Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 92



"Dengarkan aku, Nadira. Kami berdua, aku dan Tina, telah memberimu kesempatan yang sangat banyak untuk bersama Naufal. Entah itu dirimu gunakan untuk membahas event pameran, maupun hal lainnya." Farhan kembali membuka suara. Ia tidak terima jika dirinya disalahkan karena telah menimbulkan perdebatan di antara dirinya dan Naufal. "Dan sekarang, adalah waktunya kita bersama, menyelesaikan tugas sekolah kita seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Mengingat sebentar lagi ujian akhir semester, dan untuk mendapatkan nilai terbaik di sana kita pun harus memperhatikan nilai tugas sekolah. Jangan korbankan masa depanmu hanya demi bocah kecil itu, Nadira. Jelas itu sangat berlebihan," terangnya.


"Benar apa yang dikatakan oleh Farhan, Nadira. Mendengar dirimu membersamai anak itu kemarin, aku jadi tahu alasan mengapa beberapa tugasmu terbengkalai. Aku mohon, jangan seperti ini, Nadira. Dirimu dengan Naufal tidak memiliki ikatan apa-apa. Kalian tidak perlu sedekat itu, dan memberikan perhatian sebesar itu. Ingatlah visi misi yang telah kita bangun sejak awal. Kita harus berhasil meraih tiga besar juara umum sekolah ketika kelulusan nanti." Tina kini sepaham dengan Farhan. Ia tak lagi menilai lelaki itu aneh sebab ia tahu apa alasan pria itu kesal seharian. "Kalian boleh bersama sewajarnya, atau lebih baik lagi jika hanya sebatas organisasi yang kalian ikuti bersama. Selebihnya, jangan terlalu dekat, karena belum tentu ia akan selalu memberikan pengaruh baik kepadamu"


Nadira sendirian. Hanya dia yang merasa bersalah terhadap Naufal. Hanya dia yang mengkhawatirkan keadaan serta perasaan Fauzan. Gadis itu tak dapat mencerna dengan baik segala penuturan serta nasihat kedua sahabatnya, sebab benak dan batinnya sibuk bergelut dengan sang ketua osis dan adiknya. Ia tak peduli dengan tugas-tugasnya yang urung rampung padahal esok kudu dikumpulkan tepat waktu.


Farhan berjalan mendekat ke arah Nadira. Kemudian ia berjongkok di hadapan gadis itu untuk menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Dengarkan aku, Nadira. Aku tidak akan pernah berniat mendebatkan kedatangannya jika memang ia tahu waktu, tahu kondisi, dan situasi. Dia terkesan terlalu memanfaatkan waktu yang sempit ini untuk berduaan denganmu, atau mungkin bertiga dengan adiknya. Jelas itu benar-benar mengganggu. Toh, dia pun tidak akan bisa membantu nilaimu tetap stabil atau bahkan meningkat, lantas untuk apa dia diberikan tanggapan yang berlebihan?" Farhan menatap sepasang mata Nadira yang telah berkaca-kaca. Ia dapat melihat secara jelas bagaimana sahabat perempuannya tersebut benar-benar mencemaskan Naufal beserta adiknya. "Kecuali jika dirimu mencintainya. Tak heran apabila dirimu meletakkan namanya dalam daftar prioritas teratas."


"Berhenti menyalahkan Farhan, Nadira. Dirimu tidak boleh menyisihkan kami, secara sebelum Naufal datang sebagai teman dekatmu, kami berdua lah yang lebih dulu membangun tempat untuk kita bersatu." Tina takut jika suatu waktu Nadira tak segan berpaling dari dirinya hanya karena keakraban gadis itu dengan sang ketua osis. "Sebaik apa pun penerimaan Naufal terhadapmu, tetaplah kami yang paling sempurna menerimamu sejak sebelum perubahan ini. Untuk itu, solidaritas kami tidak layak dinomorduakan setelah Naufal. Kami terlalu berharga untuk diperlakukan demikian," imbuhnya.