
"Ayo pulang!" Arif berlari menghampiri Kesya yang sejak tadi menunggunya di sisi lapangan. Ia lelah setelah berjam-jam berlatih basket, dan kini memutuskan untuk mengakhiri latihan.
"Sudah? Mengapa cepat sekali?" tanya Kesya polos.
"Cepat apanya, Kesya? Aku sudah hampir tiga jam berlatih sejak tadi, kulitku pun terasa terbakar sekali di bawah terik matahari, dan dirimu katakan ini cepat sekali?" Arif terengah-engah, dan napasnya semakin terasa sesak ketika mendengar apa yang baru saja kekasihnya itu ucapkan. "Aku haus dan lapar sekali sekarang. Ayo kita pergi ke kafe untuk makan dan minum di sana?" ajaknya.
Kesya tersenyum melihat Arif-nya yang tak terbawa emosi meski telah digoda olehnya. Ia tidak menyangka akan menjadikan lelaki itu sebagai kekasihnya setelah dirinya begitu menggebu-gebu menginginkan sang ketua osis menjadi miliknya. Lelaki jangkung di sisinya itu amat memesona sebenarnya. Wajahnya yang tegas nan rupawan itu sudah pasti menjadi idaman banyak wanita andai ia berkenan melihat ke sekitarnya barang sebentar saja.
"Ada apa, Kesya? Mengapa dirimu memandang wajahku terus?" Arif mendadak rendah diri. Ia memegangi seluruh permukaan irasnya dengan panik. "Kulit wajahku sangat gelap, ya? Pasti sangat buruk penampakannya. Apakah aku harus pergi cuci muka terlebih dahulu?"
"Mengapa dirimu merasa seperti itu, Sayang? Aku hanya memandangmu, sudah itu saja." Kesya mengatakannya sembari menahan tawa. Ia baru menyadari bahwa ekspresi panik kekasihnya itu tampak lucu juga.
"Argh, Kesya. Sejak kapan dirimu pandai menggodaku seperti ini? Mengapa juga dirimu memanggilku seperti itu? Ini rasanya mengacaukan. Aku sungguh sangat malu." Arif lantas mengambil tubuh Kesya untuk dipeluknya erat-erat. Ia tidak ingin rona merah di kedua pipinya itu berhasil disaksikan oleh gadisnya, lalu berakhir digoda lagi dan lagi. "Siapa yang mengajarimu menyiksaku seperti ini, ha? Ayo katakan, ayo katakan!"
Kesya hanya terus tertawa di dalam pelukan Arif. Ia merasa menang karena berhasil membuat lelakinya itu salah tingkah. "Sudahlah, Arif. Tolong hentikan ini. Apakah dirimu tidak sadar jika keringatmu bau sekali?" keluh gadis itu di sela-sela tawanya.
"Hmmm bau, ya? Bau? Kalau begitu ayo cium terus! Aku akan membuatmu pingsan dengan aroma keringatku, ha-ha-ha." Arif meniru tawa khas raksasa di film-film kolosal.
Kesya semakin dibuat tertawa dengan ulah Arif semakin ada-ada saja. Setelah memeluk, lelaki itu beralih mengangkat tubuh Kesya, berputar-putar sembari dibopongnya badan gadis itu, lalu bersandiwara seolah-olah hendak menjatuhkannya ke bawah.
"Kalau begitu ayo kita pergi makan!"
"Ayo!"
***
Naufal telah mengantar Nadira sampai di rumah. Agenda jalan-jalan mereka bertiga berlangsung seru sekali, dan Fauzan buru-buru merencanakan kegiatan yang sama di lain hari lagi.
"Boleh saja, Sayang. Namun, di lain waktu biarkan Kak Na yang mentraktir Fauzan, ya?" Nadira merasa sangat dimanjakan seharian. Fauzan tak cukup membelikannya aksesoris kalung dan bando saja, melainkan juga bedak, pelembab bibir, dan beberapa produk perawatan lainnya. Ia pun sempat berpikir dari mana bocah kecil itu memiliki banyak uang, hingga tak keberatan mentraktirnya macam-macam.
"Tidak." Fauzan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak ingin Kak Na berganti mentraktirku, atau nanti akan terlihat seperti membayar hutang saja," jawabnya.
Nadira tidak bisa untuk tidak terkejut mendengar hal tersebut. Fauzan yang pintarnya luar biasa itu ternyata sudah memahami banyak hal yang umumnya belum mampu dikuasai anak-anak seusianya. "Hai, siapa yang mengatakan seperti itu? Mentraktir adalah kegiatan untuk menjalin hubungan yang dekat. Jika Fauzan telah mentraktir Kak Na, berarti Fauzan telah membuat kedekatan itu, dan akan menjadi lebih dekat lagi apabila Kak Na bergantian mentraktir Fauzan. Bagaimana?"
Dengan ringannya Fauzan beralih menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu Kak Na harus segera mentraktirku besok. Kita harus membuat hubungan ini semakin dekat, karena Fauzan tidak ingin kehilangan Kak Na."