
"Pa." Kesya memegang sebuah amplop di tangannya, dan ia hendak memberikannya pada pria di hadapannya.
"Iya, Honey?" Pria tersebut meletakkan sendok garpu yang dia pegang sebelumnya, dan beralih menatap putri kesayangannya. "Makanannya tidak enak? Atau mau Papa pesankan ayam goreng kesukaan kamu?" Tama, yang merupakan ayah kandung Kesya, memberikan penawaran pada putrinya, hal itu selalu ia lakukan saat melihat Kesya tidak selera menyuap makanan yang disediakan para asisten rumah tangganya.
"Tidak." Kesya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ulu hatinya terasa nyeri, tatkala mendengar perhatian Tama yang begitu menjadikannya sebagai prioritas. Kesya tidak tega mengulurkan amplop di tangannya pada pria yang telah menjadi cinta pertamanya.
"Kamu mau kita makan siang di luar?" Tama selalu menginginkan yang terbaik untuk putrinya, karena hanya Kesya satu-satunya semangat hidupnya.
Kesya besar tanpa adanya figur seorang ibu di dalam hidupnya. Terdengar miris memang, pendidikan akan kasih sayang serta kelembutan, yang dominan seorang anak dapatkan dari ibunya, Kesya terlahir tanpa memiliki kesempatan itu. Ibunya harus kehilangan nyawa, sesaat setelah menghantarkan bayi kecil berjenis kelamin perempuan ke dunia, yang kini telah bertumbuh kembang menjadi sosok seorang Kesya.
Sebenarnya Tama tidak kurang-kurang mencurahkan kasih sayangnya kepada Kesya. Namun kenyataannya, urusan pekerjaan tak sedikit merenggut waktunya untuk menempatkan posisinya sebagai pengganti ibu untuk Kesya. Hingga akhirnya Kesya benar-benar kehilangan sosok seorang ibu dalam hidupnya, tanpa ada yang menggantikannya.
"Kesya hanya mau memberikan ini," tutur Kesya, seraya menyodorkan amplop yang tampak kusut karena sempat dikepal tanpa sengaja.
"Biaya sekolah lagi? Papa tidak menyangka jika sekolahmu gemar mengeluarkan edaran pembayaran, apa kurang suntikan dana yang selama ini diberikan?" protes Tama, sembari menerima amplop yang diberikan putrinya kepadanya.
Kesya gemetar hebat, bahkan kali ini lebih parah daripada saat mendapatkan amarah dari Naufal. Dilihatnya raut wajah Tama telah berubah, menyiratkan amarah, dan Kesya mengkhawatirkan yang akan terjadi setelah tanda-tanda tersebut. Apakah ayahnya akan marah besar lalu mencaci maki dirinya, atau akan memberikan hukuman dengan mencabut segala fasilitas yang selama ini telah dinikmatinya? Semua itu sangat menyeramkan, bahkan Kesya tidak ingin menanggung salah satunya, atau secuil dari bagian tersebut.
"Skors dua minggu." Suara serak berat tersebut terdengar horor bagai raungan genderuwo pada malam Jum'at Kliwon.
Suara tersebut memang benar-benar terdengar menyeramkan. Sebab akan ada konsekuensi yang diberikan pada Kesya, dan gadis itu sungguh tidak ingin menanggungnya. Detik-detik menegangkan saat itu, tanpa sadar telah memupuk semakin subur kebencian Kesya pada Nadira. Apa pun keputusan terakhir dari Tama, Kesya akan membalaskan dendam pada Nadira.
"Siapa yang membuat keputusan bodoh seperti ini?" Tama menatap tajam kepada Kesya. Sungguh jawaban tersebut membuat Kesya terkejut, sebab kata-kata itu berada di luar prediksinya.
'Naufal' seharusnya Kesya menjawab seperti itu, karena memang kebenarannya seperti itu. Saat berada di ruangan kepala sekolah, tatapan intimidasi benar-benar menyudutkannya. Baik Naufal ataupun Kepala Sekolah, senantiasa menatap Kesya seperti seorang buronan yang selama ini berada pada daftar pencarian sepuluh tahun terakhir. Kasusnya yang tidak pernah ditutup, sebab penuntutnya menaruh dendam teramat besar, dan akhirnya berlangsung kelegaan sebab incaran yang selama ini dicari-cari telah ditemukan lalu menyerahkan diri. Lanjut Kilas Balik
"Ikut aku!" Naufal menarik lengan Kesya begitu kuat, sebab gadis tersebut gemar bersembunyi dibalik tubuh Arif.
"Lepaskan Kesya!" Arif meraih lengan Kesya yang bertaut dengan tangan Naufal, sebab aksi tarik-menarik dengan paksa dilakukan oleh Sang Ketua Osis pada Kesya.
"Kamu bisa memintanya dengan baik-baik, bukan? Kesya bisa berjalan seperti biasa, dan menarik tangannya hanya akan menyiksanya," ucap Arif. "Sedikit lebih lembut dengan orang yang kamu pandang salah, tidak akan menjatuhkan reputasimu, Naufal," imbuhnya.
Dengan terpaksa Naufal melepaskan tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk menarik lengan Kesya. Naufal memang emosi, sebab Kesya begitu sulit diajaknya untuk menentukan hukuman dengan baik-baik. Hingga menyeret gadis tersebut, tiba-tiba saja menjadi salah satu solusi yang terlintas dalam benaknya.
"Kamu itu tuli atau bagaimana? Sejak awal aku telah memintanya baik-baik, akan tetapi dia terus menolak dan enggan memenuhi ajakanku," tutur Naufal. "Gadismu yang keras kepala ini, memang pantas diperlakukan kasar jika tidak mempan dengan yang baik-baik," imbuhnya.
Arif menyaksikan itu semua, dia melihat bagaimana penolakan Kesya atas ajakan Naufal menuju ruang Kepala Sekolah. Lelaki tersebut paham dengan ketakutan Kesya, dia mengerti bahwa gadisnya enggan mendapatkan hukuman dalam bentuk apa pun. Namun, saat melihat seseorang berlaku kasar terhadap Kesya, tetap saja membuat Arif tidak suka.
"Kesya dengarkan aku," ucap Arif seraya menangkup wajah Kesya dengan kedua tangannya. "Ikutlah dengan Naufal, apa pun keputusannya nanti, itu tidak akan lebih buruk dari keputusan yang jatuh di atas bentuk penolakanmu seperti ini," ucapnya.
"Tapi, Arif-" Mulut Kesya langsung di tutup dengan jari telunjuk Arif.
"Ikut saja, jangan membuat masalah ini membesar, ya." Arif berusaha membuat Kesya paham dan menuruti ucapannya.
Kesya mengangguk pelan, walau dalam hatinya memberikan geleng kepala yang kuat. Menerima hukuman bukanlah sesuatu yang dapat dia terima sebagai hal wajar atas perbuatannya yang salah. Kesya akan tetap enggan menerima sanksi dalam bentuk apa pun, walau sebenarnya hal tersebut telah menjadi jodoh atas suatu perbuatan buruk yang dilakukannya. Katakan saja Kesya adalah gadis yang egois. Hendak meraup kesenangan sendiri, dengan menghalalkan segala cara. Sebenarnya tidak berhenti sampai di situ keburukannya. Kesya juga sering sekali merasa gatal, jika tidak memiliki target yang menjadi sasaran perundungannya.
"Skors dua minggu." Bapak Kepala Sekolah menegaskan kembali hukuman untuk Kesya, di penghujung kegiatan perundingan.
Ingin rasanya Kesya mengumpat di depan wajah pria tua di hadapannya. Skors dua minggu akan berpengaruh pada materi-materi pelajarannya. Kesya bukanlah gadis jenius yang akan langsung paham kala membaca sebuah catatan. Kesya membutuhkan penjelasan berulang-ulang untuk memudahkan otaknya menangkap maksud dari materi-materi yang disampaikan. Walau setelah memahami segenap kekurangannya dalam bidang akademik, Kesya tetap enggan menerima tawaran bimbingan belajar yang dengan senang hati akan datang ke rumahnya.
"Tidak ada keringanan untuk saya, Pak?" Kesya yang bodoh, dia seharusnya berkaca sebelum menanyakan hal konyol tersebut.
"Apa yang kamu lakukan telah melampaui batas, Kesya. Lagi pula menurut beberapa saksi, kamu sudah melakukan perundungan seperti ini berulang kali." Bapak Kepala Sekolah dengan senang hati menjabarkan kesalahan Kesya.
"Tapi saya tidak mau ketinggalan pelajaran, Pak," keluh Kesya.
"Ini surat undangan untuk kedua orang tua. Saya ingin perwakilan dari kedua orang tuamu datang dan menyetujui hukuman yang saya berikan untuk kamu." Amplop putih yang tipis namun berisi, disodorkan dengan sukarela oleh Kepala Sekolah kepada Kesya. "Saya mau wali kamu datang, dan mendengarkan penjelasan dari keputusan saya memberi kamu skors dua minggu," imbuhnya. Kilas Balik Selesai.