
Farhan memandang tak suka ke arah keberadaan Nadira dan Naufal. Interaksi keduanya membuatnya kembali merasa kesal dan hampir meradang. Namun, Farhan tak mungkin meluapkan rasa itu secara terang-terangan atau akan dianggap gila oleh orang-orang di sekelilingnya.
"Hai," sapa Nadira ramah. Wajahnya berseri disertai senyum manisnya yang menghias.
"Hai juga, Nadira," jawab Tina tak kalah ramah.
"Naufal kembali menjemputmu untuk ke sekolah bersama?" tanya Farhan langsung pada intinya. "Jadi, setelah ini kalian akan terus pulang pergi sekolah bersama-sama? Itu terlihat romantis sekali! Atau jangan-jangan dirimu telah menjadi kekasihnya?"
Senyum di wajah Nadira sontak menghilang. Ia mendapati kekesalan Farhan lagi pada pagi itu. "Ada apa denganmu, Farhan? Apakah dirimu masih bermasalah dengan Naufal?"
Farhan lekas bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia menarik lengan Nadira agar mengikuti langkahnya yang entah akan menuju ke mana.
"Farhan, lepaskan. Dirimu mau membawaku ke mana?" tanya Nadira seraya memberontak. Namun, cekalan Farhan yang sebenarnya tak begitu kuat itu pun tak berhasil ia kalahkan.
Hingga pada akhirnya Farhan membawa Nadira di lorong kelas yang sepi dari lalu lalang para siswa dan siswi lainnya. Ia segera melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Nadira berdiri di hadapannya.
"Ada apa denganmu, Farhan?" tanya Nadira lagi.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, Nadira. Ada apa denganmu? Mengapa semudah itu dirimu menerima Naufal untuk bisa sedekat itu denganmu?" Farhan justru balik bertanya. "Apakah dirimu mencintainya? Apakah dirimu menginginkannya sebagai kekasihmu?"
"Kamu harus tahu jika dia menerimamu dengan versi yang saat ini, Nadira. Versi yang membuat siapa pun bersedia berteman dan berada di sisimu sepanjang waktu. Kamu harus ingat jika dulu dia bahkan tidak pernah melirikmu meski berulang kali Kesya merundungmu saat penampilanmu masih begitu culun waktu itu."
Farhan benar. Naufal hadir di sisinya bertepatan ketika ia mengubah penampilannya. Sebelumnya, pria itu tak pernah sudi bersapa dengannya, tak pernah berkenan untuk memandangnya barang sejenak saja. Dahulu, mungkin Nadira tak pernah dianggap ada oleh sang ketua osis. Meski, berkecimpung pada organisasi yang sama, dan Nadira kerap menyampaikan pendapatnya yang pantas dipertimbangkan, setelah semuanya bubar maka Nadira tak lagi mendapatkan perhatian dari siapa-siapa. Faktanya, penampilan begitu kuat menarik atensi dari orang lain. Tak cukup dengan otak yang pintar, dan perilaku yang baik saja, perlu untuk digaris bawahi jika penampilan justru menduduki list teratas untuk dapat dihargai oleh orang lain.
"Dirimu tidak akan pernah benar-benar tahu isi hati dan pikiran orang lain terhadapmu. Dirimu pun tak dapat mengukur ketulusan orang lain terhadapmu." Farhan kembali membuka suara. Kali ini sembari memegang kedua bahu Nadira. "Manusia dapat berubah dengan mudah, dapat berpaling dengan mudah, dan tak ada siapa pun yang dapat memprediksinya. Jangan cepat menilai orang itu memiliki kepribadian yang baik. Dirimu tidak tahu berapa topeng yang ia gunakan untuk menyuguhkan dirinya kepada setiap orang yang berbeda."
Nadira tak dapat berkata-kata. Ia kalah telak dengan ucapan panjang lebar Farhan yang begitu terngiang-ngiang di otaknya.
"Apa dirimu mencintainya? Apa dirimu menginginkannya untuk menjadi kekasihmu? Jika iya, aku akan lebih waspada terhadapnya sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu dilukai olehnya."
Cepat-cepat Nadira menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin Kesya terbakar api cemburu karena aku berhasil dekat dengan Naufal. Aku tahu jika hanya Naufal yang akan membuatnya menderita."
"Dirimu memperalatnya? Apakah kamu siap dengan segala risiko yang ada? Kita tidak akan tahu kedepannya akan seperti apa. Namun, yang pasti segala sesuatu yang berawal buruk-"
"Aku tahu, dan aku berharap apa pun itu, sahabat-sahabatku tidak akan pergi meninggalkan aku," sahut Nadira cepat.