Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 102



"Bunda jangan berkata seperti itu. Tina bersyukur memiliki Bunda di dunia ini. Tolong jangan pernah berpikir jika Tina akan pergi." Tina lekas melerai pelukannya terhadap Dania, kemudian beralih menghapus air mata wanita itu dengan tangan lembutnya. "Maafkan Tina karena selama ini belum menjadi anak yang baik untuk Bunda."


Hadi tak kerasan menyaksikan drama di hadapannya langsung menuju ke arah Tina dan berusaha membawa gadis itu bersamanya dengan menarik tangannya. "Kamu harus ikut Ayah. Di sana kamu akan mendapatkan semuanya, Tina. Kamu memiliki Ayah, Bunda baru, dan juga saudara. Hidupmu akan lebih bahagia di sana."


Dengan kasar Tina melepaskan tangannya dari pegangan Hadi. "Siapa yang akan mendapatkan hidangan lezat dari rumah yang menjijikkan?! Tidak ada! Begitu pun aku yang tidak akan pernah bahagia di rumahmu, Hadi!" tegasnya memekik. "Hidup dan matilah dirimu bersama orang-orang menjijikkan yang telah dirimu pilih! Jangan pernah datang ke sini lagi! Satpam!"


Tak lama setelah itu datanglah dua satpam ke dalam rumah Dania. Dua orang lelaki bertubuh kekar itu dengan sigap menangkap tubuh Hadi dan mengunci gerakan pria itu.


"Berhenti berhubungan dengan kami. Baik itu dengan Bunda, maupun denganku. Oh ya, satu lagi. Aku sudah tidak membutuhkan uang darimu lagi," ucap Tina dengan penuh penekanan. Meski ia merasa keterlaluan karena berkata demikian kepada ayah kandungnya, tetap saja ia tidak terima dengan segala yang telah pria lakukan terhadap dirinya dan ibunya. "Bawa dia pergi!" Kemudian titahnya kepada dua satpam tersebut.


***


Setelah menghabiskan makan siang, Nadira, Naufal, beserta Fauzan kembali mengunjungi dari gerai satu ke gerai yang lain. Fauzan pun tertarik untuk menawarkan kepada Nadira untuk mampir ke gerai aksesori.


"Kak Na dapat membeli apa yang Kakak butuhkan. Fauzan melihat rambut Kakak sangat lebat dan indah, jadi mengapa Kakak tidak membeli sesuatu di sini?" Bocah kecil itu mendorong-dorong tubuh Nadira agar masuk ke dalam gerai aksesori. "Kak Na tidak perlu mengkhawatirkan harga. Biarkan Fauzan yang membayar," imbuhnya dengan gagah.


Namun, sayangnya Nadira menolak. Gadis itu menggelengkan kepalanya karena tidak ingin merepotkan Fauzan maupun Naufal.


Tanpa sadar perlakuan Naufal yang demikian menyuguhkan perasaan tidak karuan dalam diri Nadira. Jantung gadis itu terpompa lebih cepat dari biasanya, wajahnya pun merona merah menandakan ia semakin tak kuasa ketika sang ketua osis berada sangat dekat dengannya.


"Nadira, ayo." Naufal kembali mengajak Nadira ketika mendapati gadis itu diam saja di tempat.


"Kita tidak perlu kemari, aku tidak ingin membeli apa-apa," jawab Nadira.


"Kalau begitu Kakak ingin apa? Tolong katakan kepadaku dan Kak Naufal," ucap Fauzan.


Nadira segera mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Fauzan. "Kakak tidak ingin apa-apa, Sayang. Lagi pula, bukankah kita semua ke sini untuk menemanimu?"


Fauzan menganggukkan kepalanya. "Memang benar, Kak. Namun, aku mengajak Kak Na agar aku dapat mentraktir apa pun yang Kak Na inginkan. Jadi, ayo kita pergi ke gerai aksesori itu. Kita cari apa yang Kakak butuhkan di sana."


Nadira tak sanggup menolak. Fauzan begitu gigih mengajaknya untuk pergi ke gerai aksesori, dan berulang kali meyakinkan bahwa ia memiliki uang untuk membayar apa pun yang Nadira beli di sana. Bocah kecil itu seketika tampak seperti pria dewasa yang tengah menemani kekasihnya berbelanja. Fauzan memang seromantis itu untuk seukuran anak berusia lima tahun.