Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 117



Cukup lama Naufal terpaku di tempatnya, di ambang pintu kelas Nadira demi menyaksikan gadis itu yang sedang bersenda gurau dengan kedua sahabatnya. Diam-diam ia berharap sekali saja Nadira menoleh ke arahnya meski tanpa sengaja agar mengetahui keberadaannya. Namun, gadis ayu itu setia dengan posisinya yang membelakangi. 


"Hei, mengapa dirimu diam saja di sini? Aku dan Arif telah menunggumu di ruang osis. Ada yang perlu didiskusikan bersama para anggota inti, termasuk dengan Nadira juga." Wildan datang dengan tujuannya untuk memanggil Nadira agar ikut serta bersamanya ke ruang osis. Akan tetapi, keberadaan Naufal di sana seketika mengalihkan perhatiannya. 


"Oh ya? Kita akan membahas apa?" Naufal benar-benar tidak dapat memusatkan fokusnya pada organisasi ketika benaknya terus-menerus memikirkan hubungannya dengan Nadira.


"Kita harus siapkan panitia untuk mewawancarai para kandidat tim promosi yang rencananya akan dilaksanakan besok. Sejauh ini, aku rasa Arif yang bisa memimpin sebab ia telah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan digunakan untuk menyeleksi para kandidat tersebut. Kemudian, maksud kami untuk mengadakan rapat kecil ini adalah untuk memutakhirkan persiapan agenda besok," terang Wildan panjang lebar. "Jadi, apakah dirimu yang akan mengajak Nadira ke ruang osis, atau aku?"


"Dirimu saja. Aku ada urusan sebentar di kelas." Tanpa menunggu lama Naufal berlalu dari sana setelah mengatakan itu kepada Wildan.


Nadira, Farhan, dan Tina memanfaatkan jam kosong itu dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan mereka saat ini yang tengah mengerjakan soal-soal mata pelajaran sosiologi yang batal dikerjakan kemarin. Kemudian di sela kegiatan yang jenuh dan membuat pening itu mereka sempatkan untuk bercanda serta membahas hal lain di luar pelajaran.


"Apa yang dirimu lakukan sesaat sepulang dari rumahku kemarin?" tanya Nadira tertuju kepada Farhan.


"Apa, ya?" Sejenak Farhan mengusap dagunya untuk mengingat-ingat. "Aku pergi ke rumah Adiyasta untuk membantunya membuat prakarya. Karena itulah aku dapat menumpang motornya untuk datang ke rumahmu pagi tadi."


"Aku akan menyusul, Wildan. Pergilah ke ruang osis terlebih dahulu. Aku harus membereskan buku-bukuku," jawab Nadira.


"Aku akan menunggumu, Ra. Kita akan ke ruang osis bersama-sama." Sesaat setelah mengatakan itu Wildan segera berlalu dari tempatnya untuk menuju luar kelas dan menunggu Nadira di sana.


"Dia siapa?" bisik Farhan setelah memastikan lelaki yang baru saja menghampiri sahabatnya itu hilang dari hadapan.


"Wildan, anak IPA 1," jawab Nadira lugas sembari menata buku-bukunya yang semula berserak di atas meja ke dalam tasnya. "Aku harus pergi ke ruang osis sekarang, dan berdoalah semoga saja mata pelajaran sosiologi tetap kosong sehingga kita dapat melanjutkan seluruh PR kita nanti."


***


Di ruang osis itu telah hadir para pengurus inti organisasi yang di antaranya yaitu Naufal sebagai ketua serta Arif sebagai wakilnya, Wildan sebagai bendahara umum, Nadira sebagai sekretaris umum, dan Kesya sebagai koordinator umum seluruh jajaran sie. Mereka semua duduk mengelilingi meja, kecuali Arif yang pada saat itu telah bersiap dengan papan tulis sebagai media yang nantinya akan digunakannya untuk menyampaikan pesan.