Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 85



Di ruang makan yang luas itu hanya tersisa Tama dan Arif berdua. Jangan dikatakan bagaimana perasaan dag-dig-dug Arif saat itu karena berhadapan dengan Tama, seorang Direktur Utama. Rasanya Arif seperti ingin menghilang dari sana, meski dirinya dan Tama sama-sama seorang pria, tetap saja aura mencekam dari Tama tak mudah untuk ia terima.


"Saya tahu perasaan kamu dengan putri saya sangatlah tulus, meski sampai saat ini belum tentu terbalas impas karena sialnya dia justru mencintai ketua osis bajingan itu," ucap Tama membuka suara, dan itu terdengar seperti sebuah kemarahan yang tertahan. "Saya tak kuasa membuat Kesya untuk tidak mencintainya atau berhenti mencintainya walaupun saya ayah kandungnya. Namun, kamu berpotensi mengambil hatinya, mengalihkan haluannya."


"Kesya bicara sama saya sewaktu di sekolah tadi, bahwa dia akan berhenti mencintai ketua osis itu. Dia menyatakan bahwa sudah muak dengan cintanya yang tak kunjung terbalas. Namun, saya belum yakin bahwa Kesya dapat menghapus rasa itu sepenuhnya dengan cepat. Saya tahu bagaimana Kesya begitu cinta mati dengan Naufal," terang Arif dengan sorot matanya yang tenang. "Tetapi saya mau menunggu, saya akan terus menanti sampai Kesya bisa terima saya sepenuhnya. Itu pun, jika Bapak berkenan menerima saya."


Tama tertawa mendengar penuturan Arif yang teramat hati-hati. Dia dapat melihat bagaimana bentuk cinta Arif yang amat sopan meski telah begitu jatuh hati pada sang gadis pujaannya, Kesya. Dia tak bisa untuk tak merasa bangga dengan hal itu. "Jika saya tidak merestui kamu, saya tidak akan undang kamu untuk makan bersama saya di sini, Arif." Jelas Tama akan memberatkan waktunya pada pekerjaannya yang menggunung di kantor daripada meluangkan waktu untuk makan bersama bocah SMA yang sama sekali tak menguntungkannya itu.


"Hai, mengapa makanannya terlihat seperti belum tersentuh? Apakah tidak ada yang berkenan memulai makan terlebih dahulu?" sahut Kesya setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian dengan yang lebih kasual. "Ayolah kita makan!" ajaknya seraya mendaratkan bokongnya pada kursi makan dan lekas menyambar piringnya untuk mengisinya dengan berbagai macam makanan di hadapannya.


Tama tersenyum menatap putrinya yang amat ayu. Dirinya berpikir bahwa anak gadisnya tersebut tak patut untuk mengejar cinta atau bahkan sampai tertolak. Kesya terlalu cantik dan manis untuk disia-siakan. Seharusnya lelaki lah yang mengejar-ngejarnya, bukan sebaliknya.


"Ayo kita makan!" ajak Kesya sekali lagi ketika mendapati dua pria di kanan kirinya itu hanya diam tak menyentuh piring di hadapan mereka. "Ayo, Pa! Ayo, Arif! Apakah harus aku yang menyiapkan makanan kalian?"


"Bagaimana hubunganmu dengan ketua osis sialan itu?" tanya Tama tanpa aling-aling. Ia benar-benar membenci Naufal sampai akar-akarnya. "Apakah dia kembali berulah atau mengancammu?"


Kesya menggelengkan kepalanya. "Kami biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang berarti yang dapat diceritakan, kecuali-"


"Apa?" tanya Tama lagi.


"Ya, tetapi Papa perlu berjanji untuk tidak perlu merasa khawatir berlebihan kepadaku jika aku menceritakan hal ini," ujar Kesya memberi syarat, yang lekas mendapatkan anggukkan kepala dari Tama. "Naufal membantu membopong Kesya ke UKS, karena Kesya pingsan di depan kelas. Namun, sungguh itu tidak apa-apa. Buktinya sekarang Kesya baik-baik saja."


Tama melihat putrinya yang bugar sekarang. Wajahnya cerah, tanpa pucat atau bagaimana-bagaimana. Mungkin saat di sekolah Kesya hanya kelelahan atau kurang fit saja. "Apa dia tulus membantumu?"


Kesya menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak. Dia mana sudi menolong Kesya jika tidak kepepet? Namun, tidak masalah. Kesya tidak begitu memedulikannya sekarang."