Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 14



"Papa akan datang besok." Tama mengepalkan kertas edaran tersebut hingga membentuk bola tak beraturan, lalu melemparkannya dengan asal. "Dan kamu akan tetap bersekolah, besok," imbuhnya. 


"Tapi, Pa-" Walau Kesya melihat sorot mata Tama yang tajam, gadis tersebut tetap memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"Tidak ada yang tapi, Kesya! Apa pun masalahmu, biarkan menjadi urusan Papa. Semua ini akan selesai besok, dan yang terpenting adalah, kamu harus rajin belajar kemudian berikan Papa nilai yang terbaik," sela Tama dengan cepat.


Itu bukanlah cara yang tepat! Sungguh Kesya terlalu beruntung jika mendapatkan pemakluman atas perbuatan yang merugikan orang lain. Cara yang ditempuh Tama untuk menyelesaikan masalah 'Skors Dua Minggu' yang dihadapi Kesya, benar-benar salah. Tama menggampangkan semuanya, seolah sesuatu yang tertangkap oleh matanya, dapat dia singkirkan dengan sangat mudah. 


"Terima kasih, Pa." Kesya merasa sangat senang, dan semua itu karena Tama, hanya Tama.


Tama menyunggingkan senyumnya, karena mendapati putrinya bahagia, adalah bagaikan mendapatkan trofi yang membanggakan. Dalam penilaiannya sepihak, membuat Kesya senantiasa riang gembira, adalah bentuk keberhasilannya menjadi sosok orang tua tunggal. Akan tetapi hal tersebut jelas-jelas salah! Perlu ditegaskan kata 'Salah' agar Tama paham jika apa yang dia lakukan telah menciptakan kepribadian menyimpang dalam diri generasi penerusnya. Seharusnya Tama dapat melihat itu. 


"Hanya kamu yang Papa punya, dan tujuan Papa bekerja keras sekarang ini, hanya untuk masa depan kamu." Tama berjalan mendekati putri semata wayangnya. Berlutut di hadapannya, lalu mengelus pipi putrinya dengan lembut. "Shreya ada pada dirimu, Mamamu senantiasa bersamamu, dan Papa tahu betul tentang itu," imbuhnya. 


Kesya merasa hatinya bagai tersayat sembilu, sesaat setelah mendengar ucapan Tama. Kesya dapat melihat kesedihan ayahnya dengan jelas. Tama selalu menyembunyikan sesal kehilangan Shreya dengan sangat apik. Namun kebenarannya, hal tersebut tidak berlaku bagi Kesya. Kala mendapati balkon kamar ayahnya bersama mendiang ibunya tidak pernah kosong di setiap malam, di sana Kesya sering menyaksikan ayahnya menangis terisak. 


"Papa ingin Mamamu bangga, karena melihat putrinya dapat tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sepertimu." Mata yang penuh ketegaran tersebut, kini telah siap menurunkan cairan bening yang kerap ia sembunyikan sebagai saksi kehancuran hidupnya selama ini. Tama tidak benar-benar berhasil dalam menahan nyeri sebab separuh kalbunya yang remuk, dan Tama tidak akan pernah bisa melakukannya. 


"Mama Shreya, beliau sangat beruntung memiliki Papa. Lelaki yang sangat mencintainya dengan tulus," tutur Kesya seraya menghapus air mata yang membasahi pipi Tama. 


"Tidak, Sayang. Sungguh kamu harus tahu, jika yang beruntung di sini adalah Papa." Tama mengelus lembut surai hitam nan lebat milik Kesya. "Mamamu adalah wanita yang paling hebat di dunia ini. Dia menemani Papa sejak PT. Omica Tekstil belum berdiri sebesar sekarang. Mamamu ikut menelan semua asam pahit kehidupannya bersama Papa, akan tetapi saat waktunya fase kehidupan yang manis datang, justru Mamamu pergi," imbuhnya. 


Tama sangat menyesal, sebab janjinya membahagiakan Shreya tidak bisa diwujudkannya. Tama terlambat, terlambat karena tak kunjung membawa Shreya pada dermaga kebahagiaan yang dibangunnya. Walaupun sebenarnya keterlambatan itu tidak ada, sebab Tuhan jauh lebih menyayangi istrinya, hingga membawanya pulang adalah wujud kasih sayang yang tepat. 


Rintik hujan terdengar menuntut awan agar menambahkan tempo hingga menjadi deras. Suasana saat itu sangat menggambarkan keadaan seorang putri dengan ayahnya, sebuah kesedihan yang menguar lalu berujung tangisan, kini alam mengumumkan momen penuh lara tersebut pada dunia. Mengapa alam memupuk kesedihan tersebut dengan menurunkan sebuah hujan? Apakah kurang cukup, deras tangisan tiap malam yang Tama lakukan selama tujuh belas tahun terakhir ini?


"Kamu istirahat ya, Honey," tutur Tama, seraya bangkit dari posisi yang cukup membuat pegal lututnya.  Mengingat postur tubuhnya yang jangkung, dengan tinggi seratus delapan puluh tujuh, berbicara dengan Kesya yang hanya memiliki tinggi badan seratus lima puluh lima, tentu posisi berlutut dengan mendongakkan sedikit kepalanya, akan menjadi cara berbicara yang paling nyaman bagi Tama. 


"Papa tidak memiliki niat untuk pergi ke kantor siang ini, bukan?" Kesya melihat hujan yang semakin mengguyur dengan deras, berharap ayahnya tetap berdiam diri di rumah saja. 


"Papa ada rapat setengah jam lagi, jadi Papa tidak bisa untuk tetap berada di rumah." Tama menyesali sedikit waktu yang dimilikinya bersama putrinya. 


"Hati-hati di jalan, Pa." Mata indah Kesya sebenarnya menenangkan. Gadis tersebut memiliki manik mata coklat terang yang sangat cantik berbingkai bulu mata yang lentik. Sebenarnya sangat menawan, bahkan tidak akan banyak yang mengira jika Kesya ternyata seorang pelaku perundungan di sekolah. Melihat cara dia menatap Tama, memberikan keteduhan, hingga membuat pria tersebut mengingat mendiang istrinya. Sosok Kesya sesungguhnya tidak begitu cocok menempati peran antagonis di sana, akan tetapi bukankah kenyataan tersebut akan menjadi balasan setimpal atas didikan yang Tama berikan? 


"Sayang, kamu tahu Papa sangat menyayangimu, bukan?" Tama menangkup wajah Kesya dengan kedua tangannya hingga membuat gadis tersebut terpaksa mendongakkan wajahnya. "Papa akan selesaikan masalahmu, besok. Akan tetapi kamu harus menuruti satu permintaan Papa, apa kamu bersedia?" imbuhnya. 


Kesya mengangguk merasa sanggup memenuhi keinginan ayahnya. Mengingat sejak masa kecilnya hingga sekarang, dirinya kerap kali merengek kemudian menuntut Tama agar memenuhi keinginannya, Kesya berpikir bahwa dirinya perlu membayarnya dengan memenuhi satu permintaan Tama. 


"Rebut ranking satu di sekolah." Terdengar ambisius, serius, dan sungguh-sungguh. Seperti terselip kebahagiaan besar jika Kesya berhasil mengambilnya, akan tetapi juga tidak dapat disembunyikan sebuah kekecewaan besar jika saja Kesya tidak berhasil meraihnya. "Kamu akan menjadi pewaris tunggal PT. Omica Tekstil, kamu yang akan mengelolanya lalu membuatnya semakin berkembang. Jadi, dengan itu Papa membutuhkan otak yang smart, kamu harus memiliki otak itu, dan Papa sangat memohon untuk itu," imbuhnya


'Sulit' kata tersebut sewajarnya keluar dari mulut Kesya yang hanya memilih bergeming bersama keraguan yang mendekati 'Tidak Mungkin'. Andai Tama dapat melihat takaran kemampuan putrinya, maka keinginan ambisius tersebut tidak akan ia lontarkan pada Kesya. Di ruang makan tersebut mendadak hening sesaat setelah Tama menutup mulutnya lalu memberikan kesempatan bagi Kesya menyatakan kesediaannya. Cukup lama, kesunyian tersebut cukup lama membuat sepasang putri dan ayahnya berkelana dalam benak yang tidak menentu pikirannya. 


"Kesya sanggup!" Kesya bahkan menjawabnya tanpa keraguan. Apakah mungkin gadis tersebut berhasil menunjukkan bentuk nyatanya kelak? Atau jawabannya kali ini hanya semata-mata membuat Tama mendapatkan kesenangan sesaat?