hamdani. Namun, Hawa segera menghentikan aksi bodoh putranya itu.